Selasa, 02 Oktober 2012

AG - 18 PEMBENTUKAN KEMANDIRIAN ANAK DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM STUDI PADA TK ABA


PEMBENTUKAN KEMANDIRIAN ANAK
DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
 STUDI PADA TK ABA NGEMPLAK KALI KOTES
KABUPATEN KLATEN
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Tuntutan akan sumber daya manusia yang unggul merupakan kebutuhan umat manusia. Terlebih lagi setelah memasuki era globalisasi in I persaingan akan sangat ketat sehingga manusia – manusia yang tidak berklualitas akan tersingkirkan dalam persaingan. Untuk mewujudkan tuntutannya tersebut dunia ini pendidikan ikut berperan sebagai gerbang utama. Islam adalah agama yang sangat menekankan pada pendidikan, kerena dengan pendidikan akan mampu meningkatkan potensi sumber daya manusia, umat islam khususnya baik dibidanmg IPTEK maupun IMTAK. Oleh karena itu setiap umat islam diwaji bkan untuk melaksanakan pendidikan, mulai sejak dari buaian sampai ke liang lahat, baik laki – laki maupun perempuan.
Sudah menjadi sebuah kewajiban bagi orang tua mendidik anak – anaknya agar menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, agama, nusa dan bangsa. hal tersebut sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW.


Artinya “ Tiada suatu pemberian pun yang lebih utama dai orang tua kepada anaknya, selain pendidikan yang baik. (H.R. hakim, Kitabul Adab JUz 4 Hadist NO. 7679 )

Menurut Ahmad Tafsir ( 1991: 26 ) bahwa pendidikan ialah pengembangan pribadi dalam semua aspeknya dengan penjelasan bahwa pengembangan pribadi mencakup pendidikan oleh diri sendiri, pendidikan oleh lingkungan dan pendidikan oleh.orang lain ( guru ). Sedangkan seluruh aspek mencakup aspek jasmani, akal dan hati. Sedangkan Pendidikan Islam merupakan bimbingan jasmani & rohani berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam ( Ahmad D. Marimba, 1989: 23 ).
Pendidikan dapat dilaksanakan dimana saja baik di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Dari ketiga lingkungan tersebut seorang anak mendapatkan pendidikan. Di dalam keluarga anak- bisa memperoleh pendidikan dari anggota keluarga misal ayah, ibu, kakak dan adik. Sedang di masyarakat sering dijumpai berbagai organisasi kemasyarakatan di antaranya lembaga keagamaan, lembaga pendidikan kesenian, pramuka dan olahraga. Sedangkan di sekolah anak didik mendapat pendidikan dari guru.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang berada di tengah-tengah masyarakat hanya akan berhasil bila ada kerjasama dan dukungan yang penuh pengertian dari masyarakat dan keluarga (Soedijarto, 1993: 9). Tujuan pendidikan pada dasamya bermaksud mengembangkan kepribadian dan kemampuan agar menjadi warga negara yang memiliki kualitas sesuai dengan cita-cita bangsa berdasarkan falsafal/dasar negara Indonesia. (Hadari Nawawi, 1997 : 12). Karena pada dasamya tujuan pengajaran pada dasamya adalah diperolehnya bentuk perubahan tingkah laku baru pada siswa, sebagai akibat dari proses belajar mengajar (Nana Sudjana, 1996: 6).
Dalam rangka membentuk kepribadian anak, maka perlu diberikan bekal pendidikan pada anak dan salah satunya adalah pendidikan agama Islam. Menurut Basyirudin Usman ( 2002 : 4 ) Pendidikan agama Islam adalah suatu kegiatan yang bertujuan membentuk manusia agamis dengan menanamkan aqidah, keimanan, amaliyah dan budi pekerti atau akhlak yang terpuji untuk menjadi manusia yang takwa kepada Allah SWT Kepribadian yang berkualitas yang diharapkan bagi peserta didik adalah agar mereka mempunyai kemandirian belajar, kedisiplinan, ketekunan, keuletan dan pantang menyerah sehingga mereka dapat mempertahankan diri dari persaingan-persaingan yang mereka hadapi di dunia pendidikan atau dunia kerja yang akan mereka hadapi nantinya.
Sedangkan tujuan pendidikan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 bab 11 pasal 3 tentang Dasar, Fungsi dan Tujuan pendidikan menyatakan:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggungjawab dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani & rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungJawab kemasyarakatan & kebangsaan”

Untuk mencapai tujuan pendidikan maka lingkungan merupakan salah satu hal yang mempunyai peran terhadap pembentukan kepribadian dan perilaku anak, karena di lingkunganlah anak tumbuh dan berkembang. Lingkungan tersebut dapat berupa lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dari lingkungan tersebut seorang anak mendapatkan pendidikan yang berbeda-beda yang kesemuanya itu akan berpengaruh terhadap kepribadian dan perilaku anak. Jadi apabila lingkungan yang ada di sekitar anak baik maka akan berpengaruh positif terhadap anak atau sebaliknya.
Taman kanak - kanak adalah merupakan lembaga yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia dini pada rentan usia 4 - 6 tahun. Para pendidik di lembaga ini harus memberikan layanan yang professional kepada anak didiknya dalam rangka peletakan dasar kearah pengembangan sikap, pengetahuan dan ketrampilan agar anak didiknya mampu menmyesuaikan diri dengan lingkungan serta mempersiapkan. mereka memasuki jenjang sekolah dasar. ( Yuliani Nurani Sujiono,dkk, 2004 : 1.1 ). Untuk itu pembelajaran yang dilakukan harus dapat mengembangkan potensi peserta didik.
Menurut Muhaimin ( 2004 : 28 ) bahwa dalam konteks system pembelajaran, agaknya titik lemah pendidikan agama lebih terletak pada komponen metodologinya, kelemahan tersebut dapat teridentifikasi karena kurang bisa mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi “makna” dan “nilai” atau kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang perlu diintemalisasikan dalam diri peserta didik.
Dalam proses belajar mengajar sebenamya setiap pendidik memiliki kesempatan untuk melakukan peningkatan kualitas karakter anak dengan menggunakan metode yang tepat. Terdapat sejumlah fenomena yang menarik berkaitan dengan karakter anak didik disebuah lembaga pendidikan yang tidak tidak memiliki jumlah siswa yang banyak, dapat membuat siswa mampu mengembangkan kualitas sosial dengan tampak terjalin akrabnya hubungan sesama mereka. Dengan bergabungnya siswa tingkat dasar sampai tingkat ,atas di bawah satu atap, memberi kesempatan lebih besar bagi mereka mengenal hubungan Junior - senior dengan mengembangkan 'respect' oleh junior dan oleh senior.
Banyak berbagai kejadian Yang mencerminkan lemahnya sebuah karakter Yang dimiliki oleh siswa, misalnya dalam PBNI di kelas sering kali ditemukan fakta-fakta tentang siswa yang Jarang sekali bertanya ketika diberi kesempatan untuk bertanya. Walaupun ada juga sebagian siswa yang, bertanya terus-menerus ketika diminta untuk menyelesaikan sebuah prosedur dengan menanyakan setiap langkah atau bahkan hal-hal yang sangat tidak terlalu penting. Pada kesempatan lain, ketika diberi tes misalnya, sejumlah siswa Yang secara kualitas intelektual tidak diragukan, tidak mampu menyelesaikan soal dengan cepat.
Dalam keseharian, baik di sekolah maupun di rumah kita sering kali menemukan sejumlah anak yang masih memiliki ketergantungan baik dalam cara berfikir, bersikap maupun bertindak. Ketergantungan itu umumnya dipengaruhi oleh tingkatan umur. Misalnya anak usia TK memiliki ketergantungan yang lebih tinggi dibanding anak SD begitu seterusnya. Meskipun demikian, tidak jarang juga ditemukan anak pada tingkatan lebih tinggi tenyata memiliki ketergantungan lebih dibanding anak tingkatan dibawahnya. Masalah utamanya adalah masalah karakter dan lebih tepatnya tentang kemandirian.
Hal ini karena pembentukan kualitas karakter tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan pembentukan kualitas intelektual. Karakter yang berkualitas memiliki peranan penting bagi anak didik dalam mencapai keberhasilan, baik yang sifatnya antara seperti studi yang sedang dijalani, maupun kelak ketika menghadapi kehidupan nyata. Salah satu bagian dari pengembangan karakter adalah masalah kemandirian. Watak kemandirian yang berkualitas pada sejumlah anak didik bisa jadi merupakan bawaan sejak lahir. Akan tetapi, realitas menunjukkan bahwa hal ini lebih banyak berkembang karena didikan dari pendidik/orang tua.
Anak usia dini masih banyak yang menggantungkan seluruh kebutuhannya kepada orang dewasa yang ada disekitamya. Bahkan seorang anak yang ingin buang air dan memakai baju saja masih minta bantuan kepada lbu atau bapaknya. Orang tua terlalu memanjakan anaknya dengan melayani segala kebutuhannya dari mengambilkan barang mainan, memakai baju, dan lain sebagainya dapat menyebabkan seorang anak memiliki sifat ketergantungan yang berlebihan sehingga anak akan menjadi cengeng agar segala kebutuhannya dilayani.
Fenomena seperti ini apabila dibiarkan begitu saja akan membuat anak menjadi manja dan memiliki sifat ketergantungan ketika menginjak dewasa bahkan sampai dewasa sekalipun. Untuk itu maka orang tua harus membiasakan anak untuk bediwa mandiri sejak dini mulai dari hal yang terkecil seperti inemakai sandal. Dengan menanamkan sifat kemandirian sejak dini akan sangat bermanfaat bagi kehidupan anak kelak ketika dewasa.
Dalam konteks pendidikan agama Islam maka kemandirian pada anak usia dini, lebih ditekankan pada berbagai kegiatan keagamaan yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa akan tetapi dapat dilakukannya tanpa ketergantungan kepada orang lain, misalnya: wudhu, salat, puasa dan lain sebagainya. Untuk itu maka taman kanak - kanak sebagai lembaga pendidikan bagi anak usia 4-6 tahun perlu membina kemandirian keagamaan anak sejak dini.
Untuk itu seharusnya dalam pendidikan agama Islam mempraktekkan kegiatan wudhu, salat dan kegiatan ibadah yang lain media sangat, mutlak diperlukan. Selain hal tersebut dalam pelaksanaan kegiatan seperti salat, masih banyak siswa yang dalam prakteknya bergantung kepada guru, dan teman. Anak - anak banyak yang masih malu untuk melaksanakan kegiatan tersebut, dan bila ada sesuatu yang salah banyak yang putus asa. Hal tersebut dimungkinkan karena siswa kurang memiliki inisiatif sendiri untuk mencoba.
Dalam rangka pemberian bekal pada anak dalam menjalani hidup dalam masyarakat maka perlu adanya penanaman kemandirian sejak dini khususnya tentang pengamalan ajaran. agama Islam ketika masih duduk di Taman Kanak-Kanak, karena pada usia ini sangat menentukan pada proses perkembangan selanjutnya. Untuk itu akan diadakan penelitian tentang kemandirian anak di TK ABA Ngemplak, Kali Kotes, Klaten dengan judul “Pembentukan kemandirian Anak dalam Pendidikan Agama Islam di TK ABA Ngemplak, Kali Kotes, Klaten”.

B.      Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:
1.       Kurangnya peningkatan kualitas guru dalam, mengembangkan karakter pada anak.
2.       Kurangnya penanaman kemandirian pada anak.
3.       Sifat manja yang diberikan orang tua membuat anak menjadi tidak  bersifat mandiri.

C.      Batasan masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut peneliti membatasi masalah pada pembentukan kemandirian anak dalam Pendidikan Agama Islam.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid, Dian Andayani (2004) pendidikan agama islam berbasis kompetensi Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Ahmad D. Marimba, ( 1989) Pengantar Filsafah Pendidikan, Bandung Al Ma’arif
Ahmad Tafsir, (1991), Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung PT. Remaja Rosydakarya.
Azhar Arsyad, (2003) Media Pembelajaran, Jakarta PT. Raja Grafindo Persada
Armei Arief (2002), Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam Jakarta Ciputat Pers
Badudu Zain, (2001) Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta Pustaka Sinar Harapan
Depag RI (2006), Alquran dan terjemahannya, Bandung : CV Jumaanatul ali Art
Depag RI (2004), Kurikulum 2004 Pendidikan agama islam, Jakarta Direktorat Jenderal kelembangan agama islam
Depdiknas (2006), kurikulum 2004 standar kompetensi taman kanak – kanak dan raudlathul athfal, Jakarta director jenderal managemen pendidikan dasar dan menengah
Hadari Nawawi, (1996). Pendidikan Agama Islam Surabaya Al- ikhlas
HB. Sutopo (1996). Metode Penelitian Kualitatif , Surakarta. Universitas Sebelas Maret
Lexy J Moleong ( 2002), Metode Penelitian Kualitatif. Bandung Remaja Rosda Karya
Martini Jamaris ( 2006), Perkembangan Dan Pegembangan Anak, Jakarta. Grasindo
M.Basyirun Usman, ( 2004), Metode Pembelajaran Agama Islam. Yogyakarta. Ciputat Press.
Moh. Uzer Usman ( 2005), menjadi guru profesionak, Bandung PT> Remaja Rosda Karya
Muhaimin (2005), Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Madrasah & Perguruan Tinggi, Jakarta ; PT .  Raja Grifindo Persada.
Muhammad Ali ( 1993) Strategi Penelitian Pendidikan Bandung Angkasa
Nana Sudjana, (1989). Dasar – Dasar Proses Belajar Mengajar :Bandung. Sinar Baru Algensindo
Neong Mohadjir ( 1992), Suatu Pendekatan Kualitatif Bandung Rajawali Pers
Ramayulis  (2005). Metodedologi Pendidikan Agama Islam Jakarta Kalam Mulia                                               
S. Nasution  ( 1989), Kurikulum dan  Pengajaran Jakarta PT Bumi Aksara
Sordijarto, (1993), Memantapkan Sistem Pendidikan  Nasional Jakarta  Grasindo
Sudarwan Arikunto (1992) Menjadi Peneliti Kualitatif  Yogyakarta Rake  Sarasin

Suh arsini         

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700

PTS - 05 MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENETAPKAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM)


MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU
DALAM MENETAPKAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM)
DI SMPN 13 BANJARBARU MELALUI IN HOUSE TRAINING (IHT)

BAB I
  PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Kebijakan pemerintah di bidang pendidikan telah bergulir dengan ditetapkannya Peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan,standar sarana dan prasarana,standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan.
Dalam standar penilaian pada KTSP diantaranya setiap sekolah dalam hal ini guru setiap awal semester tahun pelajaran lebih dahulu menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal  (KKM) namun pada pelaksanaan kegiatan supervisi di SMPN 13 Banjarbaru sebagai salah satu sekolah binaan, pengawas mendapat satu temuan permasalahan yakni ada diantara guru belum dan bahkan ada yang tidak mampu  menetapkan KKM.
Saat ini pengawas sekolah dituntut untuk memiliki kompetensi penelitian pengembangan, yang tidak cukup dianggap hanya sekedar penerima pembaharuan dari hasil penelitian para peneliti dari kalangan perguruan tinggi , melainkan ikut bertanggung jawab serta dan berperan aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya sendiri melalui penelitian tindakan sekolah yang berkaitan dengan tugas pokok pengawas sekolah yaitu memantau, menilai, membina dan melaporkan serta melaksanakan tindak lanjut hasil kepengawasan.
Berdasarkan hasil temuan dan sesuai dengan tugas pokok pengawas maka peneliti berupaya meningkatkan kinerja guru untuk menetapkan KKM melalui In house training (IHT).
B.      Identifikasi Masalah
Dari hasil supervisi pengawas, maka faktor penyebab ketidakmampuan guru dalam menetapkan KKM adalah sebagai berikut :
1.       Guru belum mendapatkan informasi yang jelas tentang bagaimana menetapkan KKM.
2.       Untuk menetapkan KKM hanya dengan memperkirakan saja.
3.       Hanya melihat KKM yang ditetapkan sekolah lain yang kemudian ditetapkan di sekolah tempat tughasnya.

C.      Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka rumusan masalah yang berkaitan dengan judul adalah: “Bagaimana IHT dapat Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal  (KKM) Di SMPN 13 Banjarbaru.
D.      Pemecahan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan diatas bahwa dengan IHT dapat meningkatkan kemampuan guru menetapkan KKM.


E.      Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan guru dalam menetapkan KKM di SMPN 13 Banjarbaru.
 Manfaat untuk guru :
Sebagai pedoman untuk menetapkan KKm pada pada awal semester tahun pelajaran berikutnya.
Manfaat untuk kepala sekolah :
Dapat memberikan sumbangan untuk meningkatkan kinerja dalam membina guru yang menjadi tugas kepala sekolah sebagai penyelia untuk melakukan supervisi  di satuan pendidikan.
Manfaat untuk pengawas :
Dengan penelitian ini  dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan pengawas dalam melaksanakan tugas kepengawasan di satuan pendidikan binaan.

DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. CV. Pustaka Setia: Bandung

Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. 2008. Penetapan KKM Bahan Diskusi TOT BINTEK KTSP.

Departemen Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum. 2008. Bahan Bantuan Teknis PTK dan Workshop Pengembangan Kurikulum. Jakarta.

Emzir. 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Institut Pertanian Bandung. 2007. Training. http://web.mb.ipb.ac.id/pies/training, diakses pada tanggal 31 Agustus 2008

Krisnadira. 2008. Publik Training vs Inhouse Training Mana Yang Lebih Efektif. http://www.krisnandira.com/2008/03/14/public-training-vs-inhouse-training-mana-lebih-efektif/, diakses pada tanggal 31 Agustus 2008

Lembaga Pengembangan Auditor Internal. 2008. Inhouse Training. http://lpauditorinternal.org/index.php, diakses pada tanggal 31 Agustus 2008

Lestari, Tita. 2000. “Merencanakan dan Melaksanakan Penelitian Tindakan Sekolah”. Disampaikan pada Kegiatan Pembekalan Pembimbing Penelitian Tindakan Sekolah di Bogor.




Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700





AG-08 PERANAN PONDOK PESANTREN PERGURUAN ISLAM TREMAS DALAM DAKWAH ISLAM


PERANAN PONDOK PESANTREN PERGURUAN ISLAM TREMAS
DALAM DAKWAH ISLAM DI KECAMATAN ARJOSARI
KABUPATEN PACITAN
BAB I
PENDAHULUAN

A.      PENEGASAN JUDUL
Untuk menghindari kekaburan dan kesimpangsiuran dalam memahami judul di atas, maka penulis jelaskan beberapa istilah yang terdapat dalam judul, yaitu :
1.       Peranan
“Peranan”, asal kata dari “peran” yaitu suatu yang menjadi bagian atau yang memegang piminan yang terutama (dalam terjadinya suatu hal atau peristiwa).1) Dalam bukunya Soejono Soekamto, “Sosiologi Suatu Pengantar” dijelaskan bahwa pernan (role) merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan atau status. Apabila seseorang melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan kedudukannya.2) Jadi yang dimaksdu dengan peranan di sini adlah pelaksana hak-hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya.
2.       Pondok Pesantren
Kata “pondok” berasal dari bahasa Arab “funduk” yanga artinya hotel atau asrama. Sedang pesantren berasal dari kata “santri” yang dengan awalan “pe” dan akhiran “an” berarti tempat para santri.3) Sedang dalam buku “Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia” di jelaskan bahwa pengertian pondok pesantren adalah :
“Suatu lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan dengan cara non klasikal (sistem sorogan dan bandongan) dimana seorang kyai mengajar santri-santri mereka berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama-ulama besar sejak abad pertengahan, sedang para santri biasanya tinggal dalam pondok atau asram.’’4)

Pengertian ini tidak mutlak sebab tidak semua pndok pesantren menggunakan sistem pendidikan tradisional akan tetapi ada sebagian yang sudah menggunakan sistem pendidikan modern. Sedang yang penulis maksudkan pondok pesantren disini adalah suatu lembaga sosial keagamaan yang mengajarkan. Mengembangkan dan menyebarkan ajaran Islam baik kepada para santri kepada masyarakat luas.
3.       Perguruan Islam Tremas
Perguruan Islam Tremas adalah nama pondok pesantren yang didirikan oleh KH. Abdul Manan pada tahan 1830 di Tremas, yaitu sebuah desa di mana pondok pesantren itu didirikan. Jadi Pondok Pesantren Perguruan Islam Tremas adalah sebuah pondok pesantren yang terletak di desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Paccitan, Propinsi Jawa Timur, yang merupakan pondok pesantren pertama kali didirikan di Kabupaten Pacitan.
4.       Dakwah Islam
Pengetian dakwah dapat ditinjau dari dua segi, yaitu :
-          Dari segi etimologi, kata dakwah berasal dari bahasa arab :
Artinya : memanggil, menyeru atau mengajak.5)
-          Dari segi terminologi, Ali Mahfuzd dalam kitabnya Hidayatul Mursyidin mendifinisikan dakwah sebagai berikut :

Artinya :  mendorong (memotivasir) manusia untuk melakukan kebaikan dan mengikuti petunjuk, memerintah mereka untuk berbuat makruf dan mencegahnya dari perbuatan mungkar agar memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.6)
Dengan demikian yang penulis maksudkan dengan dakwah disini adalah menyebarkan dan menyiarkan ajaran agama Islam dengan cara memelopri, meneladani, memberi motivasi dan menyeru ummat manusia untuk melakukan kebaikan, mengikuti petunjuk Allah SWT, menyuruh untuk berbuat baik dan mencegah dari bebuat mungkar agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
5.       Kecamatan Arjosari
Kecamatan Arjosari adalah salah satu kecamatan yang ada di wilayah kabupaten Pacitan, Propinsi Jawa Timur, dimana Pondok Pesantren Perguruan Islam Tremas berbeda.
Jadi yang penulis maksudkan dengan judul di atas adalah Peranan Pondok Pesantren Perguruan Islam Tremas terhadap pelaksanaan dakwa Islam di Kecamatan Arjosari dilihat dari segi bentuk-bentuk kegiatan dakwah di Kecamatan Arjosari, kontribusi pondok pesantren terhadap pelaksanaan dakwah di Kecamatan Arjosari serta faktor-faktor yang menjadi penghambat dan pendukung keterlebatan Pondok Pesantren Perguruan Islam Tremas dalam pelaksanaan dakwah Islam di kecamatan Arjosari. Penelitian ini penulis batasi pada masa KH Habib Dimyathi tahun 1985-1994.

B.      LATAR BELAKANG MASALAH
Pondok pesantren sebagaimana yang kita ketahui adalah merupakan lembaga pendidikan sosial keagamaan yang khas dan asli Indonesia. Lembaga Islam ini lahir dan berkembang semenjak Islam masuk di Indonesia. Bahkan sebelum agama Islam datang di Indonesia lembaga seperti ini telah ada. Akan tetapi lembaga ini merupakan tempat umat Hindu dan Budha mendalami agamanya, sehingga bukan merupakan lembaga Islam sebagaimana pondok pesantren. Lembaga ini juga hanya dapat dimasuki oleh orang-orang keturunan bangsawan atau aristokrasi saja.7) Hal ini sangat berbeda dengan pondok pesantern yangdapat dimasuki oleh siapa saja tanpa membedakan derajat dankedudukan.
Sebagaimana suatu lembaga keagamaan yang umumnya berbeda di desa, pondok pesantren mempunyai hubungan yang erat dengan masyarakat desa sekitarnya, baik hubungan struktural maupun fungsional. Akan tetapi ada pondok pesantren yang secara struktural bukan  bagian dari masyarakat sekitarnya. Pemisahan hubungan ini bukan berarti pesahnya hubungan fungsional antara pondok pesantren dengan masyarakat desa. Sebab pesanten tetap memiliki hubungan fungsional dnegan masyarakt di desa-desa sekitarnya. Baik dalam bidang pendidikan, kegiatan sosial dan kegiatan di bidang ekonomi. Menurut Soedjoko Prasodjo, ada tiga macam jasa pondok pesantren terhadap kehidupan masyarakat yatiu kegiatan tabligh kepada masyarakat yang dilakukan dalam komplek pondok pesantren, majelis taklim atau pengajian yang bersifat umum dan bimbingan hikmah berupa nasihat kyai kepada orang-orang yang datang untuk diberi amalan-amalan  apa yang harus dilakukan supaya mencapai suatu hajat, nasihat-nasihat agama dan sebagainya.8) Selain kyai dan ustadz, para santripun memiliki kegiatan di luar pondok pesantren, bahkan dari santri diharapkan dapat memiliki ilmu keislaman dan pengetahuan lainnya yang kemudian dapat mempraktekkan serta mengajarkan kepada masyarakat di mana para santri tersebut kembali setelah menamatkan pelajarannya di pondok pesantren. Dengan demikian hampir semua komponen pondok pesanteren memiliki kaitan fungsional dengan masyarakat desa.
Demikian juga dengan Pondok Pesantren Perguruan Islam Tremas. Pondok yang didirikan oleh KH. Abdul manan pada tahun 1830 di desa Tremas ini secara struktural dan fungsional memiliki hubungand negan masyarakat di Kecamatan Arjosari. Hubungan ini dapat dilihat dari keikutsertaan pesantren untuk memajukan taraf kehidupan masyarakat Kecamatan Arjosari dalam berbagai bidang, yaitu dengan cara mengadakan pengajian sercara rutin, ikut membantu mencerdaskan umat manusia, berpartisipasi dalam mengelola sumber-sumber produksi yang ada, mengadkaan usaha Kesehatan Masyarakat dan Santri (UKMS) dan sebagainya.
Kecamatan Arjosari adlaah sebuah kecamatan yang umumnya masyarakatnya beragama Islam dengan pencaharian sebagai petani, pegawai negeri dan wiraswasta. Kecamatan ini terdiri dari beberapa desa yang besar maupun kecil dan ada yang letaknya terpencil sehingga tidak dapat dijangkau oleh kendaraan umum. Meskipun kecamatan ini agak jauh dari kota, namun telah mengalammi perkembangan ini agak jauh dari kota, namun telah mengalami perkembangan yang pesat dan sangat terbuka dengan masuknya berabgai alat komunikasi, media massa dan terbuka dengan masuknya masyarkaat luar. Dengan demikian aqidahh dan akhlak merupakan mutiara hidup yangd apat membedakan antara manusia dan bidanatang sangat terancam tanpa ada kegaitan dakwah yang rutin serta filterarisasi yang baik dan terarah.
Dari kondisi inilah penulis tertarik untuk meneliti dan membahas masalah Pondok Pesantren Perguruan Islam Tremas Dalam Dakwah Islam di Kecamatan Arjosari. Kabupaten Pacitan, karena msalah ini selain sesuai dnegan jurusan penulis Bimbingan Penerangan Agama Islam yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan ummat, masalah ini juga merupakan sesuatu yang sangat penting dalam dakwa Islam.



C.      RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah di atas, maka masalah yang penulis rumuskan adalah sebagai berikut :
1.       Bagaimana bentuk-bentuk kegiatan dakwa Islam di Kecamatan Arjosari ?
2.       Sejauh mana kontribusi Pondok Pesantren Perguruan Islam Tremas terhadap pelaksanaan Islam di Kecamatan Arjosari ?
3.       Faktor-faktor apa saja yang emnjadi penghambat dan pendukung (penunjang) keterlibatan Pondok Pesantren Perguruan Islam Tremas pelaksanaan dakwa Islam di Kecamatan Arjosari ?
BILIOGRAFI

Ahmad Warson Munawar, Kamus Arab Indonesia, Yogyakarta: Pondok Pesantren Al Munawwir. 1994.
A. Hasjmi. Dustur Dakwah Menurut Al-Qur’an, Jakarta: Bulan Bintang, 1974.
A. H. Hasanuddin, Rethorika Dakwah dan Publisistik Dalam Kepemimpinan, Surabaya: Usaha Nasional, 1982.
Amrullah Achmad (ed), Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, Yogyakarta: LP2M, 1985.
Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, Surabaya: Al Ikhlas, 1983.
DEPAG RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta: Yayasan Penyelenggaraan Penerjemah/Tafsir Al-Qur’an. 1971.
Ditjen Binbaga DEPAG RI, Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren, Jakarta : PPBKPP. 1989.
HSM. Nasruddin Latif, Teori dan Praktek Dakwah Islamiyah, Jakarta : Firma Dara, 1988.
HAMKA, Prof. Dr. Prinsip dan Kebijakan Dakwah Islam, Jakarta: PT. Pusataka Panjimas, 1984.
Kontjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, Bandung: PT. Gramedia, 1989.
Lexy J. Moloeng, Dr. MA, Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rusdakarya, 1990.
Manfred Oepen dan Wagang Karcher, Dinamika Pesantren, Dampak Pesantren Dalam Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat, Jakarta: P3M, 1988.
Mansur Amin, Drs. Metode Dakwah dan Beberapa Keputusan Pemerintah tentang Aktivitas keagamaan, Yogyakarta: Sumbangsih, 1980.
Marwan Sarijo, Drs. (et al), Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, Jakarta: Darma Bhakti, 1982.
Masdar Helmi, Drs., Dakwah Di Alam Pembangunan, Semarang: Toha Putera, 1973.
DAFTAR PUSTAKA HANYA SEBAGIAN

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700

AG - 07 PENGARUH PRESTASI BELAJAR AL-ISLAM TERHADAP PENGALAMAN AJARAN ISLAM PDA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI


PENGARUH PRESTASI BELAJAR AL-ISLAM TERHADAP
PENGALAMAN AJARAN ISLAM PDA MAHASISWA
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
SEMESTER II TAHUN
AKADEMI 1985/1986
BAB I
M U Q O D D I M A H

A.      Tinjauan Umum
Sejak tahun 1912, Muhammadiyah sebagai organisasi Islam telah berkembang dalam dunia pendidikan, dakwah dan sosial. Dan sampai sekarang Muhammadiyah terus berusaha untuk meningkatkan kegiatan-kegiatannya. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya pada sekolah-sekolah dari tingkat dasar sampai lanjutan atas, tetapi Muhammadiyah juga mengelola berbagai pendidikan tinggi yang terbesar di berbagai kota di tanah air.
Namun demikian lembaga pendidikan tinggi Muhammadiyah baru didirikan pada tahun 1955, yaitu pada saat berdirinya Fakultas Hukum dan Filsafah di padang Panjang pada tanggal 18 Nopember 1955 bertepatan dnegan milad Muhammadiyah ke 43. Setelah itu disusul dengan beberapa perguruan tinggi di berbagai kota, baik Universitas, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP), Instutut Agama Islam Muhamamadiyah (IAIM), Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan lain-lain.
Universitas Muhammadiyah Surakarta adalah termasuk salahs atu dari beberapa Perguruan Tinggi yang dikelola Muhammadiyah. Sapai saat ini Universitas Muhammadiyah Surakarta memiliki delapan Fakultas, dengan delapan jurusan dan delapan program studi. Delapan fakultas tersbeut adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, fakultas Tehnik, fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Psikologi, Faklultas Geografi, Fakultas Tarbiyah, dan fakultas Ushuluddin.
Fakultas Psikologi termasuk salah satu fakultas yang terbaru di Universitas Muhammadiyah Surtakarta ini. Pada tahun akademi 1985/1986 menampung 71 mahasiswa. Dengan sejumlah mahasiswa tersbeut, Fakultas Psikologi bertanggung jawab penuh untuk membawa mereka kepdaa suatu tujuan. Tujuan tersbeut telah ditetapkan dalam :
1.       Surat Keterangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor : 35/PP/1975 tentang Qaidah Perguruan Tinggi Muhammadiyah bab I pasal 3 yang berbunyi sebagai berikut :
Terbentuknya Sarjana Muslim yang berakhlak mulia, cakap, percaya pada diri sendiri dan berguna bagi masyarakat dan negera, beramal menuju terwujudnya masyarakat islam yang sebenar-benarnya. 

2.        Tujuan pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta yang berbunyi sebagai berikut :
Membentuk Sarjana Psikologi muslim yang pancasila, bermoral luhur, dan berjiwa mengamalkan dan mengamankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 

Untuk mencapai tujuan tersbeut diperlukan pembinaan secara intensif dan penuh tanggung jawab pembinaan ini dilakukan melalui kegiatan-kegiatan intra kurikuler, kekurikuler dan ekstra kurikuler.
Dami terwujudnya tujuan pendidikan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, pembinaan di bidang agama mempunyai peranan yang sangat penting. Mengenai pengelolaan pembinaan agama islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta telah didirikan suatu departemen, yaitu departemen Pembinaan dan Pengembangan Al-Islam dan kemuhammadiyahan (DP2AK) yang khusus menangani maslaah pembinaan dan pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Khusus untuk semester I dan II pelaksanaannya melalui kegiatan studium general dibantu dengan asisten yang khusus memberikan bimbingan pengalaman agama dalam kehidupan sehari-hari yang diarahkan pada pelaksanaan shalat yang tertib, benar dan terus-menerus dan pemahaman Al-Quran yang mendalam.
Di dalam mempelajari Agama Islam tidak hanya berorietasi pada intelektual saja, yaitu dengan menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan Agama Islam. Tetapi di dalam mempelajari Agama Islam di samping berorientasi pada intelektual juga berorientasi pada perubahan kelakuan (a change in binavior) sebagaimana definisi belajar menurut Ernest R. Hilgard :
Learning is the proces by which an astivity originates or is changed through training proceral (whether in the laboratory or in the naural environment) as distinguished from changes by factors not attributable to training. 

Artinya : Belajar adalah proses yang menghasilkan atau merubah suatu kegiatan melalui latihan (baik di dalam laboratorium atau di dalam lingkungan alamiah) yang dibedakan dari perubahan – perubahan oleh faktor-faktor yang tidak termasuk latihan.
Dalam definisi tersbeut dikatakan bahwa seseorang disebut belajar, apabila ia dapat melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukannya sebelum ia belajar, atau setelah ia melakukan kegiatan belajar harus ada perubahan kelakukan sebagai produk dari belajar tersebut. Kelakuan tersebut meliputi pengamatan, pengenalan, pengertian, perbuatan, perasaan, minat, penghargaan dan sikap.
Dalam hal iniproblem yang dihadapai dalam kegiatanya dengan produk belajar Al-Islam adalah apakah mereka yang telah mempelajari Agama Islam mesti terjadi perubahan di dalam melaksanakannya terutama perubahan dalam amaliyahnya, atau hanya sekedar menimba pengetahuan agma Islam. Sementara yang diharapkan adalah ilmu yang amaliyah dan amal yang ilmiah.
Dengan permasalahan tersebut di atas, penulis ingin mengetahui apakah mahasiswa yang telah mempelajari Agama Islam terjadi perubahan kelakuan terutama dalam amal bidahnya. Dan dalam keintanya dengan DP2AK, apakah mereka yang berprestasi tinggi kualitas amaliyanya juga tinggi/lebih baik atau malah mereka yang berprestasi tinggi kualitas amaliyahnya lebih rendah. Dan apakah mereka yang berprestasi rendah kualitas amaliyahnya juga rendah atau sebaliknya.
Sehubungan dengan produk belajar Al-Islam dalam permasalahan di atas, maka penulis akan meneliti tentang pengaruh prestasi belajar Al-Islam terhadap pengalaman ajaran Islam pada mahasiswa Fakultas psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta semester II tahun akademi 18985/1986.

B.      Penjelasan Judul
Agar mempeorleh gambaran yang jelas tentang judul risalah yang penulis ajukan, yaitu : “pengaruh Prestasi Belajar Al-Islam Terhadap Pengamalan Ajaran Islam Pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Semster II Thun Akademik 1985/1986.”
Maka menulis akan memberikan penjelasan mengenai istilah-istilah di dalam judul risalah tersebut :
1.       Pengaruh
Pengaruh adalah : “ daya yang atau yang timbul dari suatu yang berkuasa atau yang berkekuatan.Jadi kata pengaruh adalah daya atau kekuatan pihak hubungan yang sangat erat dengan pihak lain, dan hubungan tersbeut merupakan sebab akibat.
2.       Prestasi Belajar Al-Islam
Prestasi adalah hasil yang dicapai setelah mahasiswa mendapatkan mata kuliah Al-Islam selama satu semester, yaitu semester II.
3.       Pengamalan Sejarah Islam
Pengamalan adalah pelaksanaan dari perbuatan-perbuatan yang diajarkan di dalam agama islam. Karena pada semester II pokok bahasanya adalah masalah shalat, maka yang dimaksudkan pengalaman ajaran islam di sini adalah pelaksanaan shalat yang berkenaan dengan kebenaran bacaan dan gerakan dalam melaksanakan shalat wajib maupun tathawu’. 

C.      Alasan Pemilihan Judul
Dalam sebuah karangan ilmiah di tuntut adanya alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan, serta berpegang pada prinsip-prinsip yang kuat dalam pemilihan judul tersbeut.prinsip-prinsip tersbeut akan memberikan motivasi untuk meneliti lebih teliti dan sistematis. Dengan demikian pokok-pokok masalah yang terkandung di dalamnya akan jelas dan konkrit.
Adapun alasan yang mendorong penulis untuk memilih judul tersbeut adalah :
1.       Sesuai dengan tujuan pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, yang berbunyi sebagian berikut :
“Membentuk Sarjana Psikologi muslim yang susila bermoral luhur dan berjiwa mengamalkan dan mengamankan Pancasila dan Undang-Undang dasar 1945.
2.       Untuk menunjang tercapainya tujuan tersbeut ada mata kuliah Al-Islam yang dikelola oleh departemen Pembinaan dan pengembangan AL-Islam dan Kemuhammadiyahan, yang pelaksanaannya untuk semester II melalui studium general dan kegiatan asistensi.
3.       Kegiatan asistensi, khususnya memeberikan bimbingan tentang pengalaman ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari yang diarahkan pada pelaksanaan yang  tertib, benar dan terus-menerus, dan pemahaman Al-Quran yang mendalam.
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Al-Qur’an dan Terjemahannya.Departemen Agama Republik Indonesia. Jakarta: proyek pengadaan kitab suci Al-Qur’an Departemen Agama R.I. 1983/1984.

Abd. bin Nuh, Oemar Bakry. Kamus Indonesia – Arab – Inggris. Jakarta: Mutaiara, t.th.

Al-Jasu’y Abu Lois Ma’luf. Al-Munjid. Beirut : A;-Moth’atul Katsulikiyah. t. th

Hasbi Ash Siddieqy, TM. Al-Islam. Djil. I. Jakarta : Bulan bintang, 1997.

Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Pedoman Pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Surakarta : Univeristas Muhammadiyah Surakarta, 1984.

Mas’ud Khasan Abdul Qohar, et.al. Kamus istilah pengetahuan popular. T.t. Bintang pelajar, t.th.

Mohammad Ali, Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa, 1984.

Muslih B.Ph. Etika dan Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia.t.th: t.p. 1978

Nasution,s. Asas-asas Mengajar. Bandung: Jemmars,1982

Pasaribu, I.L Simandjuntak,B. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito, 1982

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, SK Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 35/PP/1975 tentang Qoidah Perguruan Tinggi Muhammadiyah Bab II Pasal 3 ayat 1.

Pusat Bimbingan dan Konseling, Beberapa Usaha Mengefektifkan Cara Belajar Di Perguruan Tinggi. Surakarta: Universitas Muhmmadiyah Surakarta, 1984.

Senapiah Faisal, Dasar dan Teknik Menyusun Angket. Surabaya: Usaha nasional, 1981.

Silvita Is. Kamus Populair. Surabaya: Jaya Agung.

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.  Jakarta: Bina Aksara, 1983

Sutrisno Hadi, Metodologi Research, DjiliI dan II, Yogyakarta : Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, 1986

________, Bimbingan Menulis Skripsi – Thesis, Djil. I dan II. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, 1986.

________, Statistik. Djil. II. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, 1986.

Universtias Muhammadiyah Surakarta. Dies Natalis ke 27 1958-1985 Universitas Muhammadiyah Surakarta 5 tahun Terakhir. Surkarta: Djagalabilawa, 1985.

Winarno Surakhmad, Metodologi Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars. T.th

________, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar metoda Teknik. Bandung: Tarsito, 1985

Zuhairini,et.al. Metodik Khusus Pendidikan Agmaa. Surabaya: Usaha Nasional, 1983.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700