Minggu, 23 September 2012

PTK SD -11 UPAYA PENINGKATAN BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN MATEMATIKA MATERI PELAJARAN PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN DENGAN ALAT PERAGA TABEL BILANGAN


UPAYA PENINGKATAN BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN MATEMATIKA MATERI PELAJARAN PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN DENGAN ALAT PERAGA TABEL BILANGAN KELAS I SEMESTER 2 SD NEGERI NGABEYAN 02 KECAMATAN KARTASURA KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN PELAJARAN 2008/2009

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
               Kegiatan belajar merupakan salah satu kegiatan pokok dalam proses pembelajaran. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Keberhasilan dari proses belajar ditandai dengan tercapainya tujuan pengajaran dan prestasi belajar secara maksimal.
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia. Menciptakan manusia yang cerdas dan maju perlu diimbangi dengan peningkatan mutu pendidikan. Mutu pendidikan sangat erat kaitannya dengan mutu guru. Kunci keberhasilan pelaksanaan sangat ditentukan oleh faktor guru sebagai pengelola kegiatan pembelajaran. Proses belajar mengajar akan optimal apabila guru mampu merencanakan pelaksanaan sampai evaluasi. Menurut Suryo Subroto (1997 : 19) proses belajar mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai dengan evaluasi dan program tindak lanjut. Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa pembelajaran tidak terlepas dari evaluasi.
 Seiring dengan hal diatas tidak terlepas dari penguasaan materi pelajaran khususnya matematika pada diri siswa kelas 1 di Sekolah Dasar Negeri  Ngabeyan 02 Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo. Menurut data hasil ujian  Kelas I Tahun Pelajaran 2007/2008 daya serap terhadap mata pelajaran matematikan hanya 65%. Pada materi penjumlahan dan pengurangan dalam dua kali ulangan yang mencapai penguasaan materi sebesar 70% hanya 8 orang dari 25 siswa. Dari permasalahan tersebut maka guru akan mencari masalah yang menjadi kendala bagi siswa Sekolah Dasar Ngabeyan 02 Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo sehingga dapat membantu meningkatkan penguasaan materi pelajaran matematika sehinggga prestasi belajar siswa juga meningkat, perbaikan pembelajaran bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PGSD 4412) pada program S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Terbuka.
Susunan laporan ini berdasarkan catatan yang dibuat ketika merancang kegiatan perbaikan serta selama pelaksanaan, observasi dan diskusi yang dilakukan dalam 2 siklus penelitian tindakan kelas untuk mata pelajaran Matematika di  Kelas I, maka laporan ini disusun dengan sistematika secara garis besar meliputi Pendahuluan, Pelaksanaan Perbaikan, Hasil Penelitian dan Pembahasan, Kesimpulan dan Saran.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700










PTK SD -09 UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL MENGENAL PENTINGNYA KOPERASI DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA GAMBAR LAMBANG KOPERASI


UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL MENGENAL PENTINGNYA KOPERASI DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA
GAMBAR LAMBANG KOPERASI PADA
SISWA KELAS IV SD NEGERI
SABRANG DELANGGU
TP 2007 2008

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
        Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan bertujuan untuk membangun manusia Indonesia yang seutuhnya. Ini berarti bahwa pembangunan mempunyai jangkauan yang luas dan jauh. Berhasil tidaknya program pembangunan faktor manusia memegang peranan yang sangat penting. Untuk pembangunan ini diperlukan manusia yang berjiwa pemikir, kreatif dan mau bekerja keras, memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki sifat positif terhadap etos kerja.
                Sekolah sebagai tempat proses belajar mempunyai kedudukan yang sangt penting dan menonjol dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu pendidikan di sekolah memegang peranan penting dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal seperti yang diharapkan. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan. Dalam proses belajar mengajar tersebut guru menjadi pemeran utama dalam menciptakan situasi interaktif yang edukatif, yakni interaksi antara gur dengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar.
                Menurut Syah (1998) ditemukan bahwa penguasaan guru tentang metode pengajaran masih berada  dibawah standar. Maka guru merasa tergugah untuk memperbaikinya melalui peningkatan penguasaan metode mengajar.
                IPS sebagai salah satu bidang studi yangmemiliki tujuan membekali siswa untuk mengembangkan penalarannya di samping aspek nilai dan moral banyak memuat materi sosial dan bersifat hafalan sehingga pengetahuan dan informasi yang diterima siswa sebatas produk hafalan. Sifat materi pelajaran IPS tersebut membawa konsekuensi terhadap proses belajar mengajar yang didominasi oleh pendekatan ekspositoris, terutama guru menggunakan metode  ceramah maupun tanya  jawab terjadi dialog imperatif. Padahal dalam proses belajar mengajar keterlibatan siswa secara totalitas, artinya melibatkan pikiran, penglihatan, pendengaran dan psikomotor (keterampilan, salah satunya sambil menulis). Jadi dalam proses belajar mengajar, seorang guru harus mengajak siswa untuk mendengarkan, menyajikan media yng dapat dilihat, memberi kesempatan untukmenulis dan mengajukan pertanyaan atau tangapan, sehingga terjadi dialog kreatif yang menunjukkan proses belajar mengajar yang interaktif.
                Sebagai seorang guru yang professional hendaknya dapat memilih dan menerapkan metode yang efektif agar materi yang dipelajari oleh siswa dapat dipahami dengan baik serta dapat meningkatkan prestasi belajar.
Penguasaan siswa Sekolah Dasar Negeri Sabrang Delanggu terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial masih kurang karena menurut data terakhir semester II tahun 2007/2008 daya serap siswa terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada materi koperasi hanya 65 %, berdasarkan data tersebut maka guru akan mencari masalah-masalah yang mengganggu dan menghambat penguasaan siswa terhadap mata pelajaran tersebut sehingga dapat meningkatkan penguasaan materi dan hasil belajar siswa, perbaikan pembelajaran bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PGSD 4412) pada program S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Terbuka.
                Susunan laporan ini berdasarkan catatan yng dibuat ketika merancang kegiatan perbaikan serta slama pelaksanaan, observasi dan diskusi yang dilakukan dalam 2 siklus penelitian tindakan kelas untuk mata pelajaran IPS di kelas IV, maka laporan ini disusun dengan sistematika secara garis besar meliputi Pendahuluan, perencanaan perbaikan, pelaksanaan, temuan dan kesimpulan.
         

B.      Tujuan Penelitian

             Dari latar belakang yang telah dikemukakan maka penelitian ini bertujuan untuk :
1.       Mendeskripsikan cara yang lebih efektif dalam membelajarkan Ilmu Pengetahuan Sosial pada materi koperasi
2.       Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial khususnya dalam materi koperasi melalui penggunaan alat peraga gambar lambing koperasi?
3.       Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial 

C.      Manfaat Penelitian

                Proses penulisan laporan dimulai dengan adanya masalah yang dirasakan dalam pembelajaran. Langkah menemukan masalah dilanjutkan dengan mengidentifikasi masalah, menganalisis dan merumuskan masalah, kemudian merencanakan PTK dalam bentuk perbaikan, melakukan tindakan, mengamati dan melakukan refleksi

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700





PTK SD -08 UPAYA PERBAIKAN PEMBELAJARAN MELALUI PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) PADA MATA PELAJARAN IPS


UPAYA    PERBAIKAN    PEMBELAJARAN    MELALUI    PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV SEMESTER  2  SISWA  KELAS  IV  SDN  TETER  SIMO
DENGAN MENGGUNAKAN METODE DISKUSI
DAN MEDIA ALAT PERAGA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

        Keberhasilan dari suatu kegiatan sangat ditentukan oleh perencanaannya. Apabila perencanaan suatu kegiatan dirancang dengan baik, maka kegiatan akan lebih mudah dilaksanakan, terarah serta terkendali.
        Menurut Winarno (2003:6), perencanaan pembelajaran berperan sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran agar lebih terarah dan berjalan efisien dan efektif. Dengan perkataan lain perencanaan pembelajaran berperan sebagai skenario proses pembelajaran. Oleh karena itu perencanaan pembelajaran hendaknya bersifat luwes (fleksibel) dan memberi kemungkinan bagi guru untuk menyesuaikannya dengan respon siswa dalam proses pembelajaran sesungguhnya.
        Kegiatan mengajar merupakan upaya kegiatan menciptakan suasana yang mendorong inisiatif, motivasi dan tanggung jawab pada siswa untuk selalu menerapkan seluruh potensi diri dalam membangun gagasan melalui kegiatan belajar sepanjang hayat. Gagasan dan pengetahuan ini akan membentuk ketrampilan, sikap dan perilaku sehari-hari sehingga siswa akan berkompeten dalam bidang yang dipelajarinya.
        Ada kalanya dalam memberikan materi pelajaran kepada anak didik tidak selalu berjalan lancar sesuai dengan perencanaan atau gagal. Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan dalam memberikan materi pelajaran. Dari faktor anak, tingkat intelegensi dan latar belakang anak didik yang berbeda-beda menyebabkan hasil pembelajaran yang tidak sama pula. Sedangkan penyebab lain dari pihak guru adalah cara penyampaian materi yang dianggap anak didik sulit memahaminya, kurangnya media pembelajaran, metode pembejaran yang salah, sehingga tujuan pembelajaran kepada anak didik tidak mengenai sasaran, dan masih banyak lagi sebab-sebab kegagalan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.
        Dengan adanya kegagalan dalam memberikan materi pelajaran kepada anak didik, penulis menggunakan hal ini sebagai dasar dalam usaha memperbaiki pembelajaran. Penulis mencoba memperbaiki pembelajaran melalui prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sesuai dengan karakteristik PTK yaitu adanya masalah dalam PTK dipicu oleh kesadaran pada diri guru bahwa praktek yang dilakukan di kelas mempunyai masalah yang harus diselesaikan dan ditindaklanjuti agar terjadi perubahan pada keberhasilan anak didik. Penulis melakukan PTK yang diawali dengan refleksi diri, mengidentifikasi permasalahan pembelajaran dengan bantuan teman sejawat.
        Menurut Hardjodipuro dalam Basuki Wibawa (2003 : 7) berpendapat bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan.
        Seperti halnya penulis melakukannya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan materi pokok transportasi masa lalu dan kini. Kegagalan penulis dalam pembelajaran mata pelajaran IPS ini ditandai dengan rendahnya nilai yang diperoleh siswa pada akhir pembahasan          materi .        
        Pada mata pelajaran IPS, dari 13 siswa kelas VI yang tuntas dalam materi ini sebanyak 6 siswa apabila dipersentase adalah 46%, sedangkan yang belum tuntas sebanyak 7 siswa atau 54%.
        Beban tanggung jawab untuk menuntaskan keberhasilan pembelajaran siswa, penulis menindaklanjuti dari refleksi dan menentukan fokus perbaikan untuk mata pelajaran IPS. Pada siklus I adalah dengan menggunakan alat peraga berupa mobil-mobilan, sepeda motor mainan dan kapal terbang mainan. Selain itu dikembangkan metode pembelajaran dengan tanya jawab selama proses pembelajaran berlangsung serta membentuk kelompok diskusi dalam menyelesaikan lembar kerja siswa.

 

B.            Rumusan Masalah

                 Dalam mengidentifikasi masalah pada awalnya                penulis merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Dengan mendiskusikan dengan teman sejawat yang kebetulan sesama mahasiswa S1 PDSD UT maka permasalahan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dapat diidentifikasikan.

                 Penulis merumuskan identifikasi masalah yang dihadapi untuk mata pelajaran IPS yaitu:

                 Pada pembelajaran IPS di kelas IV dengan materi pokok transportasi masa lalu dan masa kini, ternyata setelah diadakan tes pada akhir pembahasan, ternyata hanya 6 siswa yang tuntas atau 46%, sedangkan 7 siswa atau 54% tidak tuntas.

                 Dari perolehan hasil belajar siswa yang rendah itu dapat diidentifikasi permasalahannya yaitu :


1.       Siswa belum memahami tentang perbedaan transportasi masa lalu dan masa kini.

2.       Perlu penjelasan yang rinci tentang transportasi masa lalu dan masa kini.

3.       Menggunakan alat peraga berupa benda nyata sebagai contoh dari transportasi masa lalu dan msa kini.

                Ketiga permasalahan itu merupakan alternatif dari sekian banyak temuan yang muncul selama pembelajaran berlangsung. Atas dasar temuan permasalahan itu, penulis dapat merumuskan masalah dalam pembelajaran sebagai berikut :

1.       Mengapa siswa belum dapat memahami alat trasnportasi yanfg digunakan pada  masa lalu dan masa kini?

2.       Bagaimana cara membelajarkan materi trasnportasi yang digunakan pada  masa lalu dan masa kini?

3.       Alat peraga apa yang akan harus digunakan ?

4.       Metode apa yang tepat untuk membelajarkan tentang trasnportasi masa lalu dan masa kini?

 

C.            Tujuan Perbaikan

                Keberhasilan pembelajaran ditunjukkan oleh dikuasainya tujuan pembelajaran oleh siswa. Guru adalah faktor penting secara formal selalu mengusahakan terciptanya sutuasi proses belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya proses pengalaman belajar pada diri siswa sesuai dengan tujuan yang dirumuskan.

                Pada kenyataan di lapangan harapan keberhasilan dalam pembelajaran kadang tidak berhasil, sehingga perlu adanya perbaikan-perbaikan dalam pembelajaran.
                Penulis mengadakan perbaikan pembelajaran dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran. Pelaksanaan perbaikan di SD Gunungwungkal  02, pada mata pelajaran IPS dengan materi pokok trasnportasi masa lalu dan masa kini
                Untuk mencapai tingkat ketuntasan siswa maka metode yang digunakan adalah dengan diskusi dan tanya jawab.
                Adapun pada proses pembuatan laporan bertujuan untuk melatih ketrampilan menulis pada diri penulis, sehingga trampil membuat laporan. Disamping itu, penyusunan laporan ini dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) PGSD 4412, Program S1 PGSD Universitas Terbuka.
                Pada akhir pembelajaran saat pra siklus, mata pelajaran IPS dari 13 siswa yang tuntas dalam materi ini sebanyak 6 siswa apabila dipersentase adalah 46%, sedangkan yang belum tuntas sebanyak 7 orang atau 54%. Dari data ini penulis tergerak untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan menindaklanjuti dengan perbaikan pembelajaran.
                Dalan kegiatan perbaikan pembelajaran yang penulis lakukan adalah :
1.       Refleksi yaitu mengidentifikasi permasalahan yang muncul selama dalam kegiatan pembelajaran berlangsung pada mata pelajaran IPS.
2.       Merumuskan masalah yang dihadapi dan dibantu teman sejawat.
3.       Merencanakan perbaikan pembelajaran dengan membuat rencana perbaikan pembelajaran yang dilengkapi dengan indikator perbaikan serta lembar observasi dan dikonsultasikan dengan dosen pembimbing selaku supervisor.
4.       Pelaksanaan perbaikan pembelajaran
Pada kegiatan ini penulis melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) yang sudah dibuat  dan dilengkapi dengan indikator perbaikannya. Dalam pelaksanaannya dibantu oleh teman sejawat sebagai observer yang selalu mengamati selama proses pembelajaran berlangsung.
Pelakasanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I, penulis mendapatkan catatan-catatan dari observer berupa isian lembar observasi yang harus dipelajari. Dari lembar observasi inilah penulis dapat mengetahui kekurangan-kekurangan atau kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran berikutnya yaitu pada siklus II.

DAFTAR PUSTAKA

Asmawi Zainul, Agus Mulyana. 2005. Tes dan Asesmen di SD.  Jakarta : Universitas Terbuka.

Basuki Wibawa. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Depdiknas Dirjend Pendidikan Dasar Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan.

Indrastuti, dkk. 2004. IPS Buana. Untuk Sekolah Dasar Kelas IV. Bogor : Yudistira.

Safari. 2003. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta : Depdiknas Dirjend Pendidikan Dasar Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan.

Suciati, dkk. 2005. Belajar dan Pembelajaran 2.  Jakarta : Universitas Terbuka.

Udin S. Winata. Putra. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Universitas Terbuka.

Wardani I.G.A.K. Siti Julaecha. Ngadi Marsinah. 2005. Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta : Universitas Terbuka.

Wardani I.G.A.K. Wihardit K. Noehi Nasution. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700









PTK SD -07 PAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPA MENGGUNAKAN METODE PERCOBAAN DAN PENGELOMPOKAN DISKUSI DENGAN STAD (Student Team Achievement Divicion)


UPAYA   PENINGKATAN   PRESTASI   BELAJAR   IPA   MENGGUNAKAN METODE PERCOBAAN DAN PENGELOMPOKAN DISKUSI DENGAN
STAD (Student Team Achievement Divicion) DI KELAS V SD NEGERI 1 KALISORO KABUPATEN   KARANGANYAR
TAHUN PELAJARAN 2007/2008

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
UU no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 3 menyatakan bahwa ; “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Negara berkembang selalu berusaha untuk mengejar ketinggalannya, yaitu dengan giat melakukan pembangunan di segala bidang kehidupan. Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting untuk mempersiapkan generasi di masa depan, pemerintah selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan berbagai cara seperti mengganti kurikulum, meningkatkan kualitas guru melalui penataran-penataran atau melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi.
UU No. 20 tahun 2003 mengindikasikan bahwa tugas  yang diemban seorang pendidikan semakin berat, karena guru harus engembangkan potensi dirinya disisi lain harus memberikan pendidikan pada siswanya dan masih ditambah tugas administrasi lainnya. Jika seorang seorang guru atau pendidik tidak berhasil mengembangkan potensi peserta didik maka negara itu tidak akan maju, sebaliknya jika guru atau pendidik berhasil mengembangkan potensi peserta didik, maka terciptalah manusia yang cerdas, terampil, dan berkualitas.
Suasana belajar mengajar yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Situasi belajar yang diharapkan di sini adalah siswa yang lebih banyak berperan (kreatif). Untuk mencapai tujuan ini peranan guru sangat menentukan. Menurut Wina Sanjaya (2006 : 19), peran guru adalah: “Sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, dan evaluator”. Sebagai motivator guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik. Salah satu cara untuk membangkitkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan mengganti cara / model pembelajaran yang selama ini tidak diminati lagi oleh siswa, seperti pembelajaran yang dilakukan dengan ceramah dan tanya-jawab, model pembelajaran ini membuat siswa jenuh dan tidak kreatif.
Pada Sekolah Dasar Negeri 1 Kalisoro sejak peneliti mengajar, dalam pembelajaran IPA, peneliti sering menggunakan model pembelajaran ceramah. Model pembelajaran ini tidak dapat membangkitkan aktivitas siswa dalam belajar. Hal ini tampak dari perilaku siswa yang cenderung hanya mendengar dan mencatat pelajaran yang diberikan guru. Siswa tidak mau bertanya apalagi mengemukakan pendapat tentang materi yang diberikan.
Dengan realitas yang demikian, peneliti berusaha untuk mencarikan model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa yaitu model pembelajaran demontrasi dengan pembagian kelompok secara STAD (Student Team Achievement Divicion). Siswa dibagi atas beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang (melihat kondisi siswa di kelas). Dari diskusi yang telah dilaksanakan, ternyata siswa masih kurang mampu dalam mengemukakan pendapat, sebab kemampuan dasar siswa rendah. Dalam bekerja kelompok, hanya satu atau dua orang saja yang aktif, sedangkan yang lainnya membicarakan hal lain yang tidak berhubungan dengan tugas kelompok. Dalam melaksanakan diskusi kelompok, peneliti juga melihat di antara anggota kelompok ada yang suka mengganggu teman karena mereka beranggapan bahwa dalam belajar kelompok (diskusi) tidak perlu semuanya bekerja. Karena tidak semua anggota kelompok yang aktif, maka tanggung jawab dalam kelompok menjadi kurang, bahkan dalam kerja kelompok (diskusi), peneliti juga menemukan ada di antara anggota kelompok yang egois sehingga tidak mau menerima pendapat teman.
Melihat kenyataan-kenyataan yang peneliti temui pada sikap siswa di dalam proses pembelajaran tersebut di atas, peneliti berpendapat bahwa aktivitas siswa di Sekolah Dasar Negeri 1 Kalisoro dalam pembelajaran IPA khususnya materi pola wilayah negara maju dan berkembang sangat kurang. Dalam hal ini peneliti berani mengungkapkan karena memang aktivitas siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Kalisoro masih jauh dari pengertian aktivitas yang diungkapkan dari para ahli, seperti Paul D. Dierich dalam Oemar Hamalik (2001: 173), mengemukakan bahwa jenis aktivitas dalam kegiatan lisan atau oral adalah mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.
Berdasarkan pengamatan atau observasi pendahuluan yang peneliti lakukan, ditemukan bahwa siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Kalisoro dalam melaksanakan diskusi kelas jarang sekali mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan, apalagi mengajukan saran. Karena aktivitas siswa yang rendah itu, hasil belajar yang diperoleh juga menjadi rendah. Hal ini dapat kita lihat dari nilai rata-rata hasil ujian semester genap kelas tahun pelajaran 2007/2008
Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain rendahnya perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran IPA. Guru sering memberikan pelajaran dalam bentuk ceramah dan tanya-jawab, sehingga siswa tidak terangsang untuk mengembangkan kemampuan berfikir kreatif.
Berdasarkan pengalaman yang peneliti hadapi di dalam proses pembelajaran IPA  yang tidak aktif maka peneliti berusaha mencarikan model pembelajaran lain, sehingga pembelajaran lebih bermakna dan lebih berkualitas. 
Proses Pembelajaran adalah kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif tersebut mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, siswa dengan sumber belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Harapan yang ada pada setiap guru adalah bagaimana materi pelajaran yang disampaikan kepada anak didiknya dapat dipahami secara tuntas. Untuk memenuhi harapan tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, karena kita sadar bahwa setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda baik dari segi minat, potensi, kecerdasan dan usaha siswa itu sendiri. Dari keberagaman pribadi yang dimiliki oleh siswa tersebut, kita sebagai guru hendaknya mampu memberikan pelayanan yang sama sehingga siswa yang menjadi tanggung jawab kita di kelas itu merasa mendapatkan perhatian yang sama. Untuk memberikan pelayanan yang sama tentunya kita perlu mencari solusi dan strategi yang tepat, sehingga harapan yang sudah dirumuskan dalam setiap Rencana Pembelajaran dapat tercapai.
Dari hasil penelitian dan pengalaman mengajar siswa untuk mata pelajaran IPA  di Sekolah Dasar Negeri 1 Kalisoro, dimana kami telah menggunakan Pembelajaran, Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) dengan mempergunakan lembar tugas siswa kreatif, disini terlihat keaktifan siswa tapi belum semua siswa berani mengemukakan pendapat atau bertanya,  dari hasil pengamatan kami dalam proses pembelajaran ini disebabkan karena tingkat berpikir siswa yang berbeda-beda, ada yang lambat dan ada yang cepat, sehingga dalam proses pembelajaran masih didominan oleh siswa yang pintar.
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia. Menciptakan manusia yang cerdas dan maju perlu diimbangi dengan peningkatan mutu pendidikan. Mutu pendidikan sangat erat kaitannya dengan mutu guru. Kunci keberhasilan pelaksanaan sangat ditentukan oleh faktor guru sebagai pengelola kegiatan pembelajaran. Namun semua juga tidak terlepas dari kemampuan siswa dari proses pembelajaran berlangsung, dari proses belajar mengajar ini harus kerja sama antara guru dengan murid ini akan menghasilkan hasil yang maksimal dengan meminimalkan kendala yang ada dengan memaksimalkan keunggulan dari keduanya.

B.      Identifikasi Masalah

             Selama pembelajaran berlangsung siswa kelihatan tidak sungguh – sungguh dalam mengikuti pelajaran, kelihatannya diam tetapi diberi pertanyaan sering salah, bahkan sering guru memberi pertanyaan pada akhirnya guru sendiri yang menjawab. Hal tersebut terlihat bahwa pelajaran didominasi oleh guru dan penjelasan guru kurang didukung dengan alat peraga yang sesuai dan menarik perhatian siswa.
Pada umumya siswa sekolah dasar kurang berminat terhadap mata pelajaran IPA karena dianggap sebagai pelajaran yang kurang menyenangkan, akibatnya materi yang sebenarnya mudah menjadi sulit untuk anak seperti materi tentang Negara maju dan berkembang. Berdasarkan latar belakang masalah, dapat diidentifikasi kendala – kendala yang ada di lapangan dalam proses pembelajaran, sehingga prestasi belajar IPA  masih masuk dalam kategori rendah. Adapun kendala – kendala atau masalah yang dimaksud dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1.       Siswa mempunyai anggapan bahwa IPA  merupakan mata pelajaran yang sulit untuk dipelajari.
2.       Siswa tidak berani bertanya dan cenderung pasif.
3.       Motivasi belajar siswa rendah sehingga tidak ada kompetisi antar siswa karena kurang adanya pengakuan bagi siswa yang berprestasi.
4.       Guru mendominasi pelajaran
5.       Guru tidak menggunakan metode dan alat peraga yang sesuai.
Berangkat dari masalah – masalah yang sangat mengganggu dan menghambat siswa yang bersangkutan untuk meraih prestasi yang lebih tinggi, maka penulis mengadakan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan terhadap mata pelajaran IPA   pada diri siswa. 

 

C.      Perumusan masalah

Dari identifikasi masalah, diketahui faktor-faktor yang menyebabkan siswa kurang menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru. maka dapat dikemukakan analisis pemasalahan sebagai berikut :
1.       Metode yang digunakan guru kurang bervariasi
2.       Pembelajaran berpusat pada guru sehingga siswa kurang bisa menginterprestasikan kemampuannya.
3.       Guru sangat dominan sehingga keberhasilan siswa pada saat belajar sangat tergantung kemampuan guru dalam memberikan materi pelajaran.
4.       Urutan konsep pembelajaran yang masih kurang tepat.
5.       Kurangnya perhatian siswa ketika pembelajaran berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA


Arifin Zaena. (1990). Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur. Bandung : Remadja Karya

Choiriyah, Siti (2006). Acuan Pengayakan Ilmu Pengetahuan Alam . Solo : Sindhunata

Gredler, Margaret E. Ball, (1991). Belajar dan Membelajarkan, Jakarta : Rajawali

Supono, dkk (19760, Energi Gelombang Medan I. Jakarta : Balai Pustaka.

Suryadi, Didi. (1997). Alat Peraga dan Pengajaran Ilmu Pengetahuan Alam . Jakarta : Ditjen Dikdasmen D2 Karunika UT

Winkel. W.S (1987). Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia 

Yohanes Surya (1997), Olympiade, Jakarta : Galaxy.

Daniel Muijs dan David Reynolds 2000. EffectiveTteaching Teori dan Aplikasi ( Edisi ke -2 ) Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Nana Sudjana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Gagne, Robert M and Leslie J. Briggs, 1978. Principles of Instructional Design. 2nd Ed, New York : Holt Rinehart and Winstons.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700





PTL SD-03 PENINGKATAN PENGUASAAN SISWA TERHADAP MATERI PELAJARAN SUMBER DAYA ALAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE PENDEKATAN TANYA JAWAB


PENINGKATAN PENGUASAAN SISWA
TERHADAP MATERI PELAJARAN SUMBER DAYA ALAM
DENGAN MENGGUNAKAN METODE PENDEKATAN TANYA JAWAB
DI KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI PURWOSUMAN 5 KECAMATAN SIDOARJO KABUPATEN SRAGEN 2008/2009

BAB I
PENDAHULUAN

I.  PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
        Sekolah sebagai tempat proses belajar mempunyai kedudukan yang sangat penting dan menonjol dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu pendidikan di sekolah memegang peranan penting dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal seperti yang diharapkan. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan. Dalam proses belajar mengajar tersebut guru menjadi pemeran utama dalam menciptakan situasi interaktif yang edukatif, yakni interaksi antara gur dengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar.
                IPA sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan membekali siswa untuk mengembangkan penalarannya di samping aspek nilai dan moral banyak memuat materi alam dan bersifat hafalan sehingga pengetahuan dan informasi yang diterima siswa sebatas produk hafalan. Sifat materi pelajaran IPA tersebut membawa konsekuensi terhadap proses belajar mengajar yang didominasi oleh pendekatan ekspositoris, terutama guru menggunakan metode  ceramah maupun tanya  jawab terjadi dialog imperatif. Padahal dalam proses belajar mengajar keterlibatan siswa secara totalitas, artinya melibatkan pikiran, penglihatan, pendengaran dan psikomotor (keterampilan, salah satunya sambil menulis). Jadi dalam proses belajar mengajar, seorang guru harus mengajak siswa untuk mendengarkan, menyajikan media yang dapat dilihat, memberi kesempatan untuk menulis dan mengajukan pertanyaan atau tangapan, sehingga terjadi dialog kreatif yang menunjukkan proses belajar mengajar yang interaktif. Situasi belajar ini dapat tercipta melalui penggunaan “pendekatan tanya jawab” Sebagai seorang guru yang professional hendaknya dapat memilih dan menerapkan metode yang efektif agar materi yang dipelajari oleh siswa dapat dipahami dengan baik serta dapat meningkatkan prestasi belajar.
                Penguasaan siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Purwosuman 5 Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sragen terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam masih kurang karena menurut data terakhir semester I tahun 2008/2009 daya serap siswa terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada materi sumber daya alam keluarga hanya 60 %, berdasarkan data, penulis mengadakan penelitian yang berjudul Penggunaan metode demonstrasi sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri Purwosuman 5 Sidoharjo Sragen. Di samping sebagai kelengkapan dalam menempuh s1 PGSD juga sebagai kelengkapan tugas mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PGSD 4412).
Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700





PTK SD-01 MENINGKATKAN KEMAMPUAN DALAM MEMAHAMI ISI BACAAN DENGAN LATIHAN MEMBACA LANCAR SERTA MEMPERHATIKAN TANDA – TANDA BACA DAN INTONASI YANG BENAR, DENGAN ALAT BANTU TEKS DONGENG


MENINGKATKAN KEMAMPUAN DALAM MEMAHAMI ISI BACAAN DENGAN LATIHAN MEMBACA LANCAR SERTA MEMPERHATIKAN TANDA – TANDA BACA DAN INTONASI YANG BENAR, DENGAN ALAT BANTU TEKS DONGENG PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS I SEMESTER 2 SD NEGERI NGABEYAN 02 KECAMATAN KARTASURA KABUPATEN SUKOHARJO
TAHUN PELAJARAN 2008/2009

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
        Didalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem  Pendidikan Nasional telah dirumuskan fungsi sekolah yang digabung dengan tujuan pendidikan nasional adalah sebagai berikut. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yag bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
        Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan bertujuan untuk membangun manusia Indonesia yang seutuhnya. Ini berarti bahwa pembangunan mempunyai jangkauan yang luas dan jauh. Berhasil tidaknya program pembangunan faktor manusia memegang peranan yang sangat penting. Untuk pembangunan ini diperlukan manusia yang berjiwa pemikir, kreatif dan mau bekerja keras, memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki sifat positif terhadap etos kerja.
                Sekolah sebagai tempat proses belajar mempunyai kedudukan yang sangt penting dan menonjol dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu pendidikan di sekolah memegang peranan penting dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal seperti yang diharapkan. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan. Dalam proses belajar mengajar tersebut guru menjadi pemeran utama dalam menciptakan situasi interaktif yang edukatif, yakni interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar.
                Bahasa Indonesia sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan membekali siswa untuk mengembangkan bahasa di samping aspek penalaran dan hafalan sehingga pengetahuan dan informasi yang diterima siswa sebatas produk bahasa dan satra. Sifat materi pelajaran Bahasa Indonesia tersebut membawa konsekuensi terhadap proses belajar mengajar yang didominasi oleh pendekatan eksperimental, terutama guru menggunakan metode  eksperiman, ceramah maupun tanya  jawab terjadi dialog imperatif. Padahal dalam proses belajar mengajar keterlibatan siswa secara totalitas, artinya melibatkan pikiran, penglihatan, pendengaran dan psikomotor (keterampilan, salah satunya sambil menulis). Jadi dalam proses belajar mengajar, seorang guru harus mengajak siswa untuk mendengarkan, menyajikan media yng dapat dilihat, memberi kesempatan untuk menulis dan mengajukan pertanyaan atau tangapan, sehingga terjadi dialog kreatif yang menunjukkan proses belajar mengajar yang interaktif.
                Sebagai seorang guru yang professional hendaknya dapat memilih dan menerapkan metode yang efektif agar materi yang dipelajari oleh siswa dapat dipahami dengan baik serta dapat meningkatkan prestasi belajar.
        Penguasaan siswa kelas 1 Sekolah Dasar Negeri Ngabeyan 02 Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia masih kurang karena menurut data terakhir semester II tahun 2007/2008 daya serap siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia pada materi keperluan hanya 65 %, berdasarkan data tersebut maka guru akan mencari masalah-masalah yang mengganggu dan menghambat penguasaan siswa terhadap mata pelajaran tersebut sehingga dapat meningkatkan penguasaan materi dan hasil belajar siswa, perbaikan pembelajaran bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PGSD 4412) pada program S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Terbuka.
                Susunan laporan ini berdasarkan catatan yng dibuat ketika merancang kegiatan perbaikan serta selama pelaksanaan, observasi dan diskusi yang dilakukan dalam 2 siklus penelitian tindakan kelas untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 2, maka laporan ini disusun dengan sistematika secara garis besar meliputi Pendahuluan, perencanaan perbaikan, pelaksanaan, temuan dan kesimpulan.

DAFTAR PUSTAKA


Arifin Zaena. (1990). Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur. Bandung : Remadja Karya
Gredler, Margaret E. Ball, (1991). Belajar dan Membelajarkan, Jakarta : Rajawali
SK dan KD Mata pelajaran Bahasa Indonesia
Darisman, 2006, Buku Bahasa Indonesia Kl II, Jakarta : Yudistira
Winkel. W.S (1987). Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia 

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700





Jumat, 21 September 2012

PTK SMA - 07 PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM PEMAHAMAN POKOK BAHASAN INTEGRAL GUNA MENINGKATKA


PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM PEMAHAMAN POKOK BAHASAN INTEGRAL GUNA MENINGKATKAN
PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA KELAS III IPA-1
SMU NEGERI 1 MADIUN SEMESTER I
TAHUN PELAJARAN 2003/2004
BAB I
PENDAHULUAN

A.      A.    Latar Belakang Masalah

        Dalam rangka mencapai tujuan pengajaran, kegiatan belajar mengajar harus diarahkan pada aktifitas pengajaran yang mampu mengembangkan segala potensi dan kreatifitas siswa. Tinggi rendahnya tingkat kreatifitas belajar siswa di sekolah banyak dipengaruhi oleh interaksi komponen-komponen pembelajaran.
        Pengajaran bukan hanya memindahkan pengetahuan ke generasi muda, atau hanya proses perubahan kebudayaan dan mengembangkan kepribadian. Pengajaran siswa yang baik melibatkan siswa secara aktif dan meniadakan pandangan bahwa siswa  sebagai makhluk pasif. Guru sebagai pengajar tidak hanya menyampaikan materi, tetapi harus mampu mengorganisir proses belajar mengajar, sehingga siswa termotivasi untuk belajar.
        Pembenahan dalam pembelajaran perlu dilakukan, yaitu pembaharuan pada pemilihan metode, penggunaan metode yang tepat, penyediaan media dan penanaman konsep yang benar. Pembaharuan bersifat memperbaiki dan menyempurnakan yang telah ada. Hasil yang diharapkan dengan adanya pembaharuan pada pemilihan metode, penggunaan metode yang tepat, penyediaan metode dan penanaman konsep yang benar adalah tujuan pengajaran yang belum tercapai dapat diselesaikan dan dapat memperbaiki pemahaman konsep yang salah pada diri siswa.

       Pembenahan sistem pengajaran harus mampu membangkitkan minat para siswa untuk belajar lebih aktif. Pembaharuan pengajaran, penerapan metode yang tepat, penyediaan media pengajaran terutama harus dilakukan dalam pendidikan matematika, karena dalam pendidikan matematika secara umum masih banyak kendala dan masalah yang dihadapi, misalnya nilai anak untuk mata pelajaran matematika rendah, pelajaran matematika belum mempunyai makna sebagai bagian dalamkehidupans ehari-hari, pelajaran matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit, pembelajaran matematika yang dilaksanakan guru masih cenderung bersifat konfensional, minimnya penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika, minimnya daya inovatif, kreatifitas dalam pembelajaran matematika menjadikan mata pelajaran ini tidak disukai anak.
       Menurut Bloom yang dikutip oleh Djauzak Ahmad (1994 : 9), “Ketuntasan pembelajaran siswa dapat ditunjukkan dengan meningkatkan kemampuan intelektual yang terdiri dari: ingatan, pemahaman, penerapan analisis, sintetis, dan evaluasi”.
       Dari data di SMU NEGERI 1 MADIUN, ternyata prestasi pembelajaran matamatika siswa masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), baik secara individual maupun secara klasikal. Hal ini disebabkan karena di dalam kegiatan belajar hanya mengandalkan teori dan kurang menyadari pentingnya pendekatan pembelajaran yakni metode pembelajaran.
        Metode pembelajaran dalam matematika ini banyak sekali yang tepat dan sesuai dengan tuntutan perkembangan pembelajaran matematika. Metode-metode pembelajaran matematika yakni metode demontrasi, metode pemecahan masalah, metode drill dan latihan, metode penemuan, metode tanya jawab, metode inkuiri dan sebagainya.

B.             Berdasarkan kajian latar belakang masalah tersebut di atas, maka ditemukan permasalahan dalam pembelajaran matematika di SMU Negeri 1 Madiun   sebagai berikut:

1.       Prestasi matematika siswa SMU Negeri 1 Madiun masih tergolong rendah.
2.       Pelajaran matematika belum memiliki makna sebagai bagian dalam kehidupan sehari-hari.
3.       Pelajaran matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit.
4.       Pembelajaran matematika yang dilaksanakan oleh guru masih bersifat konvensional.
5.       Minimnya penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika khususnya integral.
6.       Minimnya guru dalam pembelajaran menggunakan media atau alat peraga.
        Agar kualitas pendidikan anak meningkat maka seorang guru harus tahu pentingnya metode pembelajaran. Ada tiga cara utama dalam belajar yaitu model visual, auditorial, dan kinestetik. Visual adalah belajar melalui indra penglihatan. Auditorial adalah belajar melalui indra pendengaran. Kinestetik adalah belajar melalui peraba dan penglihatan. Dari ketiga cara tersebut harus didukung oleh sarana dan prasarana dan tidak kalah pentingnya dengan metode demonstrasi. Dengan metode demonstrasi ini ketiga cara turut bisa menyatu sehingga belajar anak lebih maksimal. Dalam hal ini penulis mencoba menerapkan metode demonstrasi dalam pemahaman integral guna meningkatkan prestasi belajar matematika kelas III IPA-1 di SMU Negeri 1 Madiun.
       Metode demonstrasi sejenis dengan metode ceramah dan ekspositori. Kegiatan belajar mengajar berpusat pada guru atau guru mendominasi kegiatan belajar mengajar. Tetapi pada metode demontrasi aktivitas murid lebih banyak dilibatkan. Dengan demikian dominasi guru akan lebih berkurang. Ciri metode demontrasi tampak dengan adanya penonjolan mengenai suatu kemampuan, misalnya kemampuan guru membuktikan dalil, atau menurunkan rumus, atau memecahkan soal cerita. Sedangkan yang berhubungan dengan alat, maka guru dan murid sama-sama berperan dalam proses pembelajaran.
       Pengajaran matematika akan menunjukkan hasil memuaskan, jika pengajaran mampu menyampaikan konsep dengan benar, mampu memilih pendekatan dalam mengajar dengan benar. Matematika tidak akan menjadi sulit jika sejak dini ditanamkan dan diawali dengan penyampaian konsep-konsep secara benar. Hal yang  perlu diperhatikan adalah penanaman konsep pada anak yang benar, pembelajaran yang menyenangkan, dihadapkan pada benda-benda yang ada di sekelilingnya serta benda yang sesungguhnya.
       Berdasarkan uraian tersebut di atas maka judul dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah: “PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM PEMAHAMAN POKOK BAHASAN INTEGRAL GUNA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA KELAS III SMU NEGERI 1 MADIUN SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2003/2004”.

C.      B.    Rumusan Masalah

                Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dapat dibuat suatu rumusan masalah sebagai berikut:
“Apakah dengan penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar matematika konsep Integral siswa kelas III IPA-1 SMU Negeri 1 Madiun Semester I Tahun Pelajaran 2003/2004?”

D.      C.    Tujuan Penelitian

                Tujuan penelitian yang penulis harapkan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah :
“Untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada konsep Integral siswa kelas III IPA-1 SMU Negeri 1 Madiun Semester I Tahun Pelajaran 2003/2004 melalui metode demonstrasi”

E.      D.    Manfaat Penelitian

                Hasil pelaksanaan penelitian penerapan metode demontrasi dalam pembelajaran matematika akan memberikan manfaat yang berarti, yaitu:
1.       Bagi Guru
Dengan dilaksanakannya penelitian penerapan metode demontrasi dalam pembelajaran matematika ini, guru sedikit demi sedikit mempunyai keinginan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan menggunakan pendekatan metode demonstrasi. Dengan penelitian ini diharapkan guru dapat memberikan penanaman konsep yang benar.
2.       Bagi Siswa
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi siswa yang bermasalah di kelas        III IPA-1 SMU Negeri 1 Madiun dalam meningkatkan pemahamannya terhadap konsep penyelesaian integral. Keberhasilan peningkatan pemahaman tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
3.       Bagi Sekolah
Setelah keberhasilan penelitian ini yakini penerapan metode demontrasi dalam pembelajaran matematika khususnya integral, akan memberikan sumbangan yang baik pada sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di dalam kegiatan belajar di kelas.


 
DAFTAR PUSTAKA



Anita Lie. 2005. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta : Gramedia.

Arifin Zaenal. 1990. Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur. Bandung : Remadja Rosda Karya

Elizabeth B. Hurlock. 1990. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Gelora Aksara Pratama.

Gredler, Margaret E. Ball. 1991. Belajar dan Membelajarkan, Jakarta : Rajawali

Herman Hudojo, 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. Malang : IKIP Malang.

Koko Martono, R. Eryanto, Firman Syah Noor, (2007). Matematika dan Kecakapan Hidup, Untuk SMA 12A. Bandung : Ganeca Exact.

Prasetyawan Irawan, dkk. 1997. Teori Belajar, Motivasi, dan Ketrampilan Mengajar. Jakarta: Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruktisional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rini Budiharti. 2001, Strategi Belajar Mengajar. Surakarta :  UNS Press.

Siti Choiriyah. 2006. Acuan Pengayaan Matematika. Solo : Sindhunata

UU No. 2 Tahun 1989. Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Winkel. W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia 


Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700