Tampilkan postingan dengan label Religion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religion. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Desember 2012

AG - PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI)


PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN
PENDIDIKAN ISLAM
(STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI)

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Novel laskar pelangi merupakan sebuah produk karya sastra yang mencakup nilai-nilai karya cipta kreasi yang mengandung nilai-nilai keindahan. Nilai-nilai karya sastra tersebut bersumber dari kenyataankenyataan yang hidup dan selalu berkembang di masyarakat sebagai bentuk realitas yang objektif. Novel karya sastra yang ditulis oleh Andrea Hirata ini mengandung esensi yang didalamnya banyak memberikan representasi tentang pendidikan nilai. Dari representasi inilah, maka penulis merasa ingin melakukan penyelidikan (analisis) terhadap novel laskar pelangi. Adapun bagian isi novel yang menunjukkan hal itu adalah;
Pak Harfan memberikan pelajaran pertama kepada sepuluh muridnya tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan sepuluh muridnya bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau juga menyampaikan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dada serta memberikan arah bagi murid-muridnya hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya [1]
Sejak kecil aku tertarik untuk menjadi pengamat kehidupan dan sekarang aku menemukan kenyataan yang mempesona dalam sosiologi lingkungan kami yang ironis. Disini ada sekolahku yang sederhana, para sahabatku yang melarat, orang Melayu yang terabaikan, juga ada orang staf dan sekolah PN yang glamor, serta PN Timah yang gemah rimpah dengan Gedong, tembok feodalistisnya. Semua elemen itu adalah perpustakaan berjalan yang memberiku pengetahuan baru setiap hari[2]
Kutipan cerita di atas merupakan sekelumit representasi dari novel lasakar pelangi yang patut diteladani bagi manusia khususnya para tenaga pendidik dalam dunia pendidikan. Kutipan cerita di atas mengisyaratkan bahwa seorang guru dalam proses pembelajaran memiliki peran dan fungsi bukan hanya sebagai mentranformasikan knowledge, tetapi sekaligus juga membimbing dan mengajarkan kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan yang bertindak konsisten. Bimbingan dan pengajaran nilai-nilai inilah yang disebut sebagai pendidikan nilai.[3]
Pendidikan nilai secara bermakna sangat penting dalam menunjang mutu pendidikan. Saat ini rendahnya mutu Pendidikan Nasional tidak hanya disebabkan oleh kelemahan pendidikan dalam membekali kemampuan akademis kepada peserta didik. Lebih dari itu ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kurangnya pendidikan nilai secara bermakna. Mengapa pendidikan nilai sangat diperlukan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu mengetahui masalah-masalah yang terjadi dalam pendidikan.
Adapun masalah yang dihadapi oleh pendidikan saat ini, betapa sekolah umum atau lainnya telah merebaknya kasus VCD purno yang dilakukan oknum mahasiswa Itenas Bandung menambah panjang daftar asusila yang dilakukan peserta didik, lalu muncul kasus yang serupa yang dilakukan para yunior mereka di tingkat SMP dan SMU. Di Jawa Barat ada beberapa siswa dan siswi SMU Negeri yang berbuat tidak senonoh di dalam kelas dengan masih menggunakan seragam sekolah. Dalam kasus lain seorang anak SMP tega membunuh orang tuanya sendiri, di tempat lain seorang anak madrasah ibtidaiyah bunuh diri dengan alasan tidak sanggup membayar SPP, bahkan ada anak madrasah yang bunuh diri hanya karena baju seragam hari itu tidak bisa dipakai karena basah terkena hujan.[4]
Dalam kasus selanjutnya adalah praktik pendidikan sering dikesankan sebagai sederetan instruksi guru dan murid-muridnya. Apalagi dengan istilah yang sekarang sering digembar-gemborkan dalam dunia pendidikan yaitu sebagai pendidikan yang menciptakan manusia ”siap pakai”. Kata ini berarti menghasilakan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industri dan tegnologi. Memerhatikan secara kritis masalah ini, tampak bahwa manusia dipandang layaknya material atau komponen pendukung industri. Lembaga pendidikan sekedar mampu menjadi lembaga produksi penghasil material atau komponen dengan kualitas tertentu yang di tuntut pasar. Ironisnya, kenyataannya ini justru disambut antusias oleh banyak lembaga pendidikan.[5]
Saat sekarang ini, dunia pendidikan masih diwarnai perilaku siswa membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hingga mengkonsumsi minuman keras dan narkotika.[6]
Disinilah proses penanaman pendidikan nilai sangat dibutuhkan di lembaga pendidikan yang bertujuan untuk membantu peserta didik agar memahami, menyadari, mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannya secara integral dalam kehidupan.
Pendidikan nilai sangat erat hubungannya dengan pendidikan Islam. Pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam mengimplementasikan pendidikan nilai sebagai suatu tindakan pendidikan. Value Education (pendidikan nilai) dilibatkan dalam setiap tindakan pendidikan, baik dalam memilih maupun dalam memutuskan setiap hal untuk kebutuhan belajar. Melalui pendidikan nilai, guru dapat mengevaluasi siswa, demikian pula sebaliknya, siswa dapat mengukur kadar nilai yang disajikan guru dalam proses pembelajaran. Singkat kata, dalam bentuk persepsi, sikap, keyakinan, dan tindakan manusia dalam pendidikan, nilai selalu disertakan. Bahkan melaui nilai itulah manusia dapat bersikap kritis terhadap dampak-dampak yang ditimbulkan pendidikan. Untuk itu, selain diposisikan sebagai muatan pendidikan, nilai juga dapat dijadikan sebagai media kritik bagi setiap orang yang berkepentingan dengan pendidikan dalam mengevaluasi proses dan hasil pendidikan. Dari penjelasan tersebut jelaslah bahwa dengan adanya penanaman pendidikan nilai dalam lembaga Pendidikan Islam, maka akan dapat membantu pengembangan pendidikan Islam khususnya dalam proses dan tujuan pendidikan Islam yang dicita-citakan.
Dari latar belakang di atas, maka penulis mengangkat skripsi yang berjudul ”Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi)”, dengan harapan novel ini mampu menjawab keterpurukan pendidikan Islam saat sekarang dan membawa pendidikan Islam kelevel yang lebih baik dan mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam.

B.      Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas penulis formulasikan dalam rumusan masalah sebagai berikut:
1.       Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata ?
2.       Bagaimana metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel lascar pelangi?
3.       Nilai-nilai apa saja terkandung dalam novel laskar pelangi yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam ?
4.       Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam?

C.      Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian di dalam karya ilmiah merupakan target yang hendak dicapai melalui serangkaian aktivitas penelitian, karena segala sesuatu yang diusahakan pasti mempunyai tujuan tertentu sesuai dengan permasalahannya. Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1.       Mendiskripsikan nilai-nilai dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata,
2.       Mendiskripsikan metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi,
3.       Mendiskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan
4.       Mendiskripsikan kontribusi pendidikan nilai dalam novel ”laskar pelangi” tehadap Pengembangan Pendidikan Islam.

D.      Manfaat Penelitian
Setiap kegiatan penelitian pasti mempunyai nilai kemanfaatan bagi peneliti maupun orang lain. Karena ini kegiatan ilmiah yang dilakukan secara logis dan sistematis, agar penulisan ini harapkan bermanfaat:
DAFTAR PUSTAKA

Ameliawati. 2006. Analisis Instink Pada Tokoh Utama Novel Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari. Skripsi. FKIP UMM.

Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. (Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo. Al-Qur’an dan Terjemahannya. 1990 . Semarang: Menara Kudus.

Burhan Bungin. 2003. Content Analysis dan Focus Group Discussion dalam Penelitian Sosial. Jakarta:Raja Grafindo Persada.

Dawud, dkk. 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I untuk SMA Kelas X, Jakarta : Erlangga.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Direktorat Jenderal Pendidikan Non-Formal dan Informal. 2009. Kian Berat Tantangan Pendidikan Formal. Internet: (http:

www.pnfi.depdiknas.go.id

Endraswara Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Elmubarok Zaim. 2008. Membumikan Pendidikan Nilai Mengumpulkan yang Terserak, Menyambung yang Terputus, dan Menyatukan yang Tercerai. Bandung: Alfabeta.

Faruk. 2003. Pengantar Sosiologi Sastr. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fananie Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Fajar, A. Malik, dkk. 2004. Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Upaya Merespon Dinamika Masyarakat Global. Yogyakarta: Aditya Media Yogyakarta Bekerja Sama dengan UIN Press.

Hirata Andrea. 2005. Novel Laskar Pelangi. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.

DAFTAR PUSTAKA HANYA SEBAGIAN
Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700


Selasa, 13 November 2012

AG 26 - PRAKTIK PEMBAGIAN HARTA WARISAN (STUDI KASUS PADA MASYARAKAT DAYAK


PRAKTIK  PEMBAGIAN
HARTA WARISAN (STUDI KASUS PADA MASYARAKAT DAYAK DI DESA LOKSADO KECAMATAN LOKSADO KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN)

ABSTRAK

M. Azmi Auda. 2008. Praktik Pembagian Harta Warisan (Studi Kasus Pada Masyarakat Dayak di Desa Loksado Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan). Skripsi, Jurusan Ahwal al-Syakhsiyah, Fakultas Syari’ah. Pembimbing: (I) Drs. H. Jalaluddin M.Hum. (II) Ansharullah S.Ag.

Penelitian ini bertolak dari pemikiran bahwa pembagian harta warisan yang ditetapkan dalam Islam sudah memiliki konsep dasar yang dapat dijadikan dasar acuannya. Kemudian melihat adanya terjadi perbedaan dalam praktik pembagian harta warisan pada masyarakat Dayak di Desa Loksado Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang tidak sesuai dengan hukum islam. Maka penulis berkeinginan untuk mengetahuinya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui praktik sekaligus alasan-alasan dalam pembagian harta warisan Masyarakat Dayak di Desa Loksado Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Jenis penelitian ini adalah penelitian Lapangan (Field research) yang bersifat studi kasus dengan meneliti 5 kasus dengan lokasi di Desa Loksado Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Subyek penelitan ini adalah Masyarakat Dayak di Desa Loksado, sedangkan Obyek penelitiannya tentang praktik pembagian harta warisan Masyarakat Dayak Desa Loksado Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Untuk mendapatkan data digunakan teknik dokomentasi dan wawancara, kemudian melalui teknik analisis Diskriptif kualitatif, penelitian ini menghasilkan temuan:
Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pada 5 kasus dalam praktik pembagian harta warisan Masyarakat Dayak di Desa Loksado Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan semuanya menggunakan kebiasaan dalam masyarakatnya dan tidak mengetahui akan pembagian harta warisan secara hukum Islam (faraidh) dan juga terkadang setelah pembagian tersebut malah lebih sering menimbulkan masalah dibanding dengan pembagian secara hukum islam.
DAFTAR PUSTAKA

Ali Ash-Shabuni, Muhammad, Pembagian Warisan Menurut Islam, Cet. II. (Jakarta: Gema Insani Press, 1996).

Rusli, Dimyati, Bahan Penyuluhan Hukum, (Jakarta : Depertemen Agama RI, 2000)

Yayasan Penyelenggaraan Penterjemah/Pentafsiran Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya ( Jakarta: PT Intermasa, 1993).

Ibnu al-hajjaj al-Qusyairy Al-Naisabury, Imam Abi Husain Mislim, Sahih Muslim, Juz III,  (Indonesia: Maktabah Daklan, tth).
KH. Abid Bisri Mostafa, Terjemah Sahih Muslim, Jilid III, (Semarang: Asy Sifa, 1993).
Widjiono Wasis (eds), Ensiklopedi Nusantara, (Jakarta: Mawar Gempita, 1989).
Ali Parman, Kewarisam Dalam Al-Qur'an, (jakarta : Raja grafindo Persada, 1995),h. 23
[1] Ahmad Wirson Munawir, Al Munawwir Kamus Arab Indonesia, (Surabaya : Pustaka Progressif, 1997), h. 1550.
[1] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, (Bandung : al-Ma'arif, 1996) jilid 14, h. 235.
[1] Fatchur Rahman, Ilmu Waris, (Bandung : al- Ma'arif, 1975), h. 32.
Sajuti Thalib, Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, (  Jakarta : Sinar Grafika, 1981), hal 1. 
[1]Yayasan Penyelenggaraan Penterjemah/Pentafsiran Al-Quran, Al-Quran dan Terjemahnya ( Jakarta: PT Intermasa, 1993), h. 116.
Imam Abi Husain Mislim ibnu al-hajjaj al-Qusyairy Al-Naisabury, Sahih Muslim, Juz III,  (Indonesia : Maktabah Daklan, tth) h. 1234.
[1] KH. Abid Bisri Mostafa, Terjemah Sahih Muslim, Jilid III, (Semarang : Asy Sifa, 1993), h. 146.
Abd Latif Wahid, Materi Kuliah Fikih Mawaris A, ( Banjarmasin: Depertemen Agama IAIN Antasari Fakultas Syari'ah, 2003), h. 7.
[1] A. Sukris Sarmadi, Transendensi Keadilan Hukum Waris Islam Transformatif, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1997) cet 1. h. 33-34.
[1] Ahmad Rafiq, Fikih mawaris, (Jakarta : Rajawali Press, 1993), h. 22.
Abi Isa Muhammad bin Isa bin Saurah, Sunan At Turmuzi, Juz IV, (Beirut : Darul Fiqr, 1994), h. 36.
[1] Moh. Zuhri, et al, Terjemah Sunan At Tirmizi, (Semarang : Asy Syifa, 1992), h. 603
Muhammad Ali Al-Sabouni, Hukum Kewarisan menurut Al-Qur'an dan Sunnah, (Jakarta : Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, 2005), h. 54.
Imam Abi Abdillah muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Bukhari, Sahih al-Bukhari, Juz VII, (Bairut : Darul Fiqr, 1981, h. 11.
Ahmad Sunarto, et all, Terjemah shahih Bukhari, Jilid VIII (Semarang : Asy-Syifa, 1993), h. 610.
Dahlan,Shaleh,M.D.Dahlan, Ayat-ayat Hukum Tafsir dan Uraian Perintah-perintah Dalam al-Qur'an, (Bandung : CV.Diponegoro, 1990), cet II, h 128-129.
[1] Ahmad Mustafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, (Beirut : Darul fiqr, 1973), h. 196.
[1] Rasyid Ridha, Tafsir Al Manar, (Mesir : Musthafa Al Bab, Al Halaby, 1974), h. 415.
Dimyati Rusli, Bahan Penyuluhan Hukum, (Jakarta : Depertemen Agama RI, 2000). h.200.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700

AG 25 -Peranan Bimbingan Dan Penyuluhan Dalam Menanggulangi Kesulitan Belajar Siswa Di Madrasah


Peranan Bimbingan Dan Penyuluhan Dalam Menanggulangi Kesulitan Belajar Siswa Di Madrasah Tsanawiyah Nurul Hasaniyah Desa

ABSTRAK

Pentingnya bimbingan dan penyuluhan di sekolah menengah pada saat ini sangat diperlukan untuk mengantarkan anak didik kearah kedewasaan. Karenanya sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang memerlukan tenaga pembimbing yang professional. Di mana pembimbing tidak hanya menguasai bahan pelajar, tetapi juga menguasai nilai-nilai yang terdapat dalam pendidikan. Sehubungan dengan hal tersebut maka siswa dipengaruhi oleh proses pembimbing.
Di antara pertimbangan pokok yang mendasari pembahasan tersebut adalah persoalan ini merupakan persoalan esensial. Sebab terletak di tangan pembimbing kemungkinan berhasil atau tidak pencapaian belajar. Oleh karena itu perlu dilihat bagaimana peranan bimbingan dan penyuluhan dalam penanggulangan kesulitan belajar siswa.
Membahas tentang peranan bimbingan dan penyuluhan sekolah tidak terlepas dari proses belajar mengajar dalam proses antara pembimbing dan siswa bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Secara definitif bimbingan dan penyuluhan adalah orang yang pekerjaannya  mengajar dan mendidik serta sebagai pembimbing, sedangkan siswa atau anak adalah yang sedang belajar.
Berasarkan hal tersebut di atas, pembahasan skripsi ini adalah tentang peranan bimbingan  dan penyuluhan dalam penanggulangan kesulitan belajar siswa MTs. Wali Songo. Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam skripsi ini adalah tentang bagaimana peranan bimbingan dan penyuluhan dalam penanggulangan  kesulitan berlajar siswa MTs. Wali Songo
Sedangkan yang menjadi sub pokok permasalahan ini adalah tentang bagaimana peranan bimbingan dan penyuluhan dalam peanggulangan kesulitan belajar siswa dengan bimbingan yang bersifat preventif dan bimbingan yang bersifat kuraitif di MTs. Wali Songo.
Penelitian di lapangan dijadikan bahan masukkan untuk mengetahui situasi yang sebenarnya dan kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan di MTs. Wali Songo.
Dari hasil penelitian  lapangan diperoleh kesimpulan bahwa peranan bimbingan dan penyuluhan dalam penaggulangan kesulitan belajar siswa dengan bimbingan baik bimbingan yang bersifat preventif maupun yang bersifat kuratif  adalah cukup atau sedang, hal ini nampak pada aktifitas bimbingan dan penyuluhan yang dilaksanakan di MTs. Wali Songo
Demikian abstrak skripsi ini, yang setidaknya akan dapat memberikan gambaran umum tentang isi dari skripsi ini secara keseluruhan.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Abu 1978. Psikologi Pendidikan. Semarang : Rineka Cipta
Ahdjad, Nadjih 1995. Terjemahan al-Jami’ush Shaghir Jilid III, Surabaya : PT Bina Ilmu
Ahmadi, Abu dan Achmad Rohani. 1991. Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta : Rineka Ilmu
AM, Sadirman . 1987. Interakasi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : CV. Rajawali
Anshari, Hafi. 1983. Pengantar Ilmu Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional
Arifin, M. 1994. Teori Konseling Umum dan Agama, Jakarta : Golden Terayon Press.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian suatu PendekatanPraktek, Jakarta : PT. Rineka Cipta
Depdikbud, 1991. Kamus Besar  Bahasa Indonesia, PN. Balai Pustaka
Departemen Agama RI, 1984. al-qur-an dan Terjemahannya, Jakarta : Proyek Penaggndaan Kitab Suci al-qur-an
Faisal, Sanafiyah. 1990. Penelitian Kualitatif Dasar dan Aplikasi, Malang
Hadi, Sutrisno. 1989. Meteodologi Reseach.1, Yogyakarta : Andi Affset
Hadi, Sutrisno. 1990. Meteodologi Reseach.2, Yogyakarta : Andi Affset
Hamalik, Oemar, 1990, Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar. Bandung : Tarsito
Hamalik, Oemar. 1992, Psikologi Belajar Mengajar, Sinar Baru Algesindo
Moleong, Lexy J. 1998. Meteodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Rosdakarya
Mapiare, Andi. 1989. Pengantar Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Surabaya : Usaha Nasional
Poerwadarminta, W.J.S. 1997. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Partowisastro, Koestoer. 1984. Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar, Jakarta : Erlangga.
Surahmat, Winarno. 1989. Pengantar Penelitian, Dasar-dasar dan Teknik, Bandung : Tartito.
Sukardi, Dewa Ketut. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Surabaya : Usaha Nasional.
Suryabrata, Sumadi. 1992. Psikologi Pendidikan, Yogyakarta : CV. Rajawali
Walgito, Bimo. 1995. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Yogkayarta : Andi Offset.
……………., 1989. Undang-undang RI No. 2 Tahun 1989, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Semarang : Tugu Muda.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700

AG 23 - PENGARUH PENERAPAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI MADRASAH


PENGARUH PENERAPAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH MANBAIL FUTUH
BEJI – JENU – TUBAN

BAB I
PENDAHULUAN

Latar  Belakang Masalah

Kurikulum berasal dari bahasa Inggris “Curriculum” berarti Rencana Pelajaran. (S. Wojowasito-WJS. Poerwadarminta, 1980 : 36.).
Secara istilah, kurikulum adalah “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. (Depag. RI. Dir. Jen. Kelembagaan Agama Islam, 2004 : 2).
Dari pengertian tersebut kurikulum sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar mengajar disekolah, yang merupakan jembatan untuk tercapainya suatu tujuan Pendidikan Nasional.
Pada perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, serta seni dan budaya. Perkembangan dan perubahan yang secara terus menerus menuntut perlunya sistem Pendidikan Nasional termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tersebut.
Atas dasar tuntutan tersebut maka diperlukan suatu upaya peningkatan mutu pendidikan termasuk yang diselenggarakan di madrasah, yang dilakukan secara menyeluruh mencakup pengembangan dimensi manusia Indonesia seutuhnya, yakni aspek-aspek moral/akhlaq, pengetahuan, kesehatan, ketrampilan dan seni. Pengembangan pendidikan di madrasah dilakukan sesuai dengan kebutuhan, kondisi dan jatidiri madrasah pada seluruh aspeknya. Pengembangan aspek-aspek tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan kecakapan hidup yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi peserta didik untuk bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan berhasil dimasa datang. Dengan demikian peserta didik memiliki ketangguhan, kemandirian, dan jatidiri yang dikembangkan melalui kesinambungan. Oleh karena itu diperlukan penyempurnaan kurikulum yang berbasis pada kompetensi peserta didik.
Penyempurnaan kurikulum ini dilandasi oleh kebijakan-kebijakan yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan sebagai berikut :
  1. UUD 1945 dan Pembukaannya.
  2. Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional.
  3. Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, dan
  4. Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom.
Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom berimplikasi terhadap kebijakan pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralistik ke desentralistik juga berimplikasi terhadap penyempurnaan kurikulum sekolah.
Penyempurnaan kurikulum tersebut mengacu pada Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berkenaan dengan pasal-pasal sebagai berikut :
  1. Pasal 3 yang menyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk waktu serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
  2. Pasal 35 Ayat (1), yang menyatakan bahwa Sstandart Nasional Pendidikan terdiri atas standart isi, proses kompotensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembayaran, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.
  3. Pasal 37 Ayat (1), yang menyatakan bahwa pendidikan dasar dan menengah wajib memuat : Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa, Matematika, Ilmu Pentahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni dan Budaya, Pendidikan Jasmani dan Olah Raga, Ketrampilan/kejuruan, dan Muatan Lokal.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tergugah mengangkat permasalahan yang dimaskud sebagai bukti bahwa kurikulum berbasis kompetensi akan lebih cocok dengan tujuan Pendidikan Nasional. Dan penulis ingin meneliti terhadap hasil belajar siswa di MTs. Manbail Futuh dengan menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Penegasan Judul

Untuk mempermudah pemahaman terhadap judul skripsi ini penulis perlu menjelaskan variabel-variabel yang ada dalam judul, yaitu :
Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), sebagai variabel bebas.
Penerapan adalah pemasangan, pengenaan ; perihal mempraktikkan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988 : 935).
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah “suatu konsep menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standart performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penugasan terhadap seperangat kompetensi tertentu”. (E. Mulyasa, 2003 : 39).

Hasil belajar siswa sebagai variabel terikat.
Menurut S. Nasution (1983 : 3), hasil belajar atau prestasi siswa adalah “hasil yang telah dicapai dalam bentuk perubahan kelakuan anak berdasarkan pengalaman dan pelatihan”.
Sedangkan menurut Sumartono (1976 : 8) tes hasil belajar adalah “suatu nilai yang menunjukkan hasil tertinggi dalam belajar yang dapat dicapai menurut kemampuan anak dalam bidang studi tertentu”.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas yang dimaskud dengan judul skripsi ini adalah Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di Madrasah Tsanawiyah Manbail Futuh sejauh mana berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Alasan Pemilihan Judul

Penulisan skripsi ini mempunyai alasan sebagai berikut :
Kurikulum merupakan komponen yang amat penting di dunia pendidikan, karena kurikulum merupakan suatu usaha yang menjembatani tercapainya Pendidikan Nasional.
Kurikulum Berbasis Kompetensi baru diterapkan secara nasional pada tahun 2004-2005 sehingga sangat perlu sendini mungkin diadakan penelitian.
Hasil belajar siswa merupakan suatu tahapan yang harus dicapai dalam pebelajaran sebagai tolak ukur dari keberhasilan penerapan suatu kurikulum.

Rumusan Masalah

DAFTAR KEPUSTAKAAN



-          Abu Bakar Muhammad, Drs., Pedoman Pendidikan dan Pengajaran, Surabaya, Usaha Nasional, 1981.

-          Ametembun, N.A, Evaluasi Belajar Kriteria-kriteria dan Tehnik, Filsafat IKIP, Bandung, 1981.

-          Arikunto Suharsimi, Dr. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta, 1993.

-          Departemen Dalam Negeri, Petunjuk Administrasi Sekolah Menengah Program Pengajaran, Depdikbud, 1983.

-          Depag Dirjen Kelembagaan Agama Islam Kurikulum 2004, Standart Kompetensi, Jakarta, 2004.

-          Depag Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Kurikulum 2004 Pedoman Umum Pengembangan Silabus, Jakarta, 2004.

-          Depag Dirjen Kelembagaan, Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum 2004, Jakarta, 2004.

-          Depdiknas, Model-model Pembelajaran, Surabaya, 2004.

-          Depdiknas, Pengembangan Kurikulum dan Sistem Pengujian Berbasis Kompetensi, Surabaya, 2002.

-          Depdiknas, Pedoman Portofolio untuk Penilaian, Surabaya, 2003 – 2004.

-          Depdiknas, Undang-undang RI Nomor : 20 Tahun Tentang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, PT. Sekala Jalmakarya, 2003.

-          Depdikbud R.J, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, 1988.


-          Depdikbud, Kedudukan Evaluasi Dalam Pembelajaran, Jakarta, 2002.

DAFTAR PUSTAKA HANYA SEBAGIAN

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700

AG 22 - ANALISIS KESULITAN BELAJAR BAHASA ARAB PADA MATA KULIAH ISTIMA’ I


ANALISIS KESULITAN BELAJAR BAHASA ARAB
PADA MATA KULIAH ISTIMA’ I

ABSTRAK

Analisis Kesulitan Belajar Bahasa Arab Pada Mata Kuliah Istima’ I

Bahasa adalah sistem lambang berupa bunyi yang bersifat sewenang-wenang (arbitrer) yang dipakai oleh anggota-anggota masyarakat untuk saling berhubungan dan berinteraksi. bahasa juga berfungsi sebagai alat yang digunakan seseorang untuk mengemukakan pendapat, pikiran dan perasaannya kepada orang lain. Dengan bahasa pula maka manusia bisa membentuk masyarakat dan peradaban. Andaikata tidak ada bahasa, maka dia tidak akan dapat melakukan hal tersebut diatas. Atas dasar inilah maka sangat wajar bila kita mengatakan bahwa semua aktivitas yang kita lakukan sepanjang hidup kita selalu membutuhkan bahasa.
Tidak dapat disangkal, bahwa seseorang yang mempelajari suatu bahasa asing akan mendapati kesulitan-kesulitan, yang mana kesulitan-kesulitan ini dapat diperkecil apabila dia memiliki faktor-faktor pendorong yang sangat kuat atau dengan kata lain dia memiliki keinginan yang kuat untuk mempelajari bahasa tersebut.
Objek penelitian di sini ialah Mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Arab UPI. Sedangkan yang menjadi sampel penelitian adalah mahasiswa tingkat I Program Pendidikan Bahasa Arab____tahun ajaran 2004/2005 yang telah menyelesaikan pembelajaran mata kuliah Istima’ I. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menyebarkan angket.
Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dari penelitian ini adalah untuk mengungkap kesulitan-kesulitan yang didapat oleh para pembelajar bahasa Arab dalam mempelajari Istima’I, untuk kemudian memberikan solusi dari permasalahan tersebut.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa masalah-masalah yang dihadapi oleh mahasiswa dalam mempelajari mata kuliah Istima’ I ditinjau dari faktor intrinsik pembelajar adalah adanya perasaan tidak senang terhadap bahasa Arab, sulitnya materi bahasa Arab pada mata kuliah Istima’ I, adanya perasaan tidak senang terhadap mata kuliah Istima’ I, kurangnya konsentrasi pada saat mengikuti perkuliahan, kurangnya jumlah kehadiran, selalu malas untuk belajar di rumah dikarenakan kurangnya fasilitas, dan kegiatan yang mereka pilih di luar perkuliahan tidak berhubungan dengan perkuliahan. Sedangkan masalah-masalah yang di tinjau dari faktor ektrinsik pembelajar adalah adanya paksaan dari pihak orang tua untuk kuliah di Program Pendidikan Bahasa Arab UPI atau karena faktor terpengaruh oleh teman, kurang memadainya alat bantu yang digunakan dalam proses belajar mengajar pada mata kuliah Istima’ I, sulitnya tugas yang diberikan oleh pengajar, kurangnya frekuensi mahasiswa dalam mengumpulkan tugas, Metode yang digunakan pengajar dirasakan monoton dan membosankan, sulitnya materi yang diberikan, ketidak hadiran pengajar, dan kondisi tempat tinggal mereka yang tidak mendukung untuk belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Abin, S.M (1999). Psikologi Kependidikan. Bandung: P.T Remaja Rosdakarya
Cipta Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi V).  Jakarta: P.T. Rineka.

Djojosuroto, K dan Sumaryati, M.L.A. (2004). Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Bahasa & Sastra. Bandung: Nuansa.

Effendy, A.F (2003). Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat

Garry, R and Kingsley, H.L (1970). The Nature And Condition Of Learning, N.Y: Prentice-Hall, Inc. Parts 2 and 3.

Hamalik, Oemar (1995). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Hamdani, Wagino Hamid. (2004). Pengantar Linguistik. Bandung: PSIBA Press.
Hernowo (2004). Menjadi Guru Yang Mau Dan Mampu Mengajar Secara Menyenangkan. Bandung: MLC.

Muin, Abdul (2002). Sintaksis Arab Jilid 1. Bandung: Fakultas Pendidikan Bahasa Dan Seni IKIP

Nazir, Muhammad (1988). Metode Penelitian. Jakarta: PT Galia Indonesia.

Poerwadarminta, WJS. (1982). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Ridwan, Muhammad (2004). “Identifikasi Kecakapan Hidup (Life Skill) Dalam Muatan Kurikulum Pendidikan Tehnik Arsitektur Di Jurusan Pendidikan Tehnik Bangunan FPTK UPI”.Skripsi. Bandung: Fakultas Pendidikan Tehnik Dan Bangunan UPI.

Shihab, Quraish (2001). Mukjizat Al-Qur'an. Bandung: Mizan
Subyakto, Sri Utari. (1993). Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Sumarsono dan Paina Partana.(2004). Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Surakhmad, Winarno. (1985). Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung: Angkasa
Syah, Muhibbin. (2001). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosda

Tarigan, H.G. (1981). Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa

______________ (1986). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

---------------------------- (1996). Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka



Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700
im. � e P� (#� nbsp;      Bagaimanakah cara masyarakat menanggulangi anak putus sekolah di Kecamatan Jangka?
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut di atas maka timbullah keinginan penulis untuk mengangkat permasalahan ini dalam sebuah karangan ilmiah (skripsi)dengan menetapkan sebagai judul adalah: “Anak Putus Sekolah dan Cara pembinaannya di Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen”.

B. Penjelasan Istilah
Untuk menghindari kekeliruan dan lebih mengarahkan pembaca dalam memahami judul skripsi ini penulis merasa perlu untuk menjelaskan beberapa istilah yang terdapat dalam judul tersebut. Adapun istilah- istilah yang perlu di jelaskan adalah sebagai berikut:
1. Anak
Artinya orang atau binatang yang baru di teteskan. Anak adalah turunan kedua sesudah orang yang dilahirkan. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa anak adalah manusia yang hidup setelah orang yang melahirkannya, anak itu merupakan rahmat Allah kepada manusia yang akan meneruskan cita-cita orang tuanya dan sebagai estafet untuk masa yang akan datang.[3]
Adapun anak yang penulis maksudkan dalam skripsi ini adalah anak sebagai keturunan kedua dari sepasang suami istri yang terikat dengan tali pernikahan yang sah yang tidak terlepas dari didikan orang tua baik didikan agama maupun pendidikan umum sehingga anak bisa bersaing dan tercapai cita-citanya.
2.  Anak Putus Sekolah
Putus sekolah (dalam bahasa Inggris dikenal dengan Putus sekolah) adalah proses berhentinya siswa secara terpaksa dari suatu lembaga pendidikan tempat dia belajar. Anak Putus sekolah yang dimaksud dalam penulisan skripsi ini adalah terlantarnya anak dari sebuah lembaga pendidikan formal, yang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya kondisi ekonomi keluarga yang tidak memadai.
3. Cara Pembinaannya
Cara: 1). Aturan sistem. 2). Gaya, laku, ragam. 3). Adat, resam, kebiasaan. Pembinaan merupakan suatu proses kegiatan yang di lakukan secara berdaya guna memperoleh hasil yang baik.[4]
Adapun pembinaan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah suatu usaha untuk pembinaan kepribadian yang mandiri dan sempurna serta dapat bertanggungjawab, atau suatu usaha, pengaruh, perlindungan dalam bantuan yang di berikan kepada anak yang tertuju kepada kedewasaan anak itu, atau lebih cepat untuk membantu anak agar cakap dalam melaksanakan tugas hidup sendiri, pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buku pintar hidup sehari-hari, bimbingan dan nasehat yang memotivasinya agar giat belajar), serta di tujukan kepada orang yang belum dewasa.
Menurut Yurudik Yahya, pembinaan adalah “suatu bimbingan atau arahan yang dilakukan secara sadar dari orang dewasa kepada anak yang perlu dewasa agar menjadi dewasa, mandiri dan memiliki kepribadian yang utuh dan matang kepribadian yang dimaksud mencapai aspek cipta, rasa dan karsa.[5]
Istilah pembinaan atau berarti “ pendidikan” yang merupakan pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa. Selanjutnya pembinaan atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Dari penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pembinaan merupakan suatu proses yang di lakukan untuk merubah tingkah laku individu serta membentuk kepribadiannya, sehingga apa yang di cita-citakan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak penulis capai dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
DAFTAR KEPUSTAKAAN


Abu Abdullah bin Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, Juz I, Mesir: Maktabah al Husaini, t.t.

Abuddin Nata, Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, ed. 1, cet. 1, Jakarta: Kencana, 2003

Al-Husaini Abdul Hasyim, Pendidikan Anak Menurut Islam (Terjemahan Abdullah Mahadi), cet.I, Bandung: Sinar baru Al-Gensiondo, 1994

Abdurrahman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1995

Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, Jakarta : Bulan Bintang. 1992

Ali Imran, Kebijakan Pendidikan di Indonesia, Cet. II Jakarta: Bumi Aksara, 2002

A.H. Harahap, Bina Remaja, Medan: Yayasan Bina Pembangunan Indonesia, 1981

Baharuddin M, Putus Sekolah dan Masalah Penanggulangannya, Jakarta: Yayasan Kesejahteraan Keluarga Pemuda 66, 1982

Farmadi, (Kumpulan Makalah Seminar Pendidikan), Pendidikan Islam di Zaman Modern, (Selangor: Al-Jenderami Press, 2005

_________, Selamatkan Anak-Anak dari Putusnya Pendidikan, Semarang: Mujahid Press, 2004

Hasan Langgulung, Azas-Azas Pendidikan Islam, cet. II, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988
Ibnu Sina, Majalah Santunan, no 24, Tahun ke IV 1978

Imam Muslim, Shahih Muslim, Juz I, Mesir, Isa Al-Bay Al-Halaby, t.t

Irawati Istadi, Istimewakan Setiap Anak, Jakarta: Pustaka Inti, 2005

Jamaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995

Kartini Kartono, Pengantar Metodelogi Research Sosial, Bandung: Grafika, 1974

M. Noor Syam, Pengantar Dasar-Dasar kependidikan, cet. I, Surabaya: Usaha Nasional, 1980
DAFTAR PUSTAKA HANYA SEBAGIAN


Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700


AG 21 - ANAK PUTUS SEKOLAH DAN CARA PEMBINAANNYA


ANAK PUTUS SEKOLAH DAN CARA PEMBINAANNYA
DI KECAMATAN JANGKA KABUPATEN BIREUEN

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Anak merupakan amanah dari Allah Swt, seorang anak dilahirkan dalam keadaan fitrah tanpa noda dan dosa, laksana sehelai kain putih yang belum mempunyai motif dan warna. Oleh karena itu, orang tualah yang akan memberikan warna terhadap kain putih tersebut; hitam, biru hijau bahkan bercampur banyak warna.
Setiap orang tua menginginkan anak-anaknya cerdas, berwawasan luas dan bertingkah laku baik, berkata sopan dan kelak suatu hari anak-anak mereka bernasib lebih baik dari mereka baik dari aspek kedewasaan pikiran maupun kondisi ekonomi. Oleh karena itu, di setiap benak para orang tua bercita-cita menyekolahkan anak-anak mereka supaya berpikir lebih baik, bertingkah laku sesuai dengan agama serta yang paling utama sekolah dapat mengantarkan anak-anak mereka ke pintu gerbang kesuksesan sesuai dengan profesinya.[1]
Setelah keluarga, lingkungan kedua bagi anak adalah sekolah. Di sekolah, guru merupakan penanggung jawab pertama terhadap pendidikan anak sekaligus sebagai suri teladan. Sikap maupun tingkah laku guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi anak.
Pada perspektif lain, kondisi ekonomi masyarakat tentu saja berbeda, tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi yang memadai dan mampu memenuhi segala kebutuhan anggota keluarga. Salah satu pengaruh yang ditimbulkan oleh kondisi ekonomi seperti ini adalah orang tua tidak sanggup menyekolahkan anaknya pada jenjang yang lebih tinggi walaupun mereka mampu membiayainya di tingkat sekolah dasar. Jelas bahwa kondisi ekonomi keluarga merupakan faktor pendukung yang paling besar kelanjutan pendidikan anak-anak., sebab pendidikan juga membutuhkan dana besar.
Hampir di setiap tempat banyak anak-anak yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, atau pendidikan putus di tengah jalan disebabkan karena kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan. Kondisi ekonomi seperti ini menjadi penghambat bagi seseorang untuk memenuhi keinginannya dalam melanjutkan pendidikan. Sementara kondisi ekonomi seperti ini disebabkan berbagai faktor, di antaranya orang tua tidak mempunyai pekerjaan tetap, tidak mempunyai keterampilan khusus, keterbatasan kemampuan dan faktor lainnya.
Putus sekolah bukan merupakan persoalan baru dalam sejarah pendidikan. Persoalan ini telah berakar dan sulit untuk di pecahkan, sebab ketika membicarakan solusi maka tidak ada pilihan lain kecuali memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Ketika membicarakan peningkatan ekonomi keluarga terkait bagaimana meningkatkan sumber daya manusianya. Sementara semua solusi yang diinginkan tidak akan lepas dari kondisi ekonomi nasional secara menyeluruh, sehingga kebijakan pemerintah berperan penting dalam mengatasi segala permasalahan termasuk perbaikan kondisi masyarakat.[2]
Menurut pengamatan sementara, sebagian anak-anak di Kecamatan Jangka mengalami putus sekolah terutama anak-anak yang sedang menempuh pendidikan di tingkat atas. Maka hal yang menjadi rumusan masalah di sini adalah sebagai berikut:
1.       Berapa banyak anak putus sekolah di Kecamatan Jangka?
2.       Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya anak putus sekolah di Kecamatan Jangka?
3.       Bagaimana sikap orang tua terhadap pendidikan anaknya?
4.       Bagaimana cara pembinaan orang tua terhadap anak putus sekolah di Kecamatan Jangka?
5.       Bagaimanakah cara masyarakat menanggulangi anak putus sekolah di Kecamatan Jangka?
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut di atas maka timbullah keinginan penulis untuk mengangkat permasalahan ini dalam sebuah karangan ilmiah (skripsi)dengan menetapkan sebagai judul adalah: “Anak Putus Sekolah dan Cara pembinaannya di Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen”.

B. Penjelasan Istilah
Untuk menghindari kekeliruan dan lebih mengarahkan pembaca dalam memahami judul skripsi ini penulis merasa perlu untuk menjelaskan beberapa istilah yang terdapat dalam judul tersebut. Adapun istilah- istilah yang perlu di jelaskan adalah sebagai berikut:
1. Anak
Artinya orang atau binatang yang baru di teteskan. Anak adalah turunan kedua sesudah orang yang dilahirkan. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa anak adalah manusia yang hidup setelah orang yang melahirkannya, anak itu merupakan rahmat Allah kepada manusia yang akan meneruskan cita-cita orang tuanya dan sebagai estafet untuk masa yang akan datang.[3]
Adapun anak yang penulis maksudkan dalam skripsi ini adalah anak sebagai keturunan kedua dari sepasang suami istri yang terikat dengan tali pernikahan yang sah yang tidak terlepas dari didikan orang tua baik didikan agama maupun pendidikan umum sehingga anak bisa bersaing dan tercapai cita-citanya.
2.  Anak Putus Sekolah
Putus sekolah (dalam bahasa Inggris dikenal dengan Putus sekolah) adalah proses berhentinya siswa secara terpaksa dari suatu lembaga pendidikan tempat dia belajar. Anak Putus sekolah yang dimaksud dalam penulisan skripsi ini adalah terlantarnya anak dari sebuah lembaga pendidikan formal, yang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya kondisi ekonomi keluarga yang tidak memadai.
3. Cara Pembinaannya
Cara: 1). Aturan sistem. 2). Gaya, laku, ragam. 3). Adat, resam, kebiasaan. Pembinaan merupakan suatu proses kegiatan yang di lakukan secara berdaya guna memperoleh hasil yang baik.[4]
Adapun pembinaan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah suatu usaha untuk pembinaan kepribadian yang mandiri dan sempurna serta dapat bertanggungjawab, atau suatu usaha, pengaruh, perlindungan dalam bantuan yang di berikan kepada anak yang tertuju kepada kedewasaan anak itu, atau lebih cepat untuk membantu anak agar cakap dalam melaksanakan tugas hidup sendiri, pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buku pintar hidup sehari-hari, bimbingan dan nasehat yang memotivasinya agar giat belajar), serta di tujukan kepada orang yang belum dewasa.
Menurut Yurudik Yahya, pembinaan adalah “suatu bimbingan atau arahan yang dilakukan secara sadar dari orang dewasa kepada anak yang perlu dewasa agar menjadi dewasa, mandiri dan memiliki kepribadian yang utuh dan matang kepribadian yang dimaksud mencapai aspek cipta, rasa dan karsa.[5]
Istilah pembinaan atau berarti “ pendidikan” yang merupakan pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa. Selanjutnya pembinaan atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Dari penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pembinaan merupakan suatu proses yang di lakukan untuk merubah tingkah laku individu serta membentuk kepribadiannya, sehingga apa yang di cita-citakan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak penulis capai dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
DAFTAR KEPUSTAKAAN


Abu Abdullah bin Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, Juz I, Mesir: Maktabah al Husaini, t.t.

Abuddin Nata, Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, ed. 1, cet. 1, Jakarta: Kencana, 2003

Al-Husaini Abdul Hasyim, Pendidikan Anak Menurut Islam (Terjemahan Abdullah Mahadi), cet.I, Bandung: Sinar baru Al-Gensiondo, 1994

Abdurrahman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1995

Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, Jakarta : Bulan Bintang. 1992

Ali Imran, Kebijakan Pendidikan di Indonesia, Cet. II Jakarta: Bumi Aksara, 2002

A.H. Harahap, Bina Remaja, Medan: Yayasan Bina Pembangunan Indonesia, 1981

Baharuddin M, Putus Sekolah dan Masalah Penanggulangannya, Jakarta: Yayasan Kesejahteraan Keluarga Pemuda 66, 1982

Farmadi, (Kumpulan Makalah Seminar Pendidikan), Pendidikan Islam di Zaman Modern, (Selangor: Al-Jenderami Press, 2005

_________, Selamatkan Anak-Anak dari Putusnya Pendidikan, Semarang: Mujahid Press, 2004

Hasan Langgulung, Azas-Azas Pendidikan Islam, cet. II, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988
Ibnu Sina, Majalah Santunan, no 24, Tahun ke IV 1978

Imam Muslim, Shahih Muslim, Juz I, Mesir, Isa Al-Bay Al-Halaby, t.t

Irawati Istadi, Istimewakan Setiap Anak, Jakarta: Pustaka Inti, 2005

Jamaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995

Kartini Kartono, Pengantar Metodelogi Research Sosial, Bandung: Grafika, 1974

M. Noor Syam, Pengantar Dasar-Dasar kependidikan, cet. I, Surabaya: Usaha Nasional, 1980
DAFTAR PUSTAKA HANYA SEBAGIAN


Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700