Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2013

PT 01- HUBUNGAN ANTARA KADAR P DALAM CAIRAN TANAMAN DENGAN


HUBUNGAN ANTARA KADAR P DALAM CAIRAN TANAMAN DENGAN PERTUMBUHAN,PRODUKSI DAN SERAPAN N,P, K, Ca SERTA Mg TANAMAN JAGUNG ( Zea Mays L.)

PENDAHULUAN

Penelitian dalam kesuburan tanah umumnya mencakup aspek kimia, fisika, dan biologi dori sistem tanah air, tanaman dan udara. Program-program kesuburan tanah merupakan bagian integral dari program peningkatan produksi ta­naman yang sangat berperan bagi keberhasilan usaha pertanian. Secara luas ada dua bidang penelitian kesuburan tanah, yaitu (1) deteksi keracunan dan defisiensi unsur hara serta (2) koreksi keracunan dan defisiensi hara tersebut.
Defisiensi dan keracunan suatu unsur hara esensial dalam jaringan tanaman sering menjadi salah satu penyebab terjadinya kegagalan produksi pertanian. Analisis tanah dan analisis tanaman merupakan salah satu metode evaluasi status hara yang sangat berperan dalam mendeteksi keracunan dan defisiensi unsur hara secara dini.
Analisis tanaman semakin meningkat peranannya dalam perkembangan teknologi ekonomi produksi pertanian. Secara garis besar ada dua jenis analisis tanaman, yaitu (1) analisis total atau kuantitatif dan (2) semi kuantitatif atau analisis cepat jaringan tanaman. Masing-masing dapat digunakan pada berbagai tahap pertumbuhan tanaman dan pada bermacam bagian tanaman. Analisis tanaman bertitik tolak pada anggapan bahwa jumlah unsur-unsur hara dalam tanarnan merupakan petunjuk suplai hara dan berhubungan langsun dengan jumlah hara tersedia dalam tanah.
Analisis cepat jaringan tanaman secara kimia bersifat kualitatif atau semi kuantitatif yang biasanya dilakukan di lapang untuk menduga status hara tanaman pada saat pertumbuhannya. Analisis semi kuantitatif jaringan tanaman ini hanya mengukur kadar unsur hara yang terlarut dalam cairan jaringan tanaman yang belum diasimilasikan. Unsur-unsur hara tersebut masih dalam proses perjalanan untuk dipergunakan dalam tubuh tanaman (Nelson, 1956; Jackson, 1958, Aldrich, 1973; Tisdale, Beaton dan Nelson, 1985)
Analisis cepat jaringan tanaman ini berdasarkan pada metode pembandingan warna (colorimetric) antara warna yang terbentuk dari cairan ekstrak tanaman dengan kartu warna standar yang telah dikoreksi dengan respon tanaman untuk menilai status hara tanaman (Jones dan Eck, 1973; Jackson, 1958).
Analisis cepat jaringan tanaman sangat terkenal karena penanganannya mudah dan.alat-alat yang diperlukan hanya sedikit dan sederhana. Menurut Nelson (1956) beberapa keuntungan analisis semi kuantitatif adalah : (1) analisis ini tidak mahal dan dapat secara cepat dilakukan di lapang dan (2) unsur hara yang terukur bukanlah merupakan bentuk-bentuk rumit seLingga merupaka petunjuk yang baik untuk pengukuran status hara tanaman pada saat pertumbuhannya.
Menurut Tisdale et al. (1985) analisis cepat jaringan tanaman secara luas ditujukan untuk :
(1)     Membantu dalam penetapan kemampuan tanah dalam mensuplai unsur hara, ditunjang dengan analisis tanah dan sejarah pengelolaannya.
(2)     Membantu mengidentifikasi gejala defisiensi dan yang lebih penting untuk mendeteksi keadaan hara selama masa pertumbuhan tanaman (hidden hunger)
(3)     Membantu menentukan pengaruh perlakuan pupuk terhadap suplai hara dalam tanah
(4)     Mempelajari hubungan antara status hara tanaman dan kenampakan atau produksi
(5)     Meneliti lahan yang luas.
(6)     Lebih menarik minat para peneliti terhadap program analisis tanaman darn tanah.
Dengan melihat kegunaan dan kelebihan analisis cepat jaringan tanaman, maka metode praktis ini perlu dikembangkan lebih jauh. Analisis jaringan tanaman ini perlu diinterpretasikan dalam satuan-satuan yang lebih bersifat kuantitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan teknik penetapan unsur P dalam cairan tanaman secara semi kuantitatif dan kuantitatif untuk uji cepat di lapang. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk melihat hubungan antara kadar P dalam cairan tanaman dengan pertumbuhan, produksi, dan serapan N, P, K, Ca, serta Mg tanaman jagung (Zea ma s L.).

DAFTAR PUSTAKA

Aldrich, S. R. 1973. Plant analysis : Problem and opportunities. p 213 - 221. In, L. M. Walsh and J. D. Beaton (ed). Soil Testing and Plant Analysis. Soil Sci. Soc. Am., Inc., Madison, Wisconsin.

 ______ ., W. 0. Scott, and E. R. Leng. 1975. Modern Corn Production, 2 nd ed. A and L Publications. Illionis.

Black, C. A. 1964. Soil Plant Relationship. John Wiley & Sons. Inc., New York.

Clark, R. a, 1975. Mineral element concentrations of corn plant parts with age. Commun. In Soil Sci, and Plant Analysis. 6(4): 451 - 464.

Chapman, H, D. 1975. Diagnostic Criteria for Plants and Soils. Eurasia Publising House (p) LTD. Ram Negar, New Delhi.

Epstein, E, 1972, Mineral Nutrition of Plant. : Principles and Perspectives. John Willey and Sons, Inc., New York.

Fathan, R,, M. Rahardjo, dan A. K. Makarim. 1988. Hara tanaman jagung, p 67 - 80. In Subandi„ M, Syam, dan A. Wijono (ed), Jagung. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Bogor, Bogor.

Graham, R, D. 1975. Plant analysis as method of determining , fertilizer needs, p 60 - 67. JU- M. J. T', Norman (ed). The Agronomy of Annual Crops. Dai Nippon Print. C, (H. K.) LTD; Hongkong.

Hanway, J. Hi. 1963. Growth stages of Corn (Zea pavs_L.) Agronomy Journal. 8 : 487 - 491,

,______ . 1966, Corn Plant. Iowa State Univ, Goop Ext. Serv. Spec. Rep. 48,

Jackson, M. L. 1958. Soil Chemical Analysis. Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs, N. J.

Jones, J. B, and H. V. Eck. 1973Plant analysis as an, aid in fertilizing corn and grain sorghum, p 349 - 364. In L. M. Walsh and J. D. Beaton (ed), Soil Testing and Plant Analysis. Soil Sci. Am., Inc., Madison, Wisconsin.

Koswara, J. 1982. Jagung. Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Leiwakabessy, F. M, dan 0. Koswara, 1985. Metode dan Teknik Pengumpulan, Analisis dan Interpretasi Data Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

 ______ . 1988. Diktat Kuliah Kesuburan Tanah, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Millar, C. E., L. M. Turk, and H. D. Foth. 1958. Funda­mental of Soil Science. 3th ed. John Willey and Sons, Inc., New York.

Munson, R. D, and W. R, Nelson. 1973. Principles and practices in plant analysis, p 223 - 248, In L. M. Walsh and J, D. Beaton (ed). Soil Testing and Plant Analysis. Soil Sci, Soc. Am., Inc., Madison, Wisconsin.

Nelson, L. B. 1956. The mineral nutrition of corn as related to its growth;.-and culture. In  A. G, Norman (ed), Advanced in Agronomy VII : 321 - 368. Academic Press Inc., New York.

Russell, E. W. 1961. Soil Conditions and Plant, Growth. 9th ed. The English Language and Book Soc., Longmans, Green and Go. LTD., London:

Rajan,, S, V. G, and H;, G. G, Rao. 1971. Soil and Crop Productivity. P. S. Jayasinghe, Asia Publishing House, Bombay.

Salisbury, F. B, and C. Ross. 1969. Plant Physiology, Wadswoth Publishing.Co,, Inc., Belmont, California.

Scarseth, G, D. 1943 Plant tissue testing in diagnosis of the nutritional status of growing plants. Soil sci, 55 : 113 = 120.

Soepardi, G. 1983, Sifat dan Giri Tanah. Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian, IPB, Bogor.

Tisdale, S. L., W. L. Nelson, and J. D. Beaton. 1985. Soil Fertility and Fertilizers. 4th ed. Macmillan Publishing Co., New York.


Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700




PT 11 - MEMPELAJARI ASPEK TEKNOIOGI PANGAN DI KELURAHAN


MEMPELAJARI ASPEK TEKNOIOGI PANGAN
DI KELURAHAN BANTARJATI
KECAMATAN BOGOR UTARA

BAB  I.
PENDAHULUAN

Kuliah Kerja Nyata atau KKN adalah salah satu bentuk pengintegrasian kegiatan antara pengabdian kepada masyara­kat„ pendidikan dan penelitiarn yang terutama dilaksanakan oleh mahasiswa dengan bimbingan dosen perguruan tinggi dan pimpinan pemerintahan daerah, dilaksanakan secara inter­disipliner dan intrakurikuler.
Landasan pemikiran pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) oleh perguruan tingi tidak terlepas dari falsafah yang diamanatkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dalam penjabaran lebih lanjut KKN merupakan bagian dari kebijaksanaan dan kegiatan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan khususnya Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi.
Pengembangan Program KKN bertitik tolak pada landasan pemikiran bahwa Institut Pertanian Bogor merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Indonesia.
Program KKN yang sesuai dengan kebutuhan perguruan tingi dan relevan dengan pembangunan serta bermanfaat bagi masyarakat menuntut adanya peningkatan profesionalisme dalam melaksanakan kegiatannya. Pelaksanaan program ini dilakukan dalam bentuk pengamalan pengetahuan mahasiswa dan latihan kerja mengenai berbagai aspek yang bersangkutan dengan program studi.
Berdasarkan SK Rektor IPB no. 075/Um/85, KKN IPB 1988/1989 lebih ditekankan pada penerapan kemampuan bidang profesi, yang lebih dikenal denqan nama KKN Profesi, dan meliputi kegiatan profesi bidang keahlian dan kegiatan umun.
Pelaksanaan program KKN Institut Pertanian Bogor untuk mahasiswa tingkat III Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi tahun ajaran 1988/1989 diadakan di 2 kota yaitu Kotamadya Bogor dan Kabupaten Cianjur. Untuk Kotamadya Bogor diadakan di Kelurahan Bantarjati, Kelurahan Lebak Pasar, Kelurahan Bondongan, Kelurahan Gudang, Kelurahan Batutulis dan Kelurahan Tegallega.
Industri kecil yang berkembang di Kotamadya Bogor antara lain adalah industri tahu, tempe di Kelurahan Bantarjati, Tegallega, Batutulis, dan Bondongan. Oncom di Kelurahan Bantarjati. Emping jengkol di Kelurahan Lebak Pasar, dan kue basah di Kelurahan Gudang dan Bondongan. Pelaksanaan KKN Profesi dilakukan dengan cara melakukan wawancara dengan para pengrajin, mencatat data-data yang diperlukan serta mengamati cara kerja pengrajin. Selama KKN ini, mahasiswa memperoleh bantuan dari Bappeda, Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan, Dinas Koperasi, Lapel, dan Dinas Perikanan.
Pelaksanaan KKN Profesi ini bertujuan untuk mempelajari ketrampilan para pengrajin serta mengembangkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan mahasiswa sesuai dengan bidang profesi yang dijalaninya. Mahasiswa juga diharapkan dapat membantu dalam memecahkan masalah yang timbul dalam industri kecil pangan ini, sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah.
Kegiatan KKN TPG-IPB 1988/1989 ini dilaksanakan dari tanggal 10 Juli 1989 - 10 September 1989, di Kelurahan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, Kotamadya Bogor.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1980. Profil Industri Kecil. Direktorat Jendral Industri Kecil.

Dwiari, S.R. 1985. Pengaruh Berbagai Macam Bahan Pengawet Terhadap Daya Simpan Tahu. Fakultas Pertanian, Universitas Jambi.

Eckles, C.H., W.B. Combs dan H. Macy. 1951. Milk and Milk Product. Mc Graw Hill, Inc., New York.

Ko Wan Djien dan Hasseltine. 1961. Indonesian fermented foods. Soybean Digest, 22:1.

Shurtleff, W. dan Aoyagi. 1976. The Book of Tempeh, A Super Soy Food from Indonesia. Harper dan Row. New York.

Shurtleff, W. dan Aoyagi. 1979. Tofu and Soymilk Production. New Age Food Study Center, Lafayette.

Sudarmaji, S. dan P. Markakis. 1977. The phytate and phytase of soybean tempeh, J. Sci. Food Agric. 28:38.

Suliantari. 1982. Pengolahan Tempe, Tauco, dan Oncom. Kumpulan Paper Bahan Pangan Terfermentasi. Pusbangtepa, IPB, Bogor.

Van Veen, A.G., D.C.W. Grafien dan K.H. Steinkraus. 1968. Fermented peanut press cake. Cereal Sci. Today 13:96.

Winarno, F.G. 1984. Critical Review on Tempeh. Pusbangtepa, IPB, Bogor.


Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700




PT 02- FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI


ANALISIS EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN
FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI KUBIS
DI KABUPATEN TEGAL

BAB I.
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Dalam program intensifikasi tanaman holtikultura, kubis merupakan salah satu komoditi prioritas yang akan dikembangkan di dataran tinggi dan di beberapa dataran rendah. Hal ini merupakan langkah konkret dalam mengantisipasi masalah pangan di Indonesia. Dibandingkan dengan sayur-sayuran di dataran tinggi lain, maka dalam tahun-tahun terakhir kubis menduduki urutan pertama dalarn luas areal panennya. Peningkatan luas areal panen dimaksudkan untuk meningkatkan produksi guna memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk, peningkatan pendapatan dan secara ekonomi juga menguntungkan (Anggoro,l993).
Dalam usahatani sayuran pada umumnya dan kubis pada khususnya mengalami masa kejayaan clan masa-masa prihatin, dikatakan jaya karena penerimaan usahatani lebih tinggi dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan, sedangkan dikatakan prihatin karena biaya yang dikeluarkan lebih tinggi daripada penerimaan usahataninya. Petani tetap bertahan untuk menanam kubis clan ticlak berputus-asa. Mereka tetap beranggapan suatu saat usahatani tersebut akan memberikan pendapatan yang tinggi. Beberapa faktor lain mengapa petani tetap menanam kubis ialah mudahnya sayuran ini dipasarkan dan memberikan keuntungan yang cukup besar serta merupakan kebiasaan yang turun-temurun.
Pembangunan pertanian tanaman pangan terus ditingkatkan untuk memelihara kemantapan swasembada pangan, meningkatkan pendapatan masyarakat dan perbaikan gizi melalui penganekaragaman jenis bahan pangan. Peningkatan produksi tanaman pangan di Kabupaten Tegal dilaksanakan antara lain ; peningkatan produktivitas usahatani, meningkatkan pernanfaatan lahan kering dan pekarangan yang makin memadai. Produksi tanaman sayuran yang menonjol di Kabupaten Tegal adalah tanarnan bawang merah, bawang putih dan kubis (Dinas Pertanian Kabupaten Tega1,1998).
Pada umumnya di dalam mengusahakan usahatani, petani hanya melihat dari besarnya produksi dan penernnaan yang diperoleh dari usahataninya tanpa melihat keterkaitan masukan dan keluaran untuk mendapatkan keuntungan maksimal.
Kemampuan proses produksi yang efisien merupakan 'pijakan utama bagi kelangsungan suatu usahatani. Apabila efisiensi usahatani tercapai maka petani dapat memperoleh keuntungan maksimum dalam usahataninya. Keuntungan maksimum akan tercapai bila penggunaan faktor-faktor produksi dalam kondisi optimal.

B.      Perumusan Masalah
Petani dalam berproduksi mempunyai dan menghadapi sumber daya yang terbatas yang dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan usahataninya. Dengan demikian petani sebagai pengambil keputusan dihadapkan pada pemilihan yang erbaik dari penggunaan sumberdaya tersebut dan dapat mengalokasikan faktor-faktor roduksi seefisien mungkin agar dapat memberikan keuntungan yang maksimum.
Cerahnya prospek usahatani kubis di Kabupaten Tegal yang diiringi meningkatan produksi serta ketidakputus-asaan petani dalam menghadapi masalah pada usahataninya mendorong minat peneliti untuk mengkaji apakah petani kubis sudah menggunakan faktor-faktor produksi secara etisien atau belum dalam mencapai usahatani kubis yang menguntungkan ?

C.      Tujuan Penelitian
1.       Mengkaji besarnya biaya, penerimaan dan keuntungan dari usahatani kubis.
2.       Mengkaji besarnya pengaruh dari faktor-faktor produksi yang digunakan terhadap produksi kubis
3.       Mengkaji apakah kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani kubis telah mencapai tingkat etisiensi ekonomi yang tertinggi.

D.      Kegunaan Penelitian
1.       Bagi peneliti sebagai persyaratan untuk menyelesaikan studi di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2.       Bagi pemerintah diharapkan dapat menjadi sumbangan pernikiran ataupun sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kebijaksanaan pertanian di masa yang akan datang.
3.       Bagi pembaca hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pustaka.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1997. .Iurnal Holtikultura. Badan dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Holtikultura. Jakarta. Indonesia.

Bishop, C. E dan W.D. Toussaint, 1979. Pengantar Analisis Ekonomi Pertanian. Mutiara Jakarta.

Faisal, S, 1999. Format format Penelitian Sosial. PT Raja Grafindo Persada Jakarta

Gujarati,D dan Zain, S, 1995. Ekonometrika Dasar. Erlanga. Jakarta. Hemanto,

F, 1993. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta.

Mubyarto, 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta '

Nawawi, H.H dan Martini H.M, 1996. Penelitian Terapan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Prasetya, P, 1996. Ilmu Usahatani II. UNS Press. Surakarta.

Permadi, A.H. dan Sudarwohadi, S, 1993. Kubis. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.Balai Pertanian Holtikultura Lembang

Singarimbun, M dan Effendi, 5.1989. Metode Penelitian Survei. LP3ES. Jakarta.

Soekartawi, 1990. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglass. CV Rajawali. Jakarta.

 ______ , 1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian Teori dan Aplikasinya. CV. Rajawali. Jakarta.

Supranto, S,1995. Ekonometrika Buku Satu. Lembaga Penerbit FE UL. Jakarta. 

______ , 1995. Ekonometrika Buku Dua. Lembaga Penerbit FE UL Jakarta

Yunandari,B. 1998. Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor faktor Produksi Pada Usahatani Kubis di Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Skripsi S-1 Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta,.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700




PT 42 - PENGARUH PROPORSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP P


PENGARUH PROPORSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PERFORMAN PRODUKSI BURUNG PUYUH

Bab I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Burung puyuh dikembangkan di negara-negaraa maju sebagsu hewan pereobaaa dan hewan penghasil daging dan telur. Pam peternak di Indonesia biasanya memelihara burung puyuh jenis Coturnix coturnix japonica.
Burung puyuh tersebut merupakan penghasil telur yang produktif: Menurut Listiyowati dan Roospitasari (2000) produksi telurnya dalam setahun dapat mencapai 250 - 300 butir/ekor.
Burung puyuh pada saat dewasa tubuh pada umur 50 hari mempunysi bobot badan 150 grannlekor dan bobot telur 10 gram/butir. Bobot telur tersebut mencapai 7% dari bobot badannya, sedangkan pada ayam dan kalkun masing-masing 3% dan 1% (Shanawany, 1994). Menucut Riyanto (1986) konsumsi pakan setiap harinya rata-rata 20 gram/ekor. Hal tersebut menunjukkan bahwa buntng puyuh dapat menggunakan pakannya secara efisien.
Pemeliharaan burung puyuh yang baik dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan produksi telurnya (Soedirdjoalmodjo, 1981). Saiah satu faktor yang mempengaiuhi pemeliharaan tersebut adalah manajemen pemberian pakan. Menurut Rasyaf (1994) metode pemberian pakan dapat mempengatuhi performan ternak tersebut. Menurut Rahardja (1983) burung puyuh pada masa starter diberi pakan secara ad libitum. Metode pemberian pakan diubah menjadi 2 kali sehari setelah dipindahkan ke kandang petelur yaitu pada pagi hsri dan siang hari. Kebutuhan pakan bunmg puyuh tersebut pada pagi dan sore hari berbeda, sehingga proporsi pemberian pakannya perlu diperhatikan.
Menurut Saleh (2000) pada pagi hail kebutuhan pakan pada ternak unggas akan meningket karena temboloknya kosong. Kekosongan tembolok 'tersebut disebabkan tidak adanya aktifitas makan sepanjang malam sebelumnya. Namun hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian lampu pada kandang. Keberadaan cahaya dapat meningkatkan konsumsi pakan pada temak unggas.
Menuuut Anggorodi (1984) pada siang hail konsumsi pakan temak unggas akan menurun. Penunman tersebut disebabkan suhu linglnuigan yang cukup tinggi. Tindakan tersebut bertujuan untuk menguaugi produksi panas dan dalam tubuh ternak unggas tersebut.
Menurut Saleh (2000) pada sore hail kebutuhan pakan temak unggas akan kembali meningkat. Peningkatan tersebut untuk menghindari kekurangan makanann sepanjang malam hari dan untuk memenuhi kebutuhan nufirien pada seat proses peneluran. Ovulasi burung puyuh tsrjadi pada sore hail dan oviposisi terjadih setelah 24 jam berikutnya. Ini beratti telur burung puyuh akan keluar sore hari berikutnya (Shanawany, 1994).
Perbedaan kebutuhan pakan gada burung puyuh tersebufit membuat peneliti terfarik tmiuk mengadakan penelitian mengenai pengaruh proporsi pemberiau pakan terhadap performan produksi buung puyuh.
B.      Rumusan Masalah
Manajemen pemeliharaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perfortnan bunuig puyuh Manajemen pemeliharaan salah satunya ialah metode pemberian pakan. Pemberian pakan dapat dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pagi dan siang hari.
Konsumsi pakan biuung guyuh pada pagi dan sore ban berbeda, karena aktifitasnya pun berbeda. Pada pagi han konsumsi pakann bunmg puyuh sedikit karena pada malam hari di dalam kandang diberi lampu. Adanya lampu tersebut memudahkan bunmg puyuh untuk makan pada madam hari. Pada siang hari nafsu makan bunmg puyuh dapat menurun karena suhu lingkungan yang tinggi. Pada sore hari burung puyuh mempersiapkan diri untuk bertelur, sehingga membutuhkan energi yang cukup besar. Pemberian pakan yang lebih besar pada sore hati daripada pagi han diharapkan mampu untuk meningkatkan perfotman produksi burung puyuh.
Berdasarkan hal tersebut maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian apakah proporsi pemberian pakan dapat berpengaruh terhadap performan produksi bunmg puyuh.

C.      Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1.       Mengetahui pengaruh proporsi pemberian pakan terhadap performan produksi burung puyuh.
2.       Mengetahui proporsi pemberian pakan yang ideal untuk bunmg puyuh.
DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1984 Ilmu Makanan Ternak Umum. Edisi ke-2. PT. Gramedia, Jakarta.

Aryogi. 1993. Penghematan Pakan Ayam. Ayrnn dan Telur. 84 (2) : 30.

Azis, A. dan A. Insulistyowati. 2001. Pengaruh Pengaturan Waktu Makan Dengan Program Pemberian Ransum Secara Berselang Terhadap Profil Sel-sel Leukosit Ayam Broiler. Jurnal lbniah Ibnu-ilmu Peternakan. 4(2) : 77 - 87.

Cunningham, D. L. dan S. J. Polte. 1984. Production and Income Performance of White Leghorn Layers Feed Restericted at Various Stage and Production. Pouttry Sci. 63: 38 - 44.

Etches, R. J. 1996. Reproduction in Poultry. Departement of Animal and Poultry Science University of Guelp, Guelp.

Kusumah, N. 1987. Telur Puyuh Baik Untuk Orang Berdiet Kholesteml. Ayam dan Tekcr. 14 (4) : 22 - 23.

Listiyowati, E. dan K. Roospitasari. 2000. Fuyuh Tata Laksana Budiduyia Secara Komersial Penebar Swadaya, Jakarta.

Mugiyono, S. 2000. Pengaruh Pembatasan Brooder Terhadap Performan Ayam
Broiler. Majalah Ilmiah Unfversitas Jendral Soedfiman. 26 (1): 33 - 40.

National Research Council. 1994. Nutrient Requairement of Poultry. 9thed. National Academic Press, Washington D. C.

North, M. O. 1984. Commercial Chicken Production Manual 3thed. The Avi Publishing Co. Ina Wesport, Connecticut

Nugraha, C. 1985. Beberapa Hal Yang Hams p Atikan Oleh peternak Puyuh. Ayam dan Telur. 7(7) -.18 - 19.

Nugroho dan I. G. K. Mayun. 1981. Beternak Burung Puyuh (Quail). Eka Offset, Semarang.

Pandelala, S. Tristiati, Sunarso dan W. Sarengat. 1982. Pengaruh Beberapa Tingratan Energi Pada Protein Yang Sama Dalam Ransum Terhadap Pertambahau Berat Bada Pada Periode Starter, Awal Peneluran Dan Produksi Telur Pada Burung Puyuh (Coturnix coturnix japonica). Frocedings Seminar Penelitian Peternakan di Cisaruq Bogor, 8 – 11

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700



PT 25- ANALISIS KEMITRAAN ANTARA MISI TEKNIK


ANALISIS KEMITRAAN ANTARA
 MISI TEKNIK TAIWAN-INDONESIA (TTM)
DENGAN PETANI ASPARAGUS (Asparagus officinalis)
KABUPATEN BOYOLALI

Bab I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I tahun 2007 yang diukur dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat sebesar 2 % dibanding triwulan IV tahun 2006, Pertumbuhan ini terjadi pada sektor pertanian, listrik-gas-air bersih, perdagangan, hotel dan restoran, keuangan, real estate, jasa perusahaan dan Sektor jasa-jasa. Pertumbuhaan ekonomi tertinggi pada sektor pertanian sebesar 16, 8% sebagai akibat faktor musim panen pada triwulan 1. (Anonim, 2007). Pembangunan ekonomi nasional nasib menekankan pada sektor pertanian, sehingga sektor pertanian di Indonesia sekarang ini atau masa vang akatl datang diminta untuk meningkatkan penampilannya, bukan saja disisi produksi dan kualitas namun  juga tersedia setiap saat sehingga sektor pertaniarr mampu berkompetisi dengan produk pertanian senrpa yang diproduksi luar negeri ( Soekartawi, 2003).
Untuk menjamin keberlanjutan pembangunan nasional diperlukan suatu sistem pertanian yang bersifat menyeluruh mulai dan proses produlai, pengolahan hasil dari pemasarannya. Permasalah yang sering timbul dan menjadi kendala bagi petani yang mencoba untuk bertani secara kornersial adalah pemasaran. Komoditas yang bernilai ekonomi tinggi menjadi prioritas utama, tetapi perlu dipertitnbangkan hal-hal yang berhubungan dengan pemasaran. Sebab, mungkin terjadi komoditas ekonomis dalam produksi, tetapi tidak tepat untuk daerah produksi dan wilayah pemasaran yang tepat (Said, E. G dan Intan A. H, 2001). Tidak adanya jaminan terhadap pemasaran maka petani hanya akatl membudidayakan tanaman komoditas pertanian tertentu saja, yang sudah dilaksanakan secara turun temurun. Keinginan untuk menanarn komoditas baru yang nilai ekonrnninya terbukti lebih tinggi hanya ada dalam angan - angan saja.
Pembangunan pertanian masa lalu dilakukan secara terpisah dengan pembangunan industri dan jasa. Masing-masing berjalan secara sendiri bahkan cenderung saling terlepas. Pemerintah telah mengembangkan secara sistenlatis mallaui pembagian pembangunan menjadi subsistem-subsistem, yang mencangkup empat macam subsistem – subsistem sebagai berikut;
1)       Subsistem agrobisnis hulu, yaitu industri-industri yang menghasilkan barang-barang modal bagan pertanian, yaitu industri pemebenihan atau pembibitan, industri agrokimia dan lain-lain.
2)       Subsistent pertanian primer, yakni kegiatan budidaya yang menghasilkan komoditi pertanian primer (usahatani tanarnan pangan, usahatani hortikultura, usaha tanaman obat-obatan, usaha perkeburian, usaha pertanian, usaha peilkanan, usaha kelautan)
3)       Subsistem agrobisnis hilir, yakni industri-industri yang mengolah komoditi  pertanian primer menjadi olahan seperti industri makanan atau minuman , industri pakan, industri barang serat-serat alam dan lain-lain.
4)       Subsistem penyedia jasa agrobisnis, seperti perkreditan, transportasi , dan perdagangan, pendidikan sumber daya manusia, dan kebijakan ekonomi (Daniel, 2002).
Hasil- hasil hortikultura inemberikati kontribusi yang tinggi dalam mencukupi kebutuhan penduduk seperti buah dan sayuran. Buah-buahan dan sayuran merupakan sumber utama dari vitamin-vitamin ( A,B,C,D,E, dan K) dan mineral. Berbagai penyakit kurang gizi, dan gangguan kesehatan yang diderita masyarakat berpenghasilan rendah disebabkan rendahnya konsumsi buah dan sayuran ( Rahiln dkk, 2005 ).
Tanaman sayuran mempunyai sebaran yang luas dengan ragam yang tinggi. Berbagai macam jenis sayuran banyak ditanam di Indonesia, salah satunya adalah asparagus. Tanaman ini belum begitu dikenal dan dibudidayakan oleh petani. Tanaman ini menghasilkan produk berupa rebung yang mempanyal nilai ekonomi tinggi. Konsumen rebung asparagus adalah golongan ekonomi menengah keatas, hal ini terlihat dari jarang atau bahkan tidak adanya produk ini di pasar tradisional. Rebung asparagus kebanyakan hanya dipasarkan di supermarket dan hotel - hotel.
Menanam asparagus merupakan peluang besar bagi petani sebagai pelaku agribisnis ditingkat on  farm. Masih terbukanya pasar dan harga yang tinggi menjadi keunggulan tersendiri dan tanaman asparagus. Selain itu, tel;nik budidaya yang mudah, waktu panen dari bibit hingga panen yang tidak begitu lama (4-5 bulan), dengan masa paneu bampir 6 bu1an. Disamping itu, untuk tanaman dapat mencapai puluhan tahun, tanpa harus mengganti dengan tanaman baru. Sehingga, hal ini merupakan peluang yang bisa dimanfaatkan oleh petani untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Salah satu DAFTAR PUSTAKA

Anoniml, 2006. Asparagus, http :/I bebas.vlsm.org. 05 Agustus 2006.

Anonim2, 2006. Bambu Tali Untuk Kanker. www. Republika online. http://www. Republika. Co, id /' suplemen/cetak detail. Asp. 22 Ajustus 2006.

Anonim3, 2006. www. Cybenned: food: cybermed. Cbn. Net. Id / detilhit. Asp. 22 Agustus 2006.

Anonim4, 2007. Statistik Perlanian. http ://www.bps.go.id/index. Shhnl. Dowload tanggal 29 mei 2007.

Anonim5, 2006. Teknologi t3uclida_ya 1 anaman Pangan. http                              iptek. wordpress. coin, 05 Agustus 2t)06.

Bungin, B. 2003. Arralisis Data Penelitian Kualitalif:Pemahaman Filosofi dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. PT Raja Gra~indo Persada. Jakarta.

Daniel, M., 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Burni Aksara. Jakarta.

David, F. R. 2004. Manajemen strategis- Konsep-Konsep. Terjemahan Kresno Saroso. PT Indeks Kelompok Gramedia. Jakarta.

Linton, I. 1997. Kemitraan. Terjemahan sularno Ciptowardoyo. Hilarang. Jakarta.

Martodireso, S dan Widada, A. S. Agribisnis Kemitraan Usaha Bersama-Upaya Peningkatan Kesejahteraan Pelani. Kanisius. Yogyakarta.

Mustata, H. S. Analisis kemitraan Antara PT kemfarm Indonesia dengan Petani Terung Jepcrng di Kabupaten Kediri Jawa Timur. Skripsi S 1 Fakultas Pertanian UNS. Surakarta.

Mustofa, M. 2006. Analisis Kemitraan Antara Perusahaan Mentimun Agrondo  Boga Santika Dengan Petani Mentimun Jepang di Kabupaten Klaten. Skripsi. Fakultas Pertanian UNS. Surakarta.

Ranakuti, F. 2002. Analisis .SWOT Teknik membedah kasusu Bisnis  PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Said, E.G dan Intan, A. H, 2001. Manajemen Agrobisnis. PT Glialla Indonesia dengan MMA-IPB. Jakarta.

Sumardjo dkk, 2004. Teori dan Praktik Kemitraan Agrobisnis Penebar Swadaya. Jakarta.

Sutorno B, 2006. http://budi boga. Blogspot. Com / 2006 / 04 / asparagus meningkatkan kesuburan. Html. 22 Agustus 2006.

Singarimbun, M dan S, Effendi, 1995. Metode Penelitian Survai. LP3ES. Jakarta.

Soehartono, 1. 2004. Metode penelitian Sosial. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.

Soekartawi, 2003. Agribisnis, Teori dun Aplikasinya. PT Raja Graffindo Persada. Jakarta.

Surakhrnad, W. 1994. Metode Alamiaah, Metode dan Teknik penelitian. Tarsito. Bandung.

Tang-Kai dkk, 2004. Budidaya sayuran . ATM-ROC. Boyolali

Usinan, H dan Akbar, R.P.S. 2000. Pengantar Statistika. PT. Bumi Aksara. Jakarta.


Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700


PT 16 - ANALISA BREAK EVEN DADA PT PERKEBUNAN XV-XVI (PERSERO)


ANALISA BREAK EVEN DADA PT PERKEBUNAN XV-XVI (PERSERO)
PG. GONDANG BARU KLATEN
JAWA TENGAH

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Hasalah
Inpres No. 9 Tahun 1975, yang dikenal dengan program Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI), merupakan suatu kebijaksanaan baru dalam bidang industri gula nasional, yang telah mengganti tata hubungan produksi gula tebu dari sistem penyewaan tanah petani oleh pabrik gula menjadi sistem produksi tebu langsung oleh petani pemilik lahan sendiri.
Sasaran pokok yang saling menunjang dan yang hendak dijangkau program tersebut adalah meningkatkan dan memantapkan produksi gula nasional, meningkatkan pendapatan petani serta perluasan lapangan kerja dan pemerataan pendapatan di antara masyarakat pedesaan. Prioritas utama yang perlu ditangani adalah meningkatkan dan memantapkan produksi gula, karena meningkatkan dan memantapkan produksi gula, merupakan kunci keberhasilan dalam mencapai sasaran-sasaran lainnya secara memuaskan. Oleh karena itu pemerintah menetapkan kebijaksanaan agar konsumsi gula dapat dicukupi oleh produksi dalam negeri. Kebijaksanaan swasembada ini berarti bahwa gula harus cukup tersedia, dapat diperoleh dengan mudah dan dengan harga yang teriangkau rakyat banyak.
Konsumsi yang terus meningkat seirama dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, harus diikuti dengan peningkatan dan pemantapan produksi, agar swasembada dapat tercapai. Mengingat produksi gula hingga repelita V, masih bertumpu di pulau Jawa, maka langkah optimasi khususnya optimasi lahan dan masa giling dalam rangka meningkatkan produksi dan produktivitas perlu mendapat perhatian yang lebih baik.
Komoditi gula memegang peranan penting setelah komoditi beras dalam sistem ekanomi pangan di Indonesia. Karena komoditi gula merupakan komoditi yang strategis dan menyentuh hajat hidup orang banyak, baik aspek kehidupan ekonomi maupun sosial masyarakat. Di samping itu, gula merupakan komoditi politis dan emasional yang berarti bila terjadi gejolak produksi, konsumsi harga dan pemasaran gula dapat menimbulkan berbagai gejolak politis di dalam masyarakat, baik bersifat rasional maupun tidak rasional. Menyadari sifat-sifat komaditi gula yang demikian, menyebabkan pemerintah selalu turut campur tangan di dalam produksi maupun pemasaran gula. Pada prinsipnya semua kebijaksanaan yang dilakukan oleh pemerintah adalah bagaimana mengupayakan agar petani tebu tetap terangsang untuk berproduksi dengan menjamin pendapatannya dan pabrik gula tetap dapat melangsungkan aktivitasnya dengan tidak membebani anggaran pemerintah berupa subsidi yang berlebihan.
Berdasarkan SK Mentan No. 013 tahun 1986, dinyatakan bahwa pabrik gula merupakan salah satu komponen penting dalam sistem pergulaan nasional, di samping petani, instansi-instansi pemerintah di daerah serta pemerintah pusat. Berarti sukses tidaknya Inpres No. 9 tahun 1975 tergantung pada keempat komponen tersebut dalam menciptakan situasi yang menguntungkan dalam arti memungkinkan cepat tercapinya tujuan. Ibarat kata pemeo, bahwa sukses tidaknya program TRI akan sangat tergantung pada kemampuan kerja sama yang seimbang, selaras dan serasi, antara T (teknis), R (rakyat) dan I(instansi). Dengan demikian pengalihan pengusahaan tanaman tebu yang merupakan bagian dari program pembangunan pertanian Indonesia perlu dukungan semua fihak maupun instansi yang terkait. Mengingat dalam industri gula sendiri menyangkut banyak kepentingan, mulai dari kepentingan nasional berupa cukai, petani sebagai produsen, pabrik sebagai pengolah, penyalur sebagai pelaku pemasaran dan konsumen sebagai pembeli.
Terhadap pabrik gula yang merupakan salah satu komponen penting dalam industri gula nasional, semula bersifat unit usaha yang lebih berorientasi kepada keuntungan berubah menjadi perangkat pembangunan yang diharapkan dapat membantu memacu akselerasi pembangunan guna memajukan daerah sekitarnya. Dalam Inpres No. 9 tahun 1975, tersirat kehendak pemerintah untuk menjadikan perusahaan perkebunan besar, dalam hal ini pabrik gula menjadi lembaga yang memadu dengan derap pembangunan nasional, terutama dalam hal meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani. Sehingga sebagai perusahaan negara, suatu pabrik gula di samping mencari keuntungan dan devisa untuk negara, pada saat ini pabrik gula juga mengemban tugas sebagai wahana pembangunan.
Agar pabrik gula mampu hidup dan berkembang sebagai suatu badan usaha, maka pabrik gula harus mampu mendapatkan keuntungan dari kegiatan usahanya. Suatu perusahaan dikatakan memperoleh keuntungan apabila hasil

DAFTAR PUSTAKA

Adisaputro, G. 1988. Anggaran Perusahaan. Jilid 2. Yogyakarta : BPFE.

Adisastnito, K. 1981. Sistem Penetapan Rendemen Nisbi Tebu Rakyat Intensifikasi: Suatu Pengaturan Hubungan Ekonomi Berwatak Sosial. Proceedings Pertemuan Teknis Tengah Tahunan I Tahun 1981. Pasuruan: Offset BP3G Pasuruan, 1981, hal.279-303

 ----------- 1984. Langkah Strategis Ke Arah Konsoli­dasi Program Tebu Rakyat Intensifikasi. Proceedings Pertemuan Teknis Tahun 1983. Pasuruan: Offset BF3G Pasuruan, 1984, hal. 1 - 20.

Agus, A. 1986. Manajemen Produksi: Perencanaan Slstem Produksi Jilid  I dan II. Yogya.karta : BPFE.

 ----------- 1987. Manajemen Produksi: Pengendalian Produksi. Jilid I dan II. Yogyakarta: BPFE.

Dianjung, St., et. al. 1983. Kamus Istilah Akuntansi. Jakarta: Ghana Indonesia.

DjarWanto, P.S. 1984. Pokok-pokok Metode Riset dan Bimbingan Teknis Penulisan Shripsi. Yogyakarta: Liberty.

Hadi,S. 1981. Metodologi Recearch. Jilid I dan II. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Hasan, i. dan Sapuan. 1984. Harga Gula di Indonesia (Suatu Kajian Pendahuluan). Proceedings Pertemuan Teknis Tahun 1983. Pasuruan: Offset BP 3G-Pasuruan, 1984, hal. 61-96.

Husnan, S. 1985. Pembelanjaan Perusahaan : Dasar- dasar Manajemen Keuangan. Jilid I dan II. Yogyakarta: Liberty.

Jhon, S. 1986. Hubungan Industrial: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: BPFE.

Kusharyono, A., H.A.,-Ak. 1986. Pengetahuan Rendemen pada Tebu Rakyat Intensifihasl (TRI;). Jakarta: Direktorat Bina Produksi Perkebunan Bagian Proyek Peningkatan Teknis Produksi Perkebunan Pusat.

Manulang, M. 1971. Dasar-dasar Management. Medan: C.V. Aman laham .

Maxfield, F.M. 1930. The Case Study. Educ. Res. Bull. 9.

Mubyarto. 1987. Ekonomi Pancasila: Gagasan den Kemungkinan. Jakarta: C.V. Yasaguna.

 ----------- 1988. Sistem den Moral Ekonomi Indonesia. Jakarta: LP 3ES.

Nazir, H. 1983. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia

Hyoman, K.H. 1986. Evaluasi Faktor Rendemen Minimum Pabrik-pabrik Gula yang Melaksanakan Program TRI. Prosiding Pertemuan Teknis Tengah Tahunan 1986. Parusuran: Offset BP3G Pasuruan, 1986, hal. 52 - 63.

Pedoman Pelaksanaan Care Perhitungan Rendemen Tebu Gilin Bagi Petugas Pahrik Gu1a. 1984. Yogyakarta: Lembaga Pendidikan Perkebunan-Yogyakarta.

Pedoman Penyuluhan Terpadu pada Pelaksanaan Program TRI Musim Tanam 1984/ 1985. 1984. Bandung: Balai Informasi Pertanian Kayuambon, Lembang.

Proceedings Pertemuan Teknis Tengah Tahunan I Tahun 1984. 1984. Pasuruan: Offset BP3G -Pasuruan.

Reksohadiprodjo, S., et. al. 1986. Kebijaksanaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE.

Sistem Break Even. 1975. Yogyakarta: Liberty.

Soehardi, S. 1979. Analisa Break Even. Yogyakarta: Liberty.

Suraehmad, W. 1968. Research: Pengantar Metodologi ilmu Bandung: IKIP Bandung.

Survivaliadi. 1989. "Mengapa Petani Tebu Rakyat Tidak Semua Masuk TRI" . Harian Berita Nasional No. 333, Tahun XLIII, 23 Oktober 1989, hal. IV. Kolom 2 - 5.

Whitney. F.L. 1960. The E1ementt of Research. Asian Eds. Osaka: Overseas Book Co.

Wiriatnodjo, B. et. al. 1984. Prosiding Pergulaan di Indonesia den Prospeknya di Mesa Mendatang. Pasuruan: Offset BF3G Pasuruan.



Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700


PT 16 - ANALISA BREAK EVEN DADA PT PERKEBUNAN XV-XVI (PERSERO)


ANALISA BREAK EVEN DADA PT PERKEBUNAN XV-XVI (PERSERO)
PG. GONDANG BARU KLATEN
JAWA TENGAH

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Hasalah
Inpres No. 9 Tahun 1975, yang dikenal dengan program Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI), merupakan suatu kebijaksanaan baru dalam bidang industri gula nasional, yang telah mengganti tata hubungan produksi gula tebu dari sistem penyewaan tanah petani oleh pabrik gula menjadi sistem produksi tebu langsung oleh petani pemilik lahan sendiri.
Sasaran pokok yang saling menunjang dan yang hendak dijangkau program tersebut adalah meningkatkan dan memantapkan produksi gula nasional, meningkatkan pendapatan petani serta perluasan lapangan kerja dan pemerataan pendapatan di antara masyarakat pedesaan. Prioritas utama yang perlu ditangani adalah meningkatkan dan memantapkan produksi gula, karena meningkatkan dan memantapkan produksi gula, merupakan kunci keberhasilan dalam mencapai sasaran-sasaran lainnya secara memuaskan. Oleh karena itu pemerintah menetapkan kebijaksanaan agar konsumsi gula dapat dicukupi oleh produksi dalam negeri. Kebijaksanaan swasembada ini berarti bahwa gula harus cukup tersedia, dapat diperoleh dengan mudah dan dengan harga yang teriangkau rakyat banyak.
Konsumsi yang terus meningkat seirama dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, harus diikuti dengan peningkatan dan pemantapan produksi, agar swasembada dapat tercapai. Mengingat produksi gula hingga repelita V, masih bertumpu di pulau Jawa, maka langkah optimasi khususnya optimasi lahan dan masa giling dalam rangka meningkatkan produksi dan produktivitas perlu mendapat perhatian yang lebih baik.
Komoditi gula memegang peranan penting setelah komoditi beras dalam sistem ekanomi pangan di Indonesia. Karena komoditi gula merupakan komoditi yang strategis dan menyentuh hajat hidup orang banyak, baik aspek kehidupan ekonomi maupun sosial masyarakat. Di samping itu, gula merupakan komoditi politis dan emasional yang berarti bila terjadi gejolak produksi, konsumsi harga dan pemasaran gula dapat menimbulkan berbagai gejolak politis di dalam masyarakat, baik bersifat rasional maupun tidak rasional. Menyadari sifat-sifat komaditi gula yang demikian, menyebabkan pemerintah selalu turut campur tangan di dalam produksi maupun pemasaran gula. Pada prinsipnya semua kebijaksanaan yang dilakukan oleh pemerintah adalah bagaimana mengupayakan agar petani tebu tetap terangsang untuk berproduksi dengan menjamin pendapatannya dan pabrik gula tetap dapat melangsungkan aktivitasnya dengan tidak membebani anggaran pemerintah berupa subsidi yang berlebihan.
Berdasarkan SK Mentan No. 013 tahun 1986, dinyatakan bahwa pabrik gula merupakan salah satu komponen penting dalam sistem pergulaan nasional, di samping petani, instansi-instansi pemerintah di daerah serta pemerintah pusat. Berarti sukses tidaknya Inpres No. 9 tahun 1975 tergantung pada keempat komponen tersebut dalam menciptakan situasi yang menguntungkan dalam arti memungkinkan cepat tercapinya tujuan. Ibarat kata pemeo, bahwa sukses tidaknya program TRI akan sangat tergantung pada kemampuan kerja sama yang seimbang, selaras dan serasi, antara T (teknis), R (rakyat) dan I(instansi). Dengan demikian pengalihan pengusahaan tanaman tebu yang merupakan bagian dari program pembangunan pertanian Indonesia perlu dukungan semua fihak maupun instansi yang terkait. Mengingat dalam industri gula sendiri menyangkut banyak kepentingan, mulai dari kepentingan nasional berupa cukai, petani sebagai produsen, pabrik sebagai pengolah, penyalur sebagai pelaku pemasaran dan konsumen sebagai pembeli.
Terhadap pabrik gula yang merupakan salah satu komponen penting dalam industri gula nasional, semula bersifat unit usaha yang lebih berorientasi kepada keuntungan berubah menjadi perangkat pembangunan yang diharapkan dapat membantu memacu akselerasi pembangunan guna memajukan daerah sekitarnya. Dalam Inpres No. 9 tahun 1975, tersirat kehendak pemerintah untuk menjadikan perusahaan perkebunan besar, dalam hal ini pabrik gula menjadi lembaga yang memadu dengan derap pembangunan nasional, terutama dalam hal meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani. Sehingga sebagai perusahaan negara, suatu pabrik gula di samping mencari keuntungan dan devisa untuk negara, pada saat ini pabrik gula juga mengemban tugas sebagai wahana pembangunan.
Agar pabrik gula mampu hidup dan berkembang sebagai suatu badan usaha, maka pabrik gula harus mampu mendapatkan keuntungan dari kegiatan usahanya. Suatu perusahaan dikatakan memperoleh keuntungan apabila hasil

DAFTAR PUSTAKA

Adisaputro, G. 1988. Anggaran Perusahaan. Jilid 2. Yogyakarta : BPFE.

Adisastnito, K. 1981. Sistem Penetapan Rendemen Nisbi Tebu Rakyat Intensifikasi: Suatu Pengaturan Hubungan Ekonomi Berwatak Sosial. Proceedings Pertemuan Teknis Tengah Tahunan I Tahun 1981. Pasuruan: Offset BP3G Pasuruan, 1981, hal.279-303

 ----------- 1984. Langkah Strategis Ke Arah Konsoli­dasi Program Tebu Rakyat Intensifikasi. Proceedings Pertemuan Teknis Tahun 1983. Pasuruan: Offset BF3G Pasuruan, 1984, hal. 1 - 20.

Agus, A. 1986. Manajemen Produksi: Perencanaan Slstem Produksi Jilid  I dan II. Yogya.karta : BPFE.

 ----------- 1987. Manajemen Produksi: Pengendalian Produksi. Jilid I dan II. Yogyakarta: BPFE.

Dianjung, St., et. al. 1983. Kamus Istilah Akuntansi. Jakarta: Ghana Indonesia.

DjarWanto, P.S. 1984. Pokok-pokok Metode Riset dan Bimbingan Teknis Penulisan Shripsi. Yogyakarta: Liberty.

Hadi,S. 1981. Metodologi Recearch. Jilid I dan II. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Hasan, i. dan Sapuan. 1984. Harga Gula di Indonesia (Suatu Kajian Pendahuluan). Proceedings Pertemuan Teknis Tahun 1983. Pasuruan: Offset BP 3G-Pasuruan, 1984, hal. 61-96.

Husnan, S. 1985. Pembelanjaan Perusahaan : Dasar- dasar Manajemen Keuangan. Jilid I dan II. Yogyakarta: Liberty.

Jhon, S. 1986. Hubungan Industrial: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: BPFE.

Kusharyono, A., H.A.,-Ak. 1986. Pengetahuan Rendemen pada Tebu Rakyat Intensifihasl (TRI;). Jakarta: Direktorat Bina Produksi Perkebunan Bagian Proyek Peningkatan Teknis Produksi Perkebunan Pusat.

Manulang, M. 1971. Dasar-dasar Management. Medan: C.V. Aman laham .

Maxfield, F.M. 1930. The Case Study. Educ. Res. Bull. 9.

Mubyarto. 1987. Ekonomi Pancasila: Gagasan den Kemungkinan. Jakarta: C.V. Yasaguna.

 ----------- 1988. Sistem den Moral Ekonomi Indonesia. Jakarta: LP 3ES.

Nazir, H. 1983. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia

Hyoman, K.H. 1986. Evaluasi Faktor Rendemen Minimum Pabrik-pabrik Gula yang Melaksanakan Program TRI. Prosiding Pertemuan Teknis Tengah Tahunan 1986. Parusuran: Offset BP3G Pasuruan, 1986, hal. 52 - 63.

Pedoman Pelaksanaan Care Perhitungan Rendemen Tebu Gilin Bagi Petugas Pahrik Gu1a. 1984. Yogyakarta: Lembaga Pendidikan Perkebunan-Yogyakarta.

Pedoman Penyuluhan Terpadu pada Pelaksanaan Program TRI Musim Tanam 1984/ 1985. 1984. Bandung: Balai Informasi Pertanian Kayuambon, Lembang.

Proceedings Pertemuan Teknis Tengah Tahunan I Tahun 1984. 1984. Pasuruan: Offset BP3G -Pasuruan.

Reksohadiprodjo, S., et. al. 1986. Kebijaksanaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE.

Sistem Break Even. 1975. Yogyakarta: Liberty.

Soehardi, S. 1979. Analisa Break Even. Yogyakarta: Liberty.

Suraehmad, W. 1968. Research: Pengantar Metodologi ilmu Bandung: IKIP Bandung.

Survivaliadi. 1989. "Mengapa Petani Tebu Rakyat Tidak Semua Masuk TRI" . Harian Berita Nasional No. 333, Tahun XLIII, 23 Oktober 1989, hal. IV. Kolom 2 - 5.

Whitney. F.L. 1960. The E1ementt of Research. Asian Eds. Osaka: Overseas Book Co.

Wiriatnodjo, B. et. al. 1984. Prosiding Pergulaan di Indonesia den Prospeknya di Mesa Mendatang. Pasuruan: Offset BF3G Pasuruan.



Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700