| NO | KODE | JUDUL | MAPEL | Hlm | KETERANGAN |
| 1 | PTK TK-01 | Upaya Pemberian Motivasi Untuk Mengurangi Kenakalan Anak Di Taman Kanak-Kanak Tri Bhakti Sragen | Bimbingan konseling (BK) | 87 | lengkap |
| 2 | PTK TK-02 = Ig 11 | Teaching Vocabulary Using Games At Aisyiah Kindergarten Margosari Karangmalang Sragen | Inggris | lengkap | |
| 3 | PTK TK-03 | Perkembangan Motorik Anak Dini Usia Pada Play Group Permata Bunda SKB Mojoagung Jombang Tahun Pelajaran 2006/2007. | 62 | lengkap | |
| 4 | PTK TK-04 | Meningkatkan Minat Belajar Untuk Menciptakan Suasana Pembelajaran Yang Aktif, Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan Melalui Permainan Dari Bahan Sisa Pada Anak Kelompok A Di Taman Kanak – Kanak Pembina 2 Xxx | 47 | lengkap | |
| 5 | PTK TK-05 | Bermain Kartu Bilangan Untuk Meningkatkan Ketrampilan Matematika (Penelitian Tindakan Kelas Pada Anak Xxx) Tahun Xxxx | 65 | lengkap | |
| 6 | PTK TK-06 | Integrasi Outdoor Learning dan Indoor Learning dalam Meningkatkan Kemandirian Anak di TK Anak Saleh Xxx | 38 | Tdk ada cover, lengkap dg lampiran | |
| 7 | PTK TK-07 | Penggunaan Celemek Cerita Untuk Meningkatkan Kemandirian Anak TK Kelompok A ( Penelitian Tindakan Kelas Di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Pucanganom – Sidoarjo) | 44 | lengkap | |
| 8 | PTK TK-08 | Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa TK dalam Pembelajaran Kemampuan Berbahasa melalui Penerapan Media Gambar (Penelitian Tindakan Kelas di TK. Negeri Pembina Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo) isi 28 hlm | 54 | lengkap | |
| 9 | PTK TK-09 = Pd 618 | Kemampuan Anak dalam Menari dengan Menggunakan Metode Meniru, SAS dan Demonstrasi serta Eksperimen di Tk Islam Al-Madina Semarang | 75 | tdk ada lampiran | |
| 10 | PTK TK-10 = Pd 823 | Upaya Meningkatkan Kemampuan Menceritakan Kembali Cerita yang Pernah Didengar Melalui Metode Bercerita Menggunakan Papan Fanel di TK XXX Tahun 2012 *) | 111 | Lengkap, pdf | |
| 11 | PTK TK 011 = Pd 835 | Upaya Meningkatkan Kemandirian Belajar Dengan Menggunakan Metode Bermain Peran Pada Anak Kelas B Taman Kanak-Kanak XXX Tahun Ajaran 2011/2012 | 123 | Lengkap, pdf | |
| 12 | PTK TK 012 = Pd 836 | Meningkatkan Kemampuan Membedakan Perbuatan Benar dan Salah Melalui Metode Bercerita Menggunakan Wayang Kardus Pada Kelompok B Di TK XXX | 112 | Lengkap, pdf | |
| 13 | PTK TK 013 = Pd 837 | Upaya Meningkatkan Kemampuan Menjawab Pertanyaan Sederhana Melalui Metode Permainan Kartu Gambar Di TK XXX Tahun 2012 | 119 | Lengkap, pdf | |
| 14 | PTK TK 014 = Pd 852 | Meningkatkan Kemampuan Mengutarakan Pendapat Kepada Orang Lain Melalui Metode Sosiodrama Pada Anak Kelompok B Di TK XXX Tahun 2011/2012 | 150 | Lengkap, pdf | |
| 15 | PTK TK 015 = Pd 854 | Peningkatan Kemampuan Menyimak Perkataan Orang Lain Melalui Metode Bercerita Dengan Boneka Tangan Pada Anak Kelompok B TK XXX Tahun Pelajaran 2011/2012 | 147 | Lengkap, pdf | |
| 16 | PTK TK 016 = Pd 985 | Pengembangan Kreativitas Mengenal Huruf Vokal Melalui Media Kartu Huruf Pada Anak TK XXX Tahun Ajaran 2012/2013 | 92 | Lengkap, pdf | |
| 17 | PTK TK 017 = Pd 986 | Implementasi Proses Menebalkan Huruf Untuk Pengembangan Kemampuan Motorik Halus Pada Anak Kelompok B3 Di TK XXX 2012/2013 | 48 | Lengkap, pdf | |
| 18 | PTK TK 018 = Pd 987 | Upaya Pengembangan Kemampuan Berhitung Permulaan Melalui Media Bermain Kartu Angka Dan Kartu Bergambar Pada Siswa B2 Di TK XXX Tahun 2013 | 71 | Tidak Ada Lampiran, Pdf | |
| 19 | PTK TK 019 = Pd 988 | Implementasi Permianan Balok Warna Untuk Mengembangkan Kemampuan Kognitif Anak Kelompok B TK XXX | 54 | Tidak Ada Lampiran, Pdf | |
| 20 | PTK TK 020 = Pd 989 Pdf | Peningkatan Kemampuan Berbahasa Menggunakan Alat Peraga Dengan Metode Bercerita Pada Anak Kelompok B | 45 | Tidak Ada Lampiran, Pdf | |
| 21 | PTK TK 021 = Pd 990 | Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Melalui Media Kantung Pintar Pada Anak Kelompok B TK XXX Tahun Ajaran 2012/2013 | 83 | Lengkap, pdf | |
| 22 | PTK TK 022 = Pd 991 | Upaya Pengembangan Pengenalan Huruf Abjad Melalui Metode Demonstrasi Dengan Alat Peraga Gambar Pada Anak Kelompok Bermain XXX Tahun 2012-2013 | 71 | Lengkap, pdf | |
| 23 | PTK TK 023 = Pd 992 | Upaya Mengembangkan Kemampuan Menyusun Kalimat Sederhana Melalui Media Gambar Pada Anak Kelompok B TK XXX Tahun 2012/2013 | 57 | Lengkap, pdf | |
| 24 | PTK TK 024 = Pd 993 | Upaya Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Melalui Media Gambar Pada Anak Kelompok A TK XXX Tahun 2012/2013 | 58 | Lengkap, pdf | |
| 25 | PTK TK 025 = Pd 994 | Upaya Mengembangkan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Papan Planel Pada Kelompok B1 Di TK XXX Tahun 2013 | 83 | Lengkap, pdf | |
| 26 | PTK TK 026 = Pd 995 | Mengembangkan Kemampuan Berhitung Melalui Media Kerang Berwarna Pada Anak Kelompok B Di TK XXX Tahun 2012/2013 | 85 | Lengkap, pdf | |
| 27 | PTK TK 027 = Pd 996 | Penerapan Metode Eksperimen Dalam Mengembangkan Kemampuan Sains Pada Anak Kelompok B RA XXX Tahun 2012/2013 | 90 | Lengkap, pdf | |
| 28 | PTK TK 028 = Pd 997 | Penggunaan Media Gambar Berwarna Pada Kelompok B Dalam Mengembangkan Kemampuan Membaca Anak TK XXX Tahun 2012/2013 | 38 | tdk ada lampiran, pdf | |
| 29 | PTK TK 029 = Pd 1004 | Pengembangan Kemampuan Kognitif Melalui Permainan Mencari Pasangan Pada Anak Kelompok A Di TK XXX Tahun Pelajaran 2012/2013 | 82 | Lengkap, pdf |
Rabu, 11 Maret 2015
PTK TK
Rabu, 27 Maret 2013
PTK SMP 59 - UPAYA MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP MATERI PENDIDIKAN KEWARNEGARAAN
UPAYA MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP
MATERI PENDIDIKAN KEWARNEGARAAN
MELALUI METODE BERMAIN PERAN DAN
DISKUSI
PADA SISWA KELAS IX-B SMPN 3 NGUNUT
KABUPATEN TULUNGAGUNG
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Setiap sekolah selalu berharap bahwa penyelenggaraan pendidikan yang
dilakukan dapat berhasil dengan baik. Secara umum keberhasilan ini dapat diukur
dengan tingkat prestasi yang diperoleh. Sebenarnya pernyataan tersebut sangat
keliru. Tolok ukur keberhasilan pendidikan seharusnya diukur dari ‘in-put’ dan ‘out-put’. Seberapa besar
peningkatan dari prestasi yang dicapai oleh siswa pada saat dia masuk sekolah
tersebut dan pada saat dia keluar dari sekolah tersebut.
Upaya-upaya yang dilakukan misalnya dengan mengirim para guru untuk
mengikuti kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) di tingkat kepengawasan. Pengetahuan
para guru dapat lebih meningkat, sehingga penyelenggaraan
belajar-mengajar dapat lebih baik lagi. Penggunaan metode mengajar yang
bervariasi juga merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh guru untuk dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa.
Pendekatan pembelajaran yang paling sesuai adalah pembelajaran yang
berorientasi pada kepentingan siswa atau siswa sentris. Hal ini sesuai dengan
pendekatan pembelajaran diskaveri/inkuiri yang menunjukkan dominasi peserta
didik selama proses pembelajaran, sedangkan guru sebagai fasilitator. Selaras
dengan uraian di atas adalah penggunaan pendekatan pembelajaran Contextual
Teaching and Learning (CTL), yaitu konsep pembelajaran yang membantu
guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan membantu siswa
untuk menghubungkan pengetahuannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota
keluarga dan masyarakat di mana dia berada.
Bermain peran merupakan salah satu metode mengajar yang dapat menumbuhkan
motivasi pada siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti kegiatan belajar
mengajar. Metode bermain peran mengajak siswa untuk berperan menjadi orang
tertentu dalam masyarakat. Pembelajaran ini membutuhkan pengalaman yang luas
dari siswa. Dengan metode bermain peran yang dilaksanakan dengan baik, maka
siswa dapat lebih mudah untuk dapat memahami materi pelajaran yang disajikan,
sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
Selain itu, kegiatan diskusi juga dapat melatih siswa untuk berani
mengungkapkan pendapatnya. Dengan metode diskusi juga dapat membantu siswa
untuk dapat menghargai pendapat orang lain dan menerima pendapat orang lain.
Kondisi ini dapat menjadi bekal bagi siswa untuk menghadapi kenyataan hidup di
masyarakat, dengan segala macam kemajemukannya.
Dengan kedua metode di atas, yang dilaksanakan secara sinergis,
diharapkan akan mampu membangkitkan minat belajar siswa sehingga penguasaan
konsep materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan akan semakin meningkat.
Berdasarkan uraian di atas, maka kami mengadakan penelitian tindakan
kelas dengan judul "Upaya
Meningkatkan Penguasaan Konsep Materi Pendidikan Kewarganegaraan Melalui Metode
Bermain Peran dan Diskusi Pada Siswa Kelas I SDN Merjosari V , Kecamatan
Lowokwaru, Kota Malang".
1.2 Fokus
Penelitian
Setiap guru selalu berusaha agar dapat meningkatkan prestasi belajar
peserta didik. Berbagai cara dilakukan, salah satu diantaranya adalah
penggunaan metode mengajar secara tepat. Dengan metode bermain peran dan
diskusi yang dikombinasikan secara tepat akan dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa. Oleh karena itu, maka permasalahan dalam penelitian tindakan
kelas ini dapat dirumuskan sebagai berikut: "Apakah penggunaan metode bermain peran dan diskusi dapat meningkatkan penguasaan
konsep materi Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas I SDN Merjosari V,
Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang”
1.3 Tujuan
Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan utama dalam penelitian
ini adalah untuk mendeskripsikan penguasaan tentang konsep materi Pendidikan
Kewarganegaraan pada siswa kelas I SDN
Merjosari V, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, melalui metode bermain peran dan diskusi.
1.4 Hipotesis
Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah “Jika metode Bermain Peran dan diskusi
digunakan dalam pembelajaran, maka penguasaan konsep materi Pendidikan
Kewarganegaraan siswa kelas I SDN Merjosari V, Kecamatan Lowokwaru, Kota
Malang, akan meningkat”.
1.5 Manfaat
Penelitian
DAFTAR
RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, Supardi. 2006. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Pendidikan
Kewarganegaraan, Buku 2. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama
Hisyam Zaini, Bermawy Munthe, Sekar Ayu Aryani.
2004. Strategi Pembelajaran Aktif.
Yogyakarta: CTSD.
Ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1999, Tentang GBHN. Surabaya: Penabur Ilmu.
Miarsa, Yusufhadi. 1995. Peningkatan Mutu Pendidikan, Jurnal
Teknologi Pembelajaran. Malang: IPTPI.
Mulyasa, E.. 2005. Menjadi Guru Profesional,
Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya Offset.
Nazir, Moh.
1988. Metode Penelitian.
Jakarta: Ghalia Indonesia.
Oemar Hamalik. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Saiful Rachman,
Yoto, Syarif Suhartadi, Suparti. 2006.
Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan
Karya Ilmiah. Surabaya: SIC Bekerjasama Dengan Dinas P dan K Provinsi Jawa
Timur.
Slameto. 1991. Proses Belajar Mengajar Dalam Sistem
Kredit Semester (SKS). Jakarta: Bumi Aksara.
Soetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi
Belajar Mengajar. Surabaya:
Usaha Nasional.
Untuk mendapatkan file skripsi /
Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700
PTK SMP 58- UPAYA MEMBANTU SISWA MENGINGAT KEMBALI MATERI PELAJARAN
UPAYA
MEMBANTU SISWA MENGINGAT KEMBALI MATERI PELAJARAN MATEMATIKA LEWAT METODE
BELAJAR AKTIF MODEL MEMBERI PERTANYAAN DAN MENDAPATKAN JAWABAN PADA SISWA KELAS
…
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Akhir dari rangkaian proses belajar mengajar adalah
tes akhir suatu mata pelajaran yang dilakukan melalui tes formatif, sub
sumatif, tes sumatif, tes akhir semester atau tes ujian akhir bagi siswa kelas
VI, kelas IX, atau kelas XII. Di dalam
menghadapi tes ujian akhir atau Ujian Nasional (UNAS) bagi siswa kelas …………
sekolah dasar perlu adanya refreshing
terhadap materi ajar yang telah diterima oleh siswa selama mengikuti proses
belajar mengajar.
Bagaimanakah caranya agar siswa tidak melupakan materi
pelajaran yang telah diterimanya sehingga nantinya siap menghadapi UNAS yang
siap atau tidak siap harus mereka hadapi. Bagaimanakah membuat suatu materi
ajar agar tidak terlupakan oleh anak didik. Dalam hal ini guru harus mencari metode untuk
mengingatkan segala memori di benak siswa yang telah mereka terima. Guru harus
bisa membangkitkan kembali memori itu.
Salah satu metode pengajaran yang bisa membuat anak
bisa dan harus mengingat kembali materi pelajaran yang telah mereka terima
adalah cara belajar aktif model pembelajaran meninjau ulang kesulitan pada materi
pelajaran.
Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa
sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar
yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah
kegiatan belajar aktif.
Agar belajar manjadi aktif, siswa harus mengerjakan
banyak sekali tugas. Mereka haru
menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang
mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh
gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa
dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud).
Bertitik
tolak dari latar belakang permasalahan tersebut di atas maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Upaya
Membantu Siswa Mengingat Kembali Materi Pelajaran Matematika Lewat Metode
Belajar Aktif Model Memberikan Pertanyaan Dan Mendapatkan Jawaban Pada Siswa
Kelas ……… Tahun Pelajaran 2004/2005”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada
latar belakang tersebut, maka masalah yang timbul dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimanakah tingkat penguasaan materi
pelajaran Matematika siswa kelas ………………………………. tahun pelajaran 2004/2005?
2. Seberapa jauh tingkat penguasaan materi
pelajaran Matematika yang telah diterima siswa dalam menghadapi ujian akhir?
- Bagaimanakah pengaruh metode belajar aktif
model memberi pertanyaan mendapat jawaban dalam mengingatkan kembali
materi pelajaran matematika yang telah dipelajari pada siswa kelas
……………………………ahun pelajaran 2004/2005?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai
dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
- Mengetahui tingkat pengusasaan materi
pelajaran matematika yang telah dipelajari pada siswa kelas ………………………………
tahun pelajaran 2004/2005.
- Mengetahui pengaruh metode belajar aktif
model memberi pertanyaan mendapat jawaban pada siswa kelas ………………………..
tahun pelajaran 2004/2005.
D. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi:
- Sekolah sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran bahasa Inggris.
- Guru, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.
- Membantu siswa mengingat kembali materi pelajaran khususnya pelajaran matematika guna menghadapi ujian.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta
Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses
Belajar Mengajar. Bandung:
Sinar Baru Algesindon.
Lee, W.R. 1985. Language Teaching
Games and Contests. London: Oxfortd University Press.
Melvin,
L. Siberman. 2004. Aktif Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung:
Nusamedia dan Nuansa.
Riduawan.
2004. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula.
Bandung: Alfabeta.
Sudjana,
Nana. 1989. Dasar-dasar Proses
Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Sukmadinata,
Nana Syaodih. 2004. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Surakhmad,
Winarno. 1990. Metode Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars.
Weed,
Gretchen, E. 1971. Using Games in Teaching Children. ELEC Bulletin No. 32.
Winter. Tokyo. Japan.
4.
Untuk mendapatkan file skripsi /
Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700
PTK SMP 56 - PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PKN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ‘TATAS’
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PKN
DENGAN MENGGUNAKAN METODE ‘TATAS’
PADA SISWA KELAS IX-A SMPN 3 NGUNUT
KABUPATEN TULUNGAGUNG
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sering kurang diperhatikan oleh
semua pihak di lingkungan sekolah, baik guru maupun siswa. Mata pelajaran PKn
dianggap terlalu banyak menghafal, banyak membaca. Sehingga banyak siswa yang
merasa jenuh dengan materi mata pelajaran ini.
Kondisi tersebut sering diperparah oleh keadaan bahwa siswa merasa kurang
tertarik, menganggap mudah, dan menganggap pelajaran yang menjemukan.
Keberadaan mata pelajaran PKn sering dianggap kurang bermanfaat bagi siswa.
Sejak mata pelajaran PKn tidak termasuk mata pelajaran yang diujikan dalam
Ujian Akhir Nasional, maka semakin dianggap tidak berarti bagi siswa.
Metode mengajar menjadi salah satu bagian yang ikut memperburuk
pan-dangan berbagai pihak tentang mata pelajaran PKn. Terlebih lagi jika mata
pelajaran ini disampaikan dengan cara-cara yang kurang menarik. Penggunaan
metode menga-jar yang monoton, kurang variasi akan semakin memperparah keadaan.
Kejenuhan siswa akan lebih cepat muncul dalam kondisi seperti ini.
|
Hamalik (1992:173) menyebutkan tentang motivasi bahwa “Suatu masalah di dalam kelas, motivasi
adalah proses membangkitkan, mempertahankan, dan mengontrol minat-minat”. Minat belajar anak harus dapat ditumbuhkan
dalam setiap proses belajar mengajar. Minat belajar yang tinggi akan sangat
berpengaruh terhadap peran serta atau aktifitas anak dalam mengikuti kegiatan
belajar mengajar. Proses membangkitkan
minat belajar, mempertahankan minat belajar dan mengon-trol minat belajar menjadi
bagian yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Jadi tanpa motivasi belajar yang memadai,
sangat sulit bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran untuk dapat
mencapai tujuan yang diharapkan.
Motivasi belajar siswa dapat
berasal dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Kecerdasan, cita-cita atau
harapan, kesenangan merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang
dapat menumbuhkan minat belajar yang tinggi.
Kondisi lingkungan, metode mengajar, waktu belajar merupakan faktor-faktor
yang berasal dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi minat belajar. Jika
faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut dalam kondisi baik, maka minat belajar
siswa juga semakin tinggi. Namun jika faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut
kondi-sinya kurang kondusif, maka motivasi belajar siswa juga akan rendah.
Keadaan tersebut juga terjadi pada siswa kelas 1 SDN Merjosari V,
Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Motivasi
belajar siswa sangat rendah. Kondisi ini
disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: (1) mata pelajaran PKni diberikan
pada jam pelajaran terakhir; (2) siswa merasa kurang tertarik pada pelajaran PKn;
(3) siswa sulit untuk menguasai materi pelajaran; (4) kondisi in-put
siswa relatif rendah; penggunaan metode yang kurang tepat.
SDN Merjosari V merupakan salah satu sekolah yang berada di pinggiran
kota. Siswa banyak yang kurang berminat terhadap mata pelajaran PKn. Pada siswa kelas 1 mata pelajaran PKn
diberikan pada jam pelajaran terakhir.
Kondisi siswa yang sudah merasa lelah, mengantuk, lapar, jenuh selalu
muncul setiap kali menerima pelajaran. Sikap siswa terhadap mata pelajaran PKn
masih relatif kurang. Sehingga siswa semakin sulit untuk dapat menguasai materi
pada mata pelajaran PKn.
Kondisi tersebut merupakan tantangan bagi guru. Bagimana agar siswa dapat
memiliki motivasi yang lebih besar terhadap mata pelajaran PKn. Salah satu
untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah dengan menggunakan meto-de
‘Tatas’. Metode ‘Tatas’ merupakan kombinasi dari metode ‘Tanya jawab’ dan metode
‘Penugasan/Pemberian tugas’ yang dikemas secara terpadu dengan membe-rikan
berbagai tambahan yang berupa ‘sangsi’ yang dapat mendorong siswa untuk dapat
lebih menguasai materi pelajaran. Dengan penggunaan metode ‘Tatas’ yang
dirancang secara matang dan dilaksanakan secara tepat diharapkan dapat
mendo-rong siswa lebih dapat meningkatkan persiapan dalam menerima pelajaran.
Pening-katan motivasi belajar siswa juga diharapkan membawa dampak positif
yaitu pening-katan prestasi belajar pelajaran PKn.
Terkait dengan permasalahan tersebut di atas, maka untuk mengkaji lebih
mendalam tentang peningkatan motivasi belajar siswa, peneliti ingin melakukan
penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Motivasi Belajar PKn Dengan
Menggunakan Metode ‘Tatas’ Siswa Kelas 1
SDN Merjosari V Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang”.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut di atas, maka
fokus penelitian dalam PTK ini adalah “Apakah
motivasi belajar PKn dapat meningkat dengan penerapan metode ‘Tatas’ pada siswa
kelas I SDN Merjosari V, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang”.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui deskripsi meningkatnya motivasi
belajar pelajaran PKn pada siswa kelas I SDN Merjosari V Kecamatan Lowokwaru,
Kota Malang dengan penerapan metode ‘Tatas’ dalam pembelajaran mata pelajaran PKn.
Dengan peningkatan motivasi belajar pada siswa, diharapkan juga membawa dampak
positif yaitu peningkatan prestasi belajar pada pelajaran PKn.
|
DePorter, B.
& Hernacki, M. 1992. Quantum Learning: unleashing the Genius in You.
Diterjemahkan oleh Alwiyah Abdurrahman. 1999. Bandung: Kaifa.
Hisyam Zaini, Bermawy Munthe, Sekar Ayu Aryani. 2004.
Strategi Pembelajaran Aktif.
Yogyakarta: CTSD.
Mangkunegara, AA. Anwar Prabu. 2001. Manajemen
Sumber Daya Perusahaan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Miarsa, Yusufhadi. 1995. Peningkatan Mutu Pendidikan, Jurnal Teknologi Pembelajaran. Malang:
IPTPI.
Miftah Toha. 1996. Perilaku Organisasi, Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: P.T.
Raja Grafindo Persada.
Moekijat. 1999. Manajemen
Sumber Daya Manusia, Manajemen Kepegawaian. Bandung: Mandar Maju.
Mulyasa, E.. 2005. Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Nazir, Moh.
1988. Metode Penelitian. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Oemar Hamalik. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Saiful Rachman, Yoto, Syarif Suhartadi, Suparti.
2006. Penelitian Tindakan Kelas dan
Penulisan Karya Ilmiah. Surabaya: SIC Bekerjasama Dengan Dinas P dan K Provinsi
Jawa Timur.
Slameto. 1991. Proses
Belajar Mengajar Dalam Sistem Kredit Semester (SKS). Jakarta: Bumi Aksara.
Soetomo. 1993. Dasar-dasar
Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Untuk mendapatkan file skripsi /
Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700
PTK SMP 55 - UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SENI MUSIK DENGAN MENGGUNAKAN
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SENI MUSIK
DENGAN MENGGUNAKAN PERAGA ALAT MUSIK BAGI SISWA KELAS 8A SMP NEGERI 2 BARAT
PADA SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2008/2009
ABSTRAKSI
Siti Rukanah, S.Pd “ UPAYA MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR SENI MUSIK DENGAN MENGGUNAKAN PERAGA ALAT MUSIK BAGI SISWA KELAS 8A
SMP NEGERI 2 BARAT PADA SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2008/2009”
Penelitian ini
bertujuan untuk mencari suatu strategi
pembelajaran yang efektif dan Efisien dalam mengajarkan materi turunan bagi
siswa kelas 8 A semester 1 di SMP Negeri 2 Barat dengan cara penggunaan alat
peraga pada pembelajaran. strategi dalam penelitian tindakan kelas ini
dilakukan melalui 2 siklus dan pada setiap siklus meliputi kegiatan
perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Sedang untuk
mengaktifkan siswa dalam penelitian ini , peneliti menggunakan lembar
kerja yang diberikan kepada siswa.
Yang menjadi subjek pada penelitian tindakan kelas
ini adalah siswa kelas 8A semester 1 di SMP Negeri 2 Barat sedangkan objeknya
adalah pembelajaran materi mengapresiasikan seni musik pada mata pelajaran pendidikan
seni musik yang diajarkan dengan cara demonstrasi dan mengaktifkan siswa dalam
kelompok.
Dari penelitian yang diadakan dengan meneliti
kondisi awal siswa yang diukur dengan alat tes tertulis dan hasil penelitian
tindakan kelas dengan 2 siklus terlihat adanya peningkatan hasil yang dicapai
siswa dalam menguasai materi yang diberikan. Peningkatan penguasaan materi ini
mulai dari siklus I siswa dapat meningkat sebesar 75 % dari kondisi awal sedang
dari kondisi di siklus I setelah dilakukan tindakan pada siklus II meningkat
sebesar 25 %.
Dari Hasil penelitian tindakan kelas ini maka
peneliti merekomendasikan pada pengambil jabatan ataupun pelaksana pembelajaran
dalam hal ini yaitu pengajar untuk mengajarkan materi pembelajaran dalam kelas
dan dengan tehnik pembelajaran demonstrasi dengan alat peraga.
Keyword
A
Pembelajaran Seni Musik
B
Alat peraga
C
Metode Pembelajaran demonstrasi
DAFTAR PUSTAKA
Abdul
Majid, 2005, Perencanaan
Pembelajaran.mengembangkan standar kompetensi guru, Bandung, PT Remaja
Rosdakarya, Bandung.Anita Lie, 2003, Cooperative Learning, Jakarta, PT Gramedia
Widiasarana Indonesia.
B. Asri
Budiningsih,DR, 2005, Belajar dan
Pembelajaran, Jakarta, Rineka Cipta.
Hamidi.Dr.M.Si, 2004, Metode Penelitian Kualitatif, Malang, Universitas Muhammadiyah.
Melvin.L. Silberman, 2006, Active Learning 101 cara belajar siswa aktif, Bandung, Penerbit
Nusamedia.
M. Sobry Sutikno, 2005. Pembelajaran Efektif apa dan bagaimana mengupayakannya, Mataram, NTP
Pres.
Sardiman.
A.M, 2004, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, PT Raja Grafindo
Persada.
Nasution.Prof.
Dr.M.A, 2003, Berbagai Pendekatan dalam
Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta, Bumi Aksara.
Suharsini
Arikunto.Prof, SuharDjono. Prof, Supardi.Prof, 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Bumi Aksara.
Sukidin,
Basrowi, Suranto, 2002, Manajemen
Penelitian Tindakan Kelas, Bandung. PT Insan Cendekia
Syaiful
Bahri Djamarah. Drs, 2002, Guru dan Anak
Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta, Rineka Cipta.
Syaiful Sagala,H. DR. M.Pd, 2003, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung.
Penerbit ALFABETA.
Totok Djuroto.Drs.M.Si, Bambang Suprijadi.Drs. M.Si,
2003, Menulis Artikel dan Karya Ilmiah,
Bandung, Remaja Resdokarya.
Untuk mendapatkan file skripsi /
Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700
PTK SMP 54- UPAYA MENINGKATKAN KESEGARAN JASMANI MELALUI PENDEKATAN BERMAIN DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN
UPAYA MENINGKATKAN KESEGARAN JASMANI MELALUI PENDEKATAN BERMAIN DALAM
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI BAGI SISWA KELAS IX E SMP NEGERI 2 BARAT
TAHUN PELAJARAN 2009 / 2010
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Negara berkembang selalu berusaha
untuk mengejar ketinggalannya, yaitu dengan giat melakukan pembangunan di
segala bidang kehidupan. Dalam bidang pendidikan pemerintah selalu berusaha
untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan berbagai cara seperti mengganti
kurikulum, meningkatkan kualitas guru melalui penataran-penataran atau
melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, memberi dana Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) dan sebagainya. Sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional, pasal 3 menyatakan bahwa : “Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Dengan memperhatikan isi dari UU No.
20 tahun 2003 tersebut, peneliti berpendapat bahwa tugas seorang peneliti
memang berat, sebab kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh keberhasilan
pendidikan dari bangsa itu sendiri. Jika seorang seorang guru atau pendidik
tidak berhasil mengembangkan potensi peserta didik maka negara itu tidak akan maju,
sebaliknya jika guru atau pendidik berhasil mengembangkan potensi peserta
didik, maka terciptalah manusia yang cerdas, terampil, dan berkualitas.
Untuk
mencapai tujuan ini peranan guru sangat menentukan. Menurut Wina Sanjaya (2006 : 19),
peran guru adalah: “Sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola,
demonstrator, pembimbing, dan evaluator”. Sebagai motivator guru harus mampu
membangkitkan motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
berhasil dengan baik. Salah satu cara untuk membangkitkan aktivitas siswa dalam
proses pembelajaran adalah dengan mengganti cara / model pembelajaran yang
selama ini tidak diminati lagi oleh siswa, seperti pembelajaran yang dilakukan
dengan ceramah dan tanya-jawab, model pembelajaran ini membuat siswa jenuh dan
tidak kreatif. Suasana belajar mengajar yang diharapkan adalah menjadikan siswa
sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri
masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru lebih banyak
bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Situasi belajar yang diharapkan di
sini adalah siswa yang lebih banyak berperan (kreatif)
Pendidikan
jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara
keseluruhan. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan
pada pencapaian tujuan tersebut. Tujuan pendidikan jasmani bukan hanya
mengembangkan ranah jasmani, tetapi juga mengembangkan aspek kesehatan,
kebugaran jasmani, keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional,
keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui kegiatan aktivitas
jasmani dan olah raga.
Pendidikan
jasmani merupakan media untuk mendorong perkembangan motorik, kemampuan fisik,
pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai
(sikap-mental-emosional-spritual-dan sosial), serta pembiasan pola hidup sehat
yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan yang seimbang.
Pendidikan
jasmani memiliki peran yang sangat penting dalam mengintensifkan
penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang
berlangsung seumur hidup. Pendidikan jasmani memberikan kesempatan pada siswa
untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas
jasmani, bermain, dan berolahraga yang dilakukan secara sistematis, terarah dan
terencana. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina, sekaligus
membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat.
Dalam proses
pembelajaran pendidikan jasmani guru harus dapat mengajarkan berbagai
keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan / olahraga,
internalisasi nilai-nilai (sportifitas, jujur kerjasama, dan lain-lain) dari
pembiasaan pola hidup sehat. Pelaksanaannya bukan melalui pengajaran
konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan
unsur fisik mental, intelektual, emosional dan sosial. Aktivitas yang diberikan
dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan dikdakdik-metodik, sehingga
aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran. Melalui pendidikan
jasmani diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman untuk
mengungkapkan kesan pribadi yang menyenangkan, kreatif, inovatif, terampil,
meningkatkan dan memeliharan kesegaran jasmani serta pemahaman terhadap gerak
manusia.
Namun kenyataan
di lapangan dalam masa transisi perubahan kurikulum dari kurikulum 2004 menjadi
kurikulum 2006 yang semula pendidikan jasmani dan kesehatan dengan alokasi
waktu 2 jam per minggu @ 45 menit, sekarang Pendidikan Jasmani dengan alokasi
waktu 3 jam per minggu @ 40 menit, masih banyak kendala dalam menerapkan kurikulum
tersebut. Hal ini disebabkan karena belum adanya sosialisasi secara menyeluruh
di jajaran pendidikan sehingga masih banyak perbedaan penafsiran tentang
pendidikan jasmani utamanya dalam pembagian waktu jam pelajaran.
Adanya ruang
lingkup mata pelajaran pendidikan jasmani dalam kurikulum 2006 untuk jenjang
SD/MI, SMP/MTs, dan SMA MA sebenarnya sangat membantu pengajar pendidikan
jasmani dalam mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan siswa.
Adapun ruang lingkup pendidikan jasmani meliputi aspek permainan dan olahraga,
aktivitas pengembangan, uji diri / senam, aktivitas ritmik, aktivitas ritmik,
akuatik (aktivitas air) dan pendidikan luar kelas.
Sesuai dengan
karakteristik siswa SMP, usia 12 – 16 tahun kebanyakan dari mereka cenderung
masih suka bermain. Untuk itu guru harus mampu mengembangkan pembelajaran yang
efektif, disamping harus memahami dan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan
siswa. Pada masa usia tersebut seluruh aspek perkembangan manusia baik itu
kognitif, psikomotorik dan afektif mengalami perubahan. Perubahan yang paling
mencolok adalah pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikologis.
Agar standar
kompetensi pembelajaran pendidikan jasmani dapat terlaksana sesuai dengan
pedoman, maksud dan juga tujuan sebagaimana yang ada dalam kurikulum, maka guru
pendidikan jasmani harus mampu membuat pembelajaran yang efektif dan
menyenangkan. Untuk itu perlu adanya pendekatan, variasi maupun modifikasi
dalam pembelajaran.
Berdasarkan
uraian di atas, penulis melakukan penelitian dengan judul Upaya Meningkatkan
Kesegaran Jasmani melalui Pendekatan Bermain dalam Pembelajaran Pendidikan
Jasmani Siswa Kelas 9 SMP Negeri 2 Barat Madiun Tahun Pelajaran 2009/2010.
B.
Identifikasi Masalah
Dengan adanya
kurikulum berbasis kompetensi yang merupakan pedoman bagi guru dan merupakan
bahan kegiatan dalam pembelajaran, maka siswa perlu mempelajari dan
melaksanakan untuk mencapai kompetensi yang sudah dirumuskan. Untuk mencapai
standar kompetensi tersebut bukanlah yang mudah. Adapun
permasalahan-permasalahan yang muncul dilapangan adalah sebagai berikut:
- Banyak dikalangan pendidikan yang belum memahami tentang perbedaan
Pendidikan Jasmani dan Olah Raga.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas, 2003, Kurikulum 2004, Standar
Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani SMP/MTs, Jakarta : Depdiknas.
Depdiknas, 2003, Undang-Undang R.I Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta : Depdiknas
J. Mata Kupan, 2002, Teori Bermain, Jakarta :
Universitas Terbuka
Ngalim Purwanto. M, 2003, Ilmu Pendidikan Teori
dan Praktik, Bandung : Remaja Rosdakarya.
Winata Putra Udin, 1994, Strategi Belajar
Mengajar, Jakarta : Universitas Terbuka
Untuk mendapatkan file skripsi /
Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700
PTK SMP 53 - Meningkatkan prestasi belajar Matematika pada pokok bahasan Operasi Pada Bentuk Aljabar
Meningkatkan prestasi belajar
Matematika pada pokok bahasan Operasi Pada Bentuk Aljabar bagi siswa kelas VIII
B Matematika SMP Negeri 2 Randublatung Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pembangunan nasional yang sedang
dilaksanakan bertujuan untuk membangun manusia Indonesia yang seutuhnya. Ini
berarti bahwa pembangunan mempunyai jangkauan yang luas dan jauh. Berhasil
tidaknya program pembangunan faktor manusia memegang peranan yang sangat
penting. Untuk pembangunan ini diperlukan manusia yang berjiwa pemikir, kreatif
dan mau bekerja keras, memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki
pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki sifat positif terhadap etos kerja.
Sekolah
sebagai tempat proses belajar mempunyai kedudukan yang sangat penting dan
menonjol dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu pendidikan di sekolah memegang
peranan penting dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara
optimal dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal
seperti yang diharapkan.
Menurut Syah (1998) ditemukan bahwa penguasaan
guru tentang metode pengajaran masih berada
dibawah standar. Maka guru merasa tergugah untuk memperbaikinya melalui
peningkatan penguasaan metode mengajar.
Pendidikan
merupakan suatu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia. Menciptakan
manusia yang cerdas dan maju perlu diimbangi dengan peningkatan mutu
pendidikan. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan.
Dalam proses belajar mengajar tersebut guru menjadi pemeran utama dalam
menciptakan situasi interaktif yang edukatif, yakni interaksi antara guru
dengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber pembelajaran dalam menunjang
tercapainya tujuan belajar.
Mutu
pendidikan sangat erat kaitannya dengan mutu guru. Kunci keberhasilan
pelaksanaan sangat ditentukan oleh faktor guru sebagai pengelola kegiatan
pembelajaran. Namun semua juga tidak terlepas dari kemampuan siswa dari proses
pembelajaran berlangsung, dari proses belajar mengajar ini harus kerja sama
antara guru dengan murid ini akan menghasilkan hasil yang maksimal dengan
meminimalkan kendala yang ada dengan memaksimalkan keunggulan dari keduanya.
Untuk mencapai tujuan ini peranan guru
sangat menentukan. Menurut Wina Sanjaya (2006 : 19), peran guru adalah:
“Sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, dan
evaluator”. Sebagai motivator guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa
agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik. Salah satu
cara untuk membangkitkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah
dengan mengganti cara / model pembelajaran yang selama ini tidak diminati lagi
oleh siswa, seperti pembelajaran yang dilakukan dengan ceramah dan tanya-jawab,
model pembelajaran ini membuat siswa jenuh dan tidak kreatif. Suasana belajar
mengajar yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya
menggali sendiri, memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang
dipelajari, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai motivator dan
fasilitator. Situasi belajar yang diharapkan di sini adalah siswa yang lebih
banyak berperan (kreatif).
Matematika sebagai salah satu
bidang studi yang memiliki tujuan membekali siswa untuk mengembangkan
penalarannya di samping aspek ilmu pasti banyak memuat materi bersifat hitungan
sehingga pengetahuan dan informasi yang diterima siswa lebih banyak dengan
menggunakan perhitungan. Sifat materi pelajaran Matematika tersebut membawa
konsekuensi terhadap proses belajar mengajar yang didominasi oleh pendekatan
ekspositoris, biasanya guru menggunakan metode ceramah maupun tanya jawab terjadi dialog imperatif. Padahal dalam
proses belajar mengajar keterlibatan siswa secara totalitas, artinya melibatkan
pikiran, penglihatan, pendengaran dan psikomotor (keterampilan, salah satunya
sambil menulis). Jadi dalam proses belajar mengajar, seorang guru harus
mengajak siswa untuk mendengarkan, menyajikan media yang dapat dilihat, memberi
kesempatan untuk menulis dan mengajukan pertanyaan atau tangapan, sehingga
terjadi dialog kreatif yang menunjukkan proses belajar mengajar yang
interaktif. Situasi belajar ini dapat tercipta melalui penggunaan “pendekatan Teams
Games Tournaments (TGT)”
Pada SMP Negeri 2 Randublatung sejak
peneliti mengajar, dalam pembelajaran Matematika, peneliti sering menggunakan
model pembelajaran ceramah. Model pembelajaran ini tidak dapat membangkitkan
aktivitas siswa dalam belajar. Hal ini tampak dari perilaku siswa yang
cenderung hanya mendengar dan mencatat pelajaran yang diberikan guru. Siswa
tidak mau bertanya apalagi mengemukakan pendapat tentang materi yang diberikan.
Sebagai seorang
guru yang professional hendaknya dapat memilih dan menerapkan metode yang
efektif agar materi yang dipelajari oleh siswa dapat dMatematikahami dengan
baik serta dapat meningkatkan prestasi belajar. Lebih menarik lagi jika pada
pembelajaran ditemukan metode dan cara-cara yang baru agar dapat terjadi
interaksi yang menarik antara siswa dengan guru. Diantara cara dan metode yang
digunakan dengan menggunakan sarana yang ada di sekolah diantaranya TGT (Teams
Games Tournaments) dengan menggunakan turnamen games akademik yang mana
siswa bersaing sebagai perwakilan home team (tum rumah) dengan anggota
tim lain. TGT hampir sama dengan STAD adalah model cooperative learning (CL)
yang diciptakan Yang diciptakan oleh Robert E. Sulevin dan koleganya dari
Universitas John Hopkins Amerika Serikat, titik berat pada pengajaran ini
adalah siswa dituntut aktif belajar dengan cara berkelompok. Perbedaan dengan model
STAD adalah pada tes dan sistem perbaikan skor individu diganti dengan
turnamen game akademik ini diharapkan
siswa dapat meningkatkan prestasinya.
B.
Identifikasi
Masalah
Dalam proses belajar mengajar di
sekolah, siswa kelihatan belum serius dalam mengikuti pelajaran, motivasi
belajar Matematika masih kurang, kurang memiliki bekal yang cukup untuk
mengikuti kegiatan belajar di sekolah hal ini dapat dibuktikan dengan sering
guru memberi pertanyaan pada akhirnya guru sendiri yang menjawab. Hal tersebut
terlihat bahwa pelajaran didominasi oleh guru dan penjelasan guru kurang
didukung dengan alat peraga yang sesuai dan menarik perhatian siswa. Dari
kondisi ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dari guru, perbaikan
pembelajaran itu dapt dimulai dari diri guru yaitu dengan melakukan perbaikan
dengan memperbaiki metode belajar, media, dan system belajar mengajar. Dari
diri siswa dengan menumbuhkan motivasi belajar siswa.
Banyak siswa
kurang berminat terhadap mata pelajaran Matematika karena dianggap sebagai pelajaran
yang kurang menyenangkan, akibatnya materi yang sebenarnya mudah menjadi sulit
untuk siswa. Berdasarkan latar belakang masalah, dapat diidentifikasi kendala –
kendala yang ada di lapangan dalam proses pembelajaran, sehingga prestasi
belajar Matematika masih masuk dalam
kategori rendah. Dari kendala – kendala tersebut dapat diidentifikasi sebagai
berikut :
a.
Siswa
kurang memperhatikan dalam pembelajaran.
b.
Siswa kurang berani dalam mengemukakan
pendapat.
c.
Siswa beranggapan bahwa dalam belajar
kelompok tidak perlu semua bekerja.
d.
Adanya siswa yang suka membicarakan hal
lain, yang tidak berhubungan dengan tugas kelompok.
e.
Tanggung
jawab siswa terhadap kewajiban masih rendah.
f.
Anggapan bahwa pelajaran Matematika itu
sulit.
g.
Nilai pelajaran matematika cenderung
rendah.
h.
Guru mendominasi pelajaran
i.
Guru belum menggunakan metode dan alat
peraga yang sesuai.
Berangkat
dari masalah – masalah yang sangat mengganggu dan menghambat siswa yang
bersangkutan untuk meraih prestasi yang lebih tinggi, maka penulis mengadakan
perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan terhadap mata pelajaran Matematika pada diri siswa.
C.
Perumusan
masalah
Dari
identifikasi masalah, diketahui faktor-faktor yang menyebabkan siswa kurang
menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru. maka dapat dikemukakan
analisis pemasalahan sebagai berikut :
1.
Metode yang digunakan guru tidak tepat
sehingga diperlukan metode yang baru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa.
2.
Pembelajaran berpusat pada guru, siswa kurang bisa menginterprestasikan
kemampuannya. Sehingga perlu metode yang dapat mengembangkan kemampuan individu
maupun kelompok.
3.
Guru sangat dominan sehingga
keberhasilan siswa pada saat belajar sangat tergantung kemampuan guru dalam
memberikan materi pelajaran. Pada pembelajaran selanjutnya siswa diharapkan
untuk lebih aktif baik secara individu maupun kelompok.
4.
Kurangnya perhatian siswa ketika
pembelajaran berlangsung, perlu metode interaktif yang mampu menumbuhkan
kreatifitas siswa.
Berdasarkan identifikasi dan
analisis masalah yang menjadi fokus perbaikan maka dapat dirumuskan sebagai
berikut : “Penggunaan model pembelajaran TGT (Team Games Tournament) untuk
meningkatkan prestasi belajar Matematika pada pokok bahasan Operasi Pada Bentuk
Aljabar bagi siswa kelas VIII B Matematika SMP Negeri 2 Randublatung Semester I
Tahun Pelajaran 2008/2009”.
D.
Tujuan
Penelitian
Dari latar
belakang yang telah dikemukakan maka penelitian ini bertujuan untuk :
1.
Mendapatkan metode yang tepat dalam membelajarkan Matematika
pada materi Gelombang Bunyi.
2.
Meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika pada
materi Gelombang Bunyi melalui penggunaan Metode TGT.
3.
Meningkatkan prestasi belajar siswa pada pelajaran Matematika
4.
Membangkitkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran Matematika
DAFTAR PUSTAKA
Andi Hakim
Nasution. 1982. Landasan Matematika.
Jakarta : Bharata Karya Aksara.
Daniel
Muijs dan David Reynolds 2008. EffectiveTteaching
Teori dan Aplikasi (Edisi ke -2 ) Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Hisyam
Zaini, Bermawy Munthe & Sekar Ayu Aryani, 2007, Strategi Pembelajaran Aktif, CTSD,IAIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta.
Gagne,
Robert M and Leslie J. Briggs, 1978. Principles
of Instructional Design. 2nd Ed, New York : Holt Rinehart and
Winstons.
Russeffendi
1988. Pengantar kepada membantu guru
mengembangkan kompetensinya dalam pengajaran matematika untuk meningkatkan
CBSA. Bandung : Tarsito
Nana
Sudjana. 1995. Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Sudirman,
2007. Cerdas Aktif Matematika.
Jakarta : Ganeca Exact.
Untuk mendapatkan file skripsi /
Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700
Langganan:
Postingan (Atom)









